
Netra kelam itu mulai terbuka, merasakan kulit pipinya ditepuk beberapa kali sehingga menyebabkan sakit yang terasa nyata, ini bukan mimpi. Zian membawa tubuhnya bangun, meski sedikit sakit pada leher belakangnya, Zian memaksa untuk mengenali sekitar, kejadian kemarin malam bagai angin lalu yang gampang terlupakan, tetapi masih ada sisa sedikit puing-puing ingatan memenuhi rongga kepalanya.
Ditatapnya Rangga yang tengah menatapnya heran, bagaimana tidak, semalaman Zian pingsan dan baru bangun sekarang di saat jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi menuju siang. Di samping Rangga, berdiri nyokap sahabatnya yang sedang gigitin kuku, terlihat panik kalau kata Zian. Baru Zian sadar, dia masih ada di posisi awal pingsan, gak ada niatan pindahin Zian ke kamar apa, pegel tuh badan dengan kondisi setengah rebahan di sofa.
"Ini diminum dulu," Lisa (nyokap Rangga) menyodorkan segelas air ke arah Zian, wajahnya masih terlihat panik tapi gak sepanik tadi, kini sudah lebih agak tenang. Zian iya-iya aja waktu disodorin dan bergegas meminumnya dalam sekali tegukan.
"Kamu kenapa bisa pingsan?" tanya Lisa setelah keadaan mulai membaik. Bukannya menjawab, Zian malah beralih menatap Rangga yang saat ini tengah memasang wajah polos, melototkan matanya seolah bertanya 'kenapa lo natap gue?'
"Aku gak ingat, Tante. Semua terjadi secara tiba-tiba," ucap Zian dibarengi kekehan pelan. Lisa menghela nafas pelan.
"Ya sudah, kamu lanjut istirahat saja ya, kalo mau sarapan minta Rangga ambilin. Tante mau ke Kantor sekarang, baik-baik di rumah, anggap aja rumah Tante ya," Lisa melenggang pergi meninggalkan dua sejoli berjenis kelamin sama itu di dalam rumah. Ini yang Zian sukai dari nyokap Zian, gak pernah pilih-pilih untuk menumpahkan rasa kasih sayang, bahkan buat yang bukan anak kandungnya saja dia sesayang itu. Walaupun Tante Lisa agak bobrok dikit dan dia kalau ngomong asal ceplas-ceplos gak pakai rem, tetapi beliau tau cara membahagiakan orang di sekitarnya. Rangga beruntung punya Mama seperti Tante Lisa, ya untuk Zian juga, dia beruntung memiliki Bunda Riana.
"Apa lo? Mau diambilin sarapan seperti yang Mama gue bilang?" Rangga melemparkan tatapan tajam saat Zian natap dia sambil memelas.
"Kedua tangan sama kaki sehat kan? Gak buntung kan? Jadi, manfaatkanlah selagi ada," Rangga beranjak pergi, hari ini dia mau latihan futsal tentu saja Zian ikut, tapi gak tau untuk hari ini, mungkin Zian akan absen untuk satu hari ini saja.
.
Rangga sudah siap dengan outfit futsalnya sambil menenteng sepatu di tangan kiri, sebelum keluar rumah Rangga ngaca dulu ganteng apa belum, soalnya di tempat futsal biasanya banyak cewek-cewek yang ikut nonton, siapa tau ada yang nyantol sama ketampanan Rangga. Rini di pinggirin dulu, kalo kata Rangga mah gitu.
"Astaga dragon, demi neptunus lo ngapain berdiri depan pintu gue?" Rangga mengelus dada karena kelakuan Zian.
"Lo mau kemana rapi-rapi begini?" Zian nelisik dari atas sampai bawah outfit Rangga, sebenarnya Zian tau baju yang dipakai sobatnya itu baju khusus futsal karena Zian juga punya satu di rumah, tapi untuk basa-basi doang jadi nanya nya agak stres dikit.
"Lo gak lihat pakaian gue? Wah kayaknya mata lo minta dicolok besi paku deh," geram Rangga, mendorong tubuh Zian sedikit agar menjauh dari jalannya.
"Jadi lo ninggalin gue sendirian di sini?" Lagi-lagi Zian mengeluarkan jurus andalan, yakni memelas dengan bahu yang merosot ke bawah, kelihatan terpaksa sekali, pengen Rangga tampol sampai pingsan kayak kemarin, jijik Rangga tuh lihat Zian yang abnormal kayak gini, padahal di sekolah image dia tuh cool, berkarisma, tegas dan macam-macam lagi lah julukan untuk Zian dari para penggemarnya.
"Najis banget gue lihat lo kayak gitu. Kalo mau ikut tinggal ikut saja susah amat, padahal lo juga salah satu anggota, malah lo kaptennya," tutur Rangga dengan muka sinis.
"Tapi lo udah mendingan kan?" tanya Rangga, terdengar agak khawatir, tapi bukan khawatir untuk Zian, tetapi Rangga khawatir Zian pingsan saat latihan nanti, siapa yang susah? Rangga juga yang harus bawa manusia satu ini pulang, dan latihan akan ditunda.
"Ngerepotin aja lo. Mau pulang ganti baju atau pakai yang itu?" tanya Rangga sambil nunjuk outfit Zian yang gak pernah ganti dari kemarin, mandi pun gak pernah. Zian mikir sebentar, sebelum akhirnya ngangguk mantap, sudah lama gak latihan futsal.
.
Rangga nyetir mobil Zian dengan khidmat tanpa berniat diganggu, kadang heran juga sama manusia yang duduk santai di sampingnya yang lagi hitung pohon di pinggir jalan, kenapa gak dia aja yang nyetir sendiri, yang punya mobil juga dia sendiri.
"Buru sono ganti baju, gue tunggu 2 menit," Rangga mengetuk jam tangannya, mengingatkan pada Zian bahwa waktu adalah emas, jadi jangan disia-siakan.
"Buset, apaan dua menit. Gue mandi dulu lah terus makan, nonton TV sebentar, baru kita berangkat," ucap Zian dengan nada protes.
"Ya udah gue tinggal, susah amat."
"Iya-iya, bawel banget lo," Zian turun mobil dengan terpaksa, menutup pintu mobil sedikit kencang sehingga Rangga terperanjat karena dia belum siap dikagetin.
Sekitar 7 menit Rangga nunggu dalem mobil, tiba-tiba kaca bagian depan diketuk membuatnya mau tak mau menoleh.
"Nak Rangga, tolongin Zian pingsan di kamar mandi," ucap Riana dengan raut panik, Rangga melotot kaget.
"Hah? Pingsan lagi, tante?"
"Lah, emang Zian sebelumnya udah pingsan?"
"Ehm, i-itu nanti saja tante, kita angkut Zian dulu," buru-buru Rangga berlari ke dalam rumah diikuti Riana di belakang yang kelewat panik karena tau Zian tenyata sudah pingsan dua kali, atau mungkin tiga kali nanti.
Setelah membopong Zian ke ranjang, Riana buru-buru ngambil kompres air hangat karena tiba-tiba saja tubuh Zian demam, Rangga sendiri bingung mau ngapain, sudah terlanjur berada di sini jadi dia terpaksa membatalkan kegiatannya untuk hari ini, gak mungkin kan Rangga pergi dalam keadaan begini yah meski Riana sendiri gak bakal ngelarang, tapi rasanya gak sopan aja gitu.
Rangga duduk di tepi ranjang, menatap Zian yang tengah terpejam.
"Nyusahin banget sih lo, untung lo sahabat gue, kalo nggak udah gue cekik dari kemarin," gumam Rangga setelah Riana keluar kamar mau angkat jemuran, mana berani Rangga confes kayak gitu di dekat beliau, sudah dipastikan Rangga akan dimutilasi oleh Riana.