
Arin mengotak-atik rak buku nya, tiba-tiba saja dia teringat tugas khusus liburan dari sang guru dua minggu kemarin yakni merangkum semua materi dari semester satu sampai semester dua belum ia kerjakan, padahal tinggal satu minggu lagi sekolah akan dimulai.
Helaan nafas lega membuat Arin tak lagi berpikir macam-macam, sejak awal dia sudah menduga bahwa Rini lah yang meminjam buku paket Ekonomi nya, ternyata salah. Masih ada pada tempatnya.
Arin segera membawa perlengkapan menulisnya ke meja belajar, masalah merangkum Arin nomor satu, jadi jangan heran jika dalam beberapa menit saja dia sudah selesai.
Tapi sepertinya, skill merangkum Arin tidak berlaku untuk saat ini, otaknya kurang fokus dan Arin lebih banyak menghabiskan lembaran buku untuk bahan coretan abstrak. Arin memejamkan matanya berulang kali, bukan karena dia ngantuk hanya saja pikirannya dipenuhi oleh seseorang yang selama ini dia bantah akan kehadirannya.
"Fokus Arin, fokus!!" Arin menekan pergelangan tangannya yang terasa berdenyut. Perempuan dengan tubuh semampai itu mengambil posisi rebahan di atas ranjang setelah bosan melihat rentetan tulisan dalam buku paketnya.
Pintu kamarnya tiba-tiba dibuka, kebetulan tidak ia kunci jadi mudah bagi siapa pun untuk masuk, bahkan maling sekalipun dengan senang hati terobos masuk tanpa bobol jendela dulu.
"Kenapa, Ma?" Arin segera bangun saat melihat eksistensi Rima yang kini sudah berdiri di ambang pintu, menatap Arin sekilas kemudian lanjut menerawang sekitar, tingkah laku Rima lebih mirip dukun yang sedang bertugas mengusir setan. Alis Arin mengkerut sempurna, menatap gerak-gerik sang Mama yang sedikit membuatnya takut dan bingung.
Setelah bertukar pandang selama beberapa menit, Rima kembali menutup pintu kamar Arin dan bergegas pergi ke kamarnya. Arin bengong di tempat, memproses apa yang baru saja dilihatnya. Mungkin Rima hanya ingin memeriksa apakah Arin sudah tidur atau belum, begitulah pemikiran Arin yang tak ingin ambil pusing dengan hal tadi.
Kembali pada renungan awal, Arin lanjut merebahkan tubuhnya ke kasur, pikirannya jauh menerawang sambil netranya fokus menatap langit-langit kamar. 'Zian kambuh lagi', tiga kata yang sukses menyita fokus Arin akhir-akhir ini, padahal ia sudah membantah keras untuk tidak menaruh rasa pada pemuda dengan status sudah punya pacar itu, bahkan kekasihnya sendiri yang mendatangi Arin langsung ke rumahnya. Mengingat momen itu membuat Arin geli sekaligus geram, semurah itukah kedudukan Arin sebagai seorang perebut pacar orang?
Sampai sekitar satu jam-an Arin melamun dan gak bisa diam, gerak rusuh di atas tempat tidur, guling-guling gak jelas hampir saja dia jatuh karena perilakunya sendiri. Tanpa sadar, Arin langsung terlelap dalam keadaan otak masih belum stabil.
.
"Zian sudah bisa pulang, tapi ingat untuk datang konsultasi dengan rutin sesuai jadwal. Dan satu lagi, jangan konsumsi minuman alkohol lagi," pesan dokter Andre usai memeriksa keadaan Zian yang kian membaik, nyindir dikit gak ngaruh. Riana mengangguk antusias sembari menyenggol bahu putranya agar tidak kelepasan kalo banyak masalah larinya ke minuman keras. Zian menunduk malu, tersenyum simpul dan sontak mengangguk paham, meski itu tidak menjamin Zian dapat berhenti atau tidak, bisa jadi karena bisikan setan Zian kembali lagi pada jalan yang salah.
Riana memapah tubuh Zian turun dari brankar, sementara Arif membereskan baju-baju kotor Zian yang lumayan banyak karena tiap hari atau bahkan tiap jam selalu ganti pakaian. Nambah bahan cucian saja.
Tetapi, aksi tahan menahan tak sampai berjam-jam, Zian semakin resah dan rasa sakit pada dada kirinya kian membuncah sehingga membuat Zian selalu bergerak tak nyaman dalam mobil. Kala manik kelam sang Ibunda melihat dari kaca spion tengah, Zian berusaha bersikap biasa saja sambil melihat pohon di tepi jalan, hal itu terus berlanjut sampai Riana sadar akan pergerakan aneh dari putranya.
"Kamu baik-baik saja, sayang?" Riana balik badan, natap serius anaknya. Zian mengangguk dengan ekspresi tertahan. Tangannya ia sembunyikan di balik sweater yang ia kenakan sambil meremas dadanya sendiri agar rasa sakitnya sedikit mereda.
Riana menghela nafas pelan sebelum berbalik ke depan, Arif dari samping hanya bisa tersenyum, bohong jika dia tidak khawatir dengan kondisi putra tirinya.
Singkat cerita, mereka bertiga sudah tiba depan rumah. Riana buru-buru turun untuk memapah Zian turun dari mobil, padahal kalo masalah jalan Zian bisa sendiri, yang sakit jantung bukan kaki. Tapi, ya sudahlah. Namanya juga seorang Ibu, gak ketulung rasa khawatirnya.
"Biar aku aja yang mapah Zian," usul Arif sambil menahan lengan Riana, dikarenakan tubuh istrinya yang mungil, kelihatan lucu jika dia yang nuntun Zian yang tubuhnya lumayan tinggi darinya. Riana iya-iya saja seraya memberi alih pada sang suami, sementara ia sendiri membawa baju-baju kotor dalam bagasi mobil.
"Mau langsung ke kamar atau di sini saja?" tanya Arif pada Zian.
"Di sini saja paman, lagipula aku bisa jalan sendiri," Zian melepaskan pegangannya pada pundak Arif dan mendudukkan dirinya di atas sofa, selonjoran kaki dan menaruh bantal di dadanya.
"Inget, besok kamu harus konsultasi," pesan Riana yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping meja. Zian mendongak kemudian mengangguk samar, males banget harus bolak-balik ke rumah sakit.
"Bunda yang anter kamu besok, jangan pergi sendiri," setelah berucap seperti itu, Riana berlalu pergi menyisakan Zian dan Arif dalam keheningan.
"Kamu mau makan apa, biar Ayah buatkan?" tanya Arif tiba-tiba memulai topik, suasana hening sangat tidak menyenangkan. Zian melirik Arif sekilas lalu menggeleng tanda ia menolak tawaran Arif.
"Ya sudah, Ayah ke atas dulu, jika butuh sesuatu panggil saja," Arif mengusap surai legam Zian lembut yang dibalas anggukan kepala oleh sang empu. Arif tersenyum simpul lalu pergi ke kamarnya di lantai dua. Ada sedikit sesak di dada mengetahui fakta bahwa Zian masih belum menerimanya sebagai sosok Ayah di sampingnya, perlakuan Zian masih sama tiap harinya. Jujur saja, Arif ingin dipanggil Ayah oleh Zian, gak apa-apa kalo cuma sekali seumur hidup yang penting ucapan itu keluar sendiri dari belah bibir tipis pemuda tersebut.
"Semua butuh proses, tapi ini sudah terlalu lama bagiku, bahkan sudah masuk hitungan tahun," Arif membuang nafas kasar, melanjutkan langkah beratnya menuju kamar.