Selfish

Selfish
Selfish : 19



Arin memandang nanar ke arah Zian yang tengah berlari mengelilingi lapangan basket sambil diawasi guru kedisiplinan. Siswa yang memang jadwalnya latihan basket hari ini terpaksa ditunda dulu. Arin menunduk, rasa bersalah mulai memenuhi hatinya. Tatapan sinis Arin dapatkan dari sekumpulan siswi perempuan yang sebagian besar adalah fans berat Zian. Mereka tau Arin lah penyebab Zian dihukum sampai keliling lapangan seperti itu, Zian yang notabennya adalah murid teladan dan disiplin serta pintar dan berprestasi itu baru kali ini dihukum dan disaksikan oleh seluruh siswa dan juga guru karena penasaran tumben sekali murid seperti Zian mendapat hukuman.


"Jangan salahin diri lo sendiri, ini bukan kemauan lo juga kan?" Rini menepuk bahu Arin, pandangannya masih tertuju pada objek yang berlari bermandikan keringat di tengah lapangan basket. Arin terdiam, memang benar dia tidak salah di sini salahkan orang jahat yang sudah tega mengambil dasi dan topinya dalam tas, jika tidal berulah seperti itu kejadian ini tidak akan terjadi.


"Mending lo beliin kak Zian minum, itung-itung sebagai rasa terima kasih dan maaf lo untuk dia," Rini ngasih saran yang bagus bisa dicoba pikir Arin. Arin segera mengangguk lalu melesat ke kantin untuk membeli air mineral sementara hukuman Zian berakhir.


"Ehh ada Nona beban di sini." Arin menoleh karena mendengar suara yang tidak asing di telinga. Nayla and the genk berjalan slay menghampiri Arin yang masih nunggu kembalian padahal uang pas di depan warung Buk Minah.


Arin tentu saja tidak mau meladeni monyet jadi-jadian itu, dia lebih memilih cuek dan pergi begitu saja, tak lupa ala-ala drama Korea yang sering dia tonton, Arin menyenggol bahu Nayla dengan keras agar dia berteriak seperti orang kesetanan. Arin menpercepat langkahnya menuju sisi lapangan basket menemui Rini di sana.


"Udah selesai?" tanya Arin dengan nafas ngos-ngosan seperti habis lomba lari maraton antar negara. Rini mengangguk dan menunjuk arah lapangan, di sana sudah berkumpul banyak siswi yang berebut memberikan Zian air minum. Arin berdecak kesal, mana bisa dia nyempil di antara puluhan siswi genit itu. Hilang sudah harapan dia untuk menyampaikan kata maaf dan terima kasih tentunya. Namun sepertinya takdir baik berpihak padanya. Saat hendak membuang air mineral itu ke tong sampah, tangannya tiba-tiba ditahan oleh seseorang, Arin mendongak dan mendapati Zian yang tengah tersenyum sangat manis ke arahnya, senyumnya bisa membuat nenek author meleleh, canda.


"Buat gue kan?" Tanpa menunggu jawaban basa-basi dari Arin, Zian meneguk sebotol air itu sampai tersisa setengah, dan sisanya itu dia tumpahkan di atas kepalanya lalu mengibaskan rambutnya kayak aktor drama sehabis olahraga. Teriakan siswi gatal itu memenuhi telinga Arin, mereka sepertinya terpana akan ketampanan Zian walaupun dalam keadaan berkeringat seperti itu dia masih terlihat tampan, nikmat mana yang kamu dustakan.


Arin menatap sinis pada siswi yang berteriak seperti isi hutan itu, tapi jujur dia juga terpesona dengan tingkah Zian tadi.


"Thanks," ucap Zian lalu mengusak lembut pucuk kepala Arin. Lagi dan lagi jantungnya tidak aman, detaknya pun tak normal. 'Ini gue punya penyakit jantung ya?'


"Gue duluan ya, see you." Zian berlari menuju kelasnya, aksinya itu pun tak lepas dari pandangan semua siswi yang haus akan senyuman Zian. Arin memegang dadanya yang bergetar tak karuan, Rini menyenggol bahu Arin seraya menaik turunkan alisnya menggoda temannya itu.


"Ciee, baper gak tuh?"


"Bacot lo, biasa aja kali." Karena saking terpesonanya, Arin sampai lupa mengucapkan kalimat maaf dan terima kasihnya pada Zian.


"Astaga, gue lupa kalimat gue," Arin menutup mulutnya.


"Bisa nanti, kak Zian gak bakal ditelan bumi," Rini terkekeh kemudian menggandeng lengan Arin menuju kelas mereka karena Kepala Sekolah sudah kehabisan bacot memerintahkan semua siswa masuk kelas lewat speaker.


Pelajaran pertama dan kedua usai, saatnya bagi semua siswa mengisi perut kosong mereka di kantin, kecuali Arin masih berdiam diri bergelut dengan pikirannya.


"Arin temenin gue bayar utang di Ibu kantin yuk," Rini menarik tangan Arin yang dia gunakan untuk memangku dagunya, hampir saja kepala Arin mencium meja. Rini cengegesan begitu mendapat tatapan kesal dari Arin.


"Siapa tau nanti lo ketemu kak Zian di kantin dan bisa ngomong langsung." Untuk kedua kalinya Arin kembali mengiyakan saran Rini. Keduanya mulai menyusuri koridor, jarak kelas mereka dari kantin terbilang cukup jauh.


"Sudah ketemu kak Zian?" tanya Rini yang sudah selesai membayar hutangnya tadi pagi. Arin menggeleng lemas.


"Mau cari ke kelas nya?"


"Gila lo. Gak, gak. Ogah gue, emang gue cewe apaan cari cowok ke kelasnya. Gak ya, itu gak ada dalam kamus gue, lagian gue masih punya harga diri kali," ocehan Arin membuat Rini mengernyitkan dahi.


"Ehh Zubaedah-- astaga Zubaedah nama emak gue, oke ganti. Ehh Marpuah, lo datang ke kelasnya bukan mau genitin dia tapi lo cuma mau minta maaf doang gimana sih."


"Tetep aja gue gak mau," Arin masih keras kepala.


"Terserah lo deh, tapi coba lo pikir, kak Zian lari 40 kali keliling lapangan demi lo biar gak dihukum, dan sekarang tumben dia gak ke kantin biasanya paling awal sampai, jangan-jangan dia pingsan terus dibawa ke UKS?" Perkataan Rini membuat Arin overthinking, iya juga. Zian bukan tipe orang yang suka olahraga, kerjaan dia mah di ruang rapat osis mulu.


"Lo jangan bikin gue semakin ngerasa bersalah deh," ketus Arin.


"Nggak, gue cuma menyampaikan opini gue doang. Mending lo samperin gih siapa tau ucapan gue benar-benar terjadi." Arin kalang kabut, sampai terjadi perang batin. Samperin atau nggak? Tapi nanti dikira cewe murahan suka samperin cowo duluan, kalo gak disamperin dia akan dijuluki perempuan tak tau balas budi.


"Bodo amat apa kata orang," Arin berlari menuju lantai dua karena di sanalah kelas Zian. Rini menyemangati Arin yang berlari seperti mengejar kancil yang mencuri mentimun.


......................


"Lo apa-apaan sih?, udah tau lemah sok-sok an lari 40 kali," Rangga membantu Zian tiduran di ranjang UKS. Tadi saat masuk kelas Zian langsung tepar di lantai membuat teman laknatnya itu berbondong-bondong membawanya menuju UKS. Gak pingsan cuma kehabisan tenaga doang.


"Berisik banget lo, mending kalian tolongin kipasin gue, gerah banget," sahut Zian.


"Makanya kalo mau terlihat hebat di depan cewek itu harus dipikir-pikir dulu kejadian kedepannya gimana biar gak kayak gini nih," Rafi yang belakangan dateng langsung nimbrung.


"Kalian mending keluar aja deh, bikin kepala gue makin muter denger ocehan gak jelas kalian," Zian memegangi kepalanya. Rafi dan Rangga saling tatap dan mengangguk satu sama lain.


Sorry slow update🙏😭. Otak Author lagi diservis makanya ceritanya ngawur hehe...