Selfish

Selfish
Selfish : 18



Ahhh tidak, muka Arin tidak berhenti bersemu merah, Hendri sampai bingung dibuatnya. Ditempelkannya telapak tangannya ke kening Arin siapa tau tuh anak demam.


"Papa kenapa?" tanya Arin seraya menyingkirkan tangan sang Papa.


"Kamu yang kenapa? Dari tadi senyum-senyum sendiri, terus itu muka kamu merah kayak tomat, sakit?"


Arin melotot kaget, ternyata sedari tadi Papa memperhatikan tingkah nya yang kelewat aneh ini. Arin merenggut kesal, ini semua salah Dion keluar rumah sembarangan, minimal pake baju lah.


Arin berjalan santai di koridor sekolah menuju kelas nya yang letaknya paling ujung. Sampai di kelas, suasananya masih sepi belum banyak murid yang datang.


"Rini, tumben lo cepet dateng?" Arin sudah lumayan akrab sama Rini jadi bisa lah saling sapa.


"Lo kan tau hari ini upacara jadi gue takut telat," sahut Rini, tangannya terus mengotak atik ponselnya kadang sesekali melakukan selfi untuk mengabadikan momen, Rini dikenal paling narsis di sekolah setelah Nayla yang gak bisa gak update setiap satu jam. Arin mengangguk angguk mengiyakan, benar juga siapa sih yang mau dihukum di tengah lapangan basket saat upacara, gak kebayang sih malu nya, Arin aja ogah.


"Arin, kantin yok. Lima belas menit lagi bel, masih lama," ajak Rini seraya merapikan tas nya dan meletakkan dalam kolong meja.


"Tapi,, gue udah sarapan," tolak nya pelan.


"Temenin gue makan sebentar buat ngisi perut, tadi gak sempet sarapan gara-gara datang ke sekolah pagi begini, ntar kalo gue pingsan di lapangan gimana? Lo mau tanggung jawab?" Rini memegangi perutnya yang kosong sambil ngedrama mau pingsan. Arin berdecak kesal tapi mengiyakan ajakan Rini. Rini tersenyum sumringah, setidaknya dia tidak nyangkut di kantin sendirian.


Sementara Rini sarapan, Arin memilih untuk memainkan ponselnya saja daripada gabut.


"Yakin nih lo gak mau makan sama gue? Gue pesen banyak loh." Arin menggeleng dan menatap makanan yang dipesan Rini, memang banyak untuk ukuran badan Rini yang kurus, emang perutnya muat yah?


"Cepet makan, lima menit lagi bel!" Rini langsung buru-buru menyuapkan sesendok penuh nasi dengan lauk ke mulutnya sehingga pipinya ikut kembung karena overdosis makanan.


Selesai makan, Rini membereskan bekas makanannya.


"Bu, ngutang dulu ya nanti jam istirahat saya bayar," ucap Rini pada Ibu kantin. Arin menggeleng dengan tingkah Rini yang blak-blakan, sok sok an pesen banyak tau-taunya malah ngutang. Yang lebih lucunya lagi, tuh Ibu kantin iya-iya aja lagi diutangin sama Rini.


Saat hendak menuju kelas, bel berbunyi memekakkan telinga, kebetulan mereka berdiri di bawah bel tersebut makanya gendang telinga mereka hampir bergeser.


"Pas banget gue udah selesai makan. Kita langsung ke lapangan aja gak sih, tuh guru botak udah ngoceh gak jelas di mic bikin kepala gue pusing," Rini ngedumel lagi karena setelah bunyi bel ditambah suara Kepala sekolah yang menyusul.


"Atribut lo belum lengkap Mumun, lo mau berdiri di tengah lapangan basket?"


"Lah iya, tertinggal di tas," Rini berlari cepat meninggalkan Arin yang masih cengi di tempat.


Arin mengatur nafasnya setelah berada di ambang pintu, di dalam kelas dia mendapati Rini yang misuh-misuh gak jelas sambil membongkar isi tas nya sampai buku dan polpen dia keluarkan dari tas nya, sepertinya mencari sesuatu.


"Lo cari apaan sampai barang-barang lo lempar sana sini?" tanya Arin setelah sampai di dekat Rini, wajahnya terlihat gusar.


"Topi sama dasi gue hilang anjirr, gue yakin kok dari rumah sudah gue siapin," jawab Rini, dia masih belum menyerah membongkar isi tas nya padahal sudah kosong gak ada apa-apa lagi di dalam. Rini kini beralih pada buku-buku nya, siapa tau terlipat dalam lembaran buku tapi tetap saja tidak ada. Ini sedikit aneh, perasaan Arin jadi gak enak dia sesegera mungkin memeriksa tas nya juga siapa tau topi dan dasinya juga hilang. Dan.... yap. Benar saja, punya Arin juga hilang, bahkan bukunya ada yang sobek, pulpen nya ikutan hilang. Arin marah sekali, wajahnya memerah seperti kerasukan jin.


"Punya lo juga hilang?" tanya Rini lirih. Arin menatap netra keputus asaan temannya itu.


"Gue yakin pasti ada yang sengaja mengambilnya biar kita dihukum," ucap Arin penuh sangka.


"Padahal gue gak punya musuh sama sekali di sini kenapa harus gue yang kena?" Rini memijat pelipisnya pusing, dia paling anti sama yang namanya hukuman, begitu juga Arin sudah cukup dia masuk ruang BK jangan nambah persoalan lagi.


"Hey kalian berdua! Bel sudah berbunyi lima menit yang lalu, kenapa kalian masih bergosip di sini? Cepat keluar!" Rafi sedikit berteriak biar ada kesan galaknya padahal mah dia sendiri geli denger dirinya sok marah kayak gitu.


"Ba-baik Kak," sahut Rini sambil menarik lengan Arin untuk keluar.


"Kita terima resiko saja, gak ada gunannya juga marah-marah di kelas, tapi tetep saja gue masih gak terima sih," bisik Rini tepat di samping telinga Arin.


"Tapi gue gak mau dihukum."


"Dasi sama topi mana?" tanya Rafi dengan wajah datar.


"Hilang kak," jawab Rini. Rafi berdecak kesal.


"Ikut gue ke lapangan basket." Keduanya mengekor di belakang mengikuti langkah Rafi ke tengah lapangan basket.


Zian bertugas mengatur barisan, soalnya anak jaman sekarang susah diatur, makanya dibutuhkan pemimpin tegas dan bijak seperti Zian.


"Zian, pacar lo tuh gak bawa dasi sama topi," tegur Rafi setelah selesai dengan tugasnya.


"Siapa?" tanya Zian acuh.


"Ya siapa lagi kalo bukan adik kelas itu, siapa namanya ya gue lupa, Karim, Karin atau Kasim?, tau ah gue lupa," Rafi menggaruk tengkuknya.


"Arin, bego. Di mana dia sekarang?"


"Gue jemur noh tengah lapangan, siapa suruh gak bawa topi ama dasi," Rafi menunjuk ke arah dua perempuan yang berdiri di bawah ring. Zian mengumpati Rafi kemudian menonjoknya sebentar habis itu berlari menyusul Arin, sebelum itu Zian menyerahkan tugasnya pada Rafi untuk memeriksa siswa yang lain.


Arin memandangi ring basket yang tingginya kira-kira satu setengah meter itu, sengaja hadap belakang soalnya kalo hadap depan wajahnya bisa terekspose, dan seluruh orang akan menatap ke arahnya. Oh iya, Rini sudah dapat dasi sama topi dikasih oleh Rangga tadi kebetulan tuh anak sakit perut jadi gak bisa ikut Upacara, terpaksa harus ngurung diri di UKS. Awalnya Rini nolak karena gak enak sama Arin tapi Arin dengan tegas menyuruh Rini pakai saja, dia mah gak apa-apa ikhlas lahir batin, asal jangan masuk ruang BK lagi Arin sudah kapok.


"Pake!" Arin dikejutkan oleh Zian yang tiba-tiba saja menyerahkan topi dan dasinya ke Arin.


"Apa nih?"


"Nasi padang, lo gak liat yang gue sodorin ini apa?" Zian berteriak kesal.


"Ya gue tau, tapi alasan lo apa ngasih gue ini?"


"Biar lo gak dihukum. Hukuman kali ini bukan hanya dijemur tapi lari keliling lapangan basket 40 kali, lo kuat?" tanya Zian meremehkan.


"Ta-tapi ini dasi cowok."


"Yang penting lo pake topi sama dasi aja sudah cukup, tinggal lo lipat bawahnya. Buruan ambil, guru kedisiplinan akan memasuki lapangan sebentar lagi. Jika sudah selesai, segera masuk barisan!" perintahnya seraya mendorong tubuh Arin pelan.


"Terus lo gimana?"


"Udah, gue gak apa-apa. Gue kuat kok lari 40 kali putaran, gue kan lelaki," Zian menyombongkan diri seraya mengambil posisi barisan yang wueenakk dan nyaman.


Walaupun begitu Arin masih ragu, tetapi guru kedisiplinan mulai memeriksa barisan siswa, yang atributnya tidak lengkap harus menuju lapangan basket dan akan mendapat hukuman.