
Baru saja Zian hendak membaringkan tubuh Arin ke sofa, tiba-tiba sang empunya terbangun dan langsung pencak silat seperti sedang melawan musuh. Zian melongo sementara Rima menggeleng pelan, paham betul bagaimana kelakuan Arin jika tidurnya terganggu pasti akan bertingkah, ya seperti ini contohnya.
"Ciyatttt, hiyaa, hiyaa!!! Sini lawan gue!! Ciyattt!!"
"Arin, sudahlah!! Kamu gak malu dengan tingkah kamu itu, hah?" Rima berusaha menghentikan sebelum Zian menjadi gila karena sasaran Arin tertuju pada pemuda yang tengah berdiri mematung di tempat.
"Apa? Kenapa? Di mana?" Arin mengerjap beberapa kali setelah sadar dia ada di rumah dan ada Zian di hadapannya. Gak tau seberapa malunya Arin saat ini yang jelas dia tidak ingin menatap Zian yang sepertinya akan tertawa ngakak karena melihat tingkahnya.
"****!! Apa yang sudah gue lakukan?" Arin mengutuk diri sejadi-jadinya.
"Lanjut tidur di kamar saja, sorry ya gue bangunin lo. Tante, saya pamit undur diri dulu, ada yang harus saya urus juga, gue duluan ya Rin," usai pamitan, Zian tidak benar-benar pulang, suara deru mobilnya saja tidak terdengar membuat Arin penasaran, pelan-pelan dia mengintip dari balik gorden dan mobil Zian masih terparkir di depan rumah cuma orang nya aja yang hilang.
"Lah, tuh anak kemana? Mana mungkin dia pulang jalan kaki sedangkan mobilnya ada di sini, apa mungkin mobilnya mogok terus Zian pulang naik taxi? Atau mungkin mobil ini dia kasih ke gue, tapi gue gak ulang tahun bulan ini," Arin sibuk dengan teori gila nya, saking penasarannya Arin coba keluar rumah siapa tau Zian sembunyi di semak-semak.
Walaupun ragu untuk bertatap muka dengan Zian setelah apa yang terjadi tadi, Arin masih bertahan pada posisinya, berdiri depan pintu, kepalanya celingak-celinguk mencari sosok Zian, sampai di mana indar pendengarannya menangkap suara ribut dari rumah Dion, dan suara tersebut sudah tidak asing lagi di telinganya. Buru-buru Arin berlari menuju kediaman Dion, kendati masih ada perasaan kesal dalam dirinya atas perlakuan Dion tadi siang.
Arin terdiam, mulutnya terbuka lebar saat melihat Zian berdiri dengan kepalan tangan kuat dan Dion yang tergeletak di lantai, bibirnya mengeluarkan darah segar, dan di sisi kiri ada Agatha yang terus berteriak sambil menangis meminta Zian untuk berhenti karena semua nya adalah salah paham.
"Berhenti!!" teriak Arin sehingga mengundang atensi ketiganya, untung suara Arin gak sampai bangunin tetangga.
"Kalian ini apa-apaan?"
Setelah semuanya tenang, Arin minta salah satu di antara mereka untuk menjelaskan apa yang terjadi agar semuanya jelas.
"Dion, jelasin! Kenapa Zian sampai semarah itu?" Kali ini Arin bersikap tegas, tidak ada ikatan pertemanan atau apa pun jika Arin sudah serius seperti ini, semua sama saja di mata Arin. Dion masih terdiam menahan sakit pada sudut bibirnya yang tak henti mengeluarkan darah, pukula Zian gak main-main. Agatha di samping Dion mengompres luka nya dengan es batu.
"Dia salah paham," jawaban yang singkat padat dan jelas, Arin mendesah kesal.
"Iya gue tau Zian salah paham, tapi salah pahamnya masalah apa?" Arin ingin sedetail mungkin. Setelah merasa mendingan karena diobati ayang, Dion mulai menjelaskan akar permasalahannya sehingga Zian sampai mengaum layaknya singa yang kelaparan.
"Lagian ngapain lo bawa anak orang ke rumah, sedangkan di rumah lo gak ada siapa-siapa, masih untung Zian yang pergokin lo kalo warga gimana? Udah dibawa ke KUA kayaknya," walaupun terlihat kesal, namun ada rasa cemburu yang menyeruak dalam dirinya, segitu cintanya ya Dion sama Agatha.
"Agatha, pulang lo sama gue!!" Tanpa bisa menolak, Agatha meraih ransel nya di atas meja dan berpamitan pada Arin dan juga Dion tentunya, kata maaf mungkin gak akan cukup untuk membayar luka sobek pada bibir Dion. Padahal ini semua salah Agatha, dia sendiri yang mau mampir ke rumah Dion, padahal Dion ngajak dia makan siang di Resto yang baru buka, tapi namanya juga lagi dimabuk cinta, apa pun akan dilakukan Dion demi menyenangkan gadisnya.
Kini tersisa Arin dan Dion dalam rumah. Arin menatap Dion nanar, yang ditatap berusaha mengalihkan pandangan.
"Lo pantes dapetin itu semua, obati luka lo sendiri, gak usah manja," Arin mengeluarkan kotak P3K dari laci meja dan menaruhnya asal di depan Dion.
"Gak ada apa niatan lo buat bantuin gue?" Dion seolah enggan melirik kotak berwarna putih tersebut. Arin berdecak kesal, meskipun kesal tapi tangannya tetap bergerak meraih kotak P3K tadi dan mengeluarkan isi nya.
"Deketan napa, Rin. Apa gue semenjijikkan itu ya sampai lo enggan sentuh gue?" Dion sadar akan hal itu, tetapi salah mengartikan. Arin memejamkan matanya, lo gak tau aja gimana perasaan gue setelah tau lo seperti ini dengan perempuan lain, iya tau gue bukan siapa-siapa bagi lo, hanya teman yang dibutuhkan di saat genting, itu saja. Tapi bisakah lo ngerti, sekali saja kalo gue tuh cinta sama lo lebih dari lo cinta sama kak Agatha, dan sampai sekarang gue masih belum menemukan orang yang bisa hilangin lo dari hati gue, namun gue berharap orang itu gak akan datang karena walaupun sakit gue masih tetap nyaman nyimpen perasaan gue ke lo.
"Ehh? So-sorry," Arin segera membersihkan cairan betadine dengan tisu karena mulai mengalir perlahan ke bawah.
"Lo lamunin apaan sih?"
"Utang lo kapan bayar?"
"Hehe, besok-besok, santai pasti gue lunasin."
"Lupain, ambil aja gak perlu ganti."
"Kalo gitu gue boleh minjem lagi? Gue mau ngajak Agatha ke Mall, besok."
"Ngelunjak ya lo, nih makan tuh Mall," Arin menekan luka Dion sehingga membuat pemuda itu meringis kuat karena sakit yang dia rasakan sangat luar biasa.
"Gue bercanda, Arin. Cukup-cukup," Dion menahan tangan Arin, nafasnya ngos-ngosan. Dengan kasar, Arin menghempas tangan Dion dan hendak berlalu pergi.
"Lo mau kemana?"
"Afrika, ya pulang lah."
"Makan dulu gih, pasti lo laper."
"Tumben perhatian, tau aja lo gue laper, Mama juga belum masak," Arin kembali duduk dan menatap Dion penuh harap.
"Kenapa lo diem? Sana ambilin gue makanan? Tadi kan lo nawarin?" Arin sudah gak sabar.
"Emm, jadi begini. Lo boleh makan di sini asal lo masak dulu, bahan makanan ada di kulkas masih lengkap kok, jadi terserah lo mau masak apa," Dion menggigit bibirnya resah, takut Arin ngamuk lagi.
"******, gak ada akhlak lo emang, ogah gue."
"Aduhh, awww, sakit banget," Dion pura-pura kesakitan agar Arin mau membagi belas kasihnya walaupun sedikit pada Dion.
"Gak mempan, gue tau lo bohong."
"Ck, tolongin gue napa sekali doang."
"Ini udah dua kali ya gue nolongin lo." Arin mendengus kesal lalu pergi menuju dapur, Dion pun tersenyum senang, ciri-ciri manusia gak ada akhlak memang.