
Sinar matahari pagi sedikit menusuk sehingga membuat gadis yang terlelap berbalutkan selimut terganggu. Matanya perlahan terbuka, mengerjap pelan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Rupanya sudah pagi, bahkan ia tidak sadar berapa jam dia tidur, entah mengapa malam tadi terasa begitu cepat baginya sehingga ia tidak bisa tidur dengan puas.
Dengan terpaksa, gadis itu membawa tungkainya menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Sekolah? Oh tidak, rasanya malas sekali. Padahal minggu depan sudah mulai semester genap.
Di bawah aliran air shower, Arin terdiam sebentar, tangannya yang tadi bergerak kian terhenti karena otaknya tiba-tiba memikirkan pasal kemarin.
"Kok gue jadi galau begini sih, ya terserah dia mau punya pacar atau nggak kok gue yang repot. Arin, stop mikirin yang aneh-aneh." Arin buru-buru menyelesaikan ritual mandinya, karena gerbang tidak bisa menunggu lama untuk ditutup.
Kali ini, Arin lebih sering diantar atau dijemput oleh Rini, sekalian hemat waktu dan uang belanja tentunya, karena biasanya kalo Papa Arin gak bisa antar, terpaksa harus naik grab atau nggak ya angkot yang super lelet kalo jalan, masih mending angkot sih daripada delman.
Sambil sarapan, Arin menunggu kedatangan Rini yang entah kenapa lama sekali, padahal di chat sudah bilang otw, kebiasaan emang warga +62, bilangnya otw tapi masih di alam mimpi, gak heran lagi sih.
Bunyi klakson betty (nama motor beat Rini) mulai terdengar, Arin yang kenal betul siapa yang datang buru-buru berlari keluar sampai tidak mendengar panggilan Rima.
"Rini, ayo sarapan bareng!" teriak Arin dari ambang pintu, Rini menyembulkan kepalanya di gerbang sambil ngang ngong-ngang ngong kayak orang bego, karena memang dia pakai helm jadi gak denger terlalu jelas ucapan Arin. Terpaksa Arin harus pakai bahasa isyarat, Rini membulatkan bibirnya setelah paham kemudian menggeleng tanda menolak.
"Udah kenyang. Yok buru, sebelum telat," bales Rini dibalas acungan jempol oleh Arin.
"Ma, Arin berangkat sekarang ya, udah dijemput Rini di depan," ucap Arin lalu salim pada Rima sebelum minggat.
"Iya hati-hati, suruh Rini bawa motor pelan-pelan, kalo pasang lampu sen ke kiri jangan malah belok kanan, jangan muter di jalanan karena bisa mengganggu pengendara lain dan bahaya juga buat kalian berdua. Kasih tau Rini gak usah frestyle di tengah jalan," pesan Rima sementara Arin membereskan alat tulisannya.
"Mama ngawur banget, mana ada Rini kayak gitu, dia aja kalo bawa motor masih gemetar apalagi frestyle, kepental duluan yang ada," jawab Arin males.
"Ya kan siapa tau. Udah sana pergi!"
"Ngusir nih ceritanya? Nanti aku gak pulang-pulang, Mama juga yang panik cariin aku." Rima menghela nafas pelan, lantas mendorong Arin pergi segera karena kasihan Rini sampai remas dedaunan gara-gara Arin lama banget.
.
Mereka berdua sampai 5 menit sebelum bel berbunyi, tetapi gerbang sudah setengah ditutup.
"Gue kapok sumpah dateng terlambat," ucap Arin seraya merapikan rambutnya di spion.
"Makanya kalo dibangunin tuh jangan kebo," ledek Rini. Arin menggembungkan pipinya karena kesal.
"Dih najis, gak cocok lo sok imut begitu," Rini berekspresi seperti ingin muntah. Arin jadi makin kesal.
Tepat sebelum mereka masuk kelas, mobil Zian tampak memasuki area parkir, Arin berdecak malas kemudian buru-buru menarik lengan Rini untuk segera pergi dari parkiran. Susah payah Arin sembunyiin muka kesalnya agar Rini tidak sadar.
"Apa sih woy, main tarik-tarik aja, gue bukan tali gayung ya," tangan Arin terlepas karena Rini berontak.
"Lo duluan aja, gue mau ke kelas bang Bastian dulu, ada titipan soalnya dari Mama dia," ucap Rini sembari membuka jok betty.
"Gak bisa nanti?"
"Oke, gue duluan. Jangan lupa janji lo semalem." Rini mengerutkam dahi bingung.
"Janji apaan?"
"Udah sana buruan, keburu masuk kelas." Arin tak menjawab tetapi malah mendorong Rini segera pergi. Bisa-bisanya Rini lupa janjinya bakal kasih Arin contekan PR Bahasa Indonesia, kemarin gak sempat kerjain karena capek, jadi minta tolong sama Rini dan bagusnya malah diiyain.
"Arin!!" Suara yang begitu tidak asing memanggil namanya. Arin tidak menoleh sama sekali, ingin rasanya ia berlari sekencang-kencangnya tapi kakinya terasa berat banget diajak untuk sekedar melangkah saja. Perlahan suara langkah kaki yang terdengar seperti berlari menghampiri Arin, posisinya masih sama, tidak bergerak barang sedikitpun.
Arin mencoba memejamkan mata agar tidak bertatapan langsung dengan seseorang yang sekarang sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Lo kenapa tutup mata bego?"
'Eh?'
Arin perlahan membuka matanya dan mendapati Bastian yang tengah menatapnya penuh jenaka.
'Loh, bukan Zian ternyata. Tapi gue denger jelas banget kalo yang manggil tadi Zian, kenapa berubah jadi Bastian. Gak, gak, gak. Gue gak lagi halusinasi kan, masa iya gara-gara gue kesel sama Zian sampai ngira Bastian adalah dia.'
"Si anjir malah bengong. Lo kenapa sih?" tanya Bastian lagi, dia meras terabaikan.
"Oh, m-maaf kak," Arin tersenyum kikuk sementara Bastian terkekeh pelan.
"Rini mana?"
"Baru saja pergi ke kelas kakak buat anterin sarapan, katanya titipan Mama," jawab Arin sambil menyampirkan tas nya di pundak. Seketika ekspresi Bastian berubah, yang tadinya senang jadi murung sekaligus emosi. Arin menyadari perubahan itu, tangannya melambai di udara berusaha menyadarkan Bastian.
"Kenapa?"
"Nggak ada." Bastian melirik ke belakang, senyum smirk terlukis di wajahnya. Dengan sengaja Bastian memeluk Arin dari samping, kesannya kayak merangkul pundak Arin, jarak wajah mereka cukup dekat membuat Arin mau tak mau sedikit mundur.
"Ayo, gue anter ke kelas," ujar Bastian, suaranya sengaja dia kencengin biar orang di belakang denger.
Arin tak menjawab dan malah nurut aja, lagipula tujuan awal juga mau ke kelas. Mereka jalan beriringan menuju lantai dua di mana kelas Arin berada.
Zian menatap kepergian Arin dan Bastian yang kian menjauh dari pandangan. Zian tadi memang memanggil Arin untuk memyelesaikan masalah mereka yang belum kelar, tapi Bastian yang duluan berlari menghampiri Arin, terpaksa Zian mengurungkan niatnya.
.
Sekarang Arin lagi fokus menyalin PR dari Rini sebelum guru masuk. Untung tugasnya gak terlalu banyak yang ditulis jadi Arin bisa santai sedikit.
"Udah belum? Masih ada bagian yang belum selesai sih, coba sini gue tambahin dulu," Rini meraih bukunya dari hadapan Arin dan menulis sesuatu yang katanya kurang lengkap.
Arin bernafas lega karena sudah selesai menyalinnya, tak lupa ucapan terima kasih terlontar dari belah bibirnya. Tak lama kemudian guru mata pelajaran Bahasa Indonesia datang.