
Abraham terkejut setelah membaca pesan yang dikirim oleh Elamina dan ia langsung memerintahkan seluruh Swordman kembali ke dalam hutan untuk bersembunyi.
“Apakah kita akan menghadang mereka, apabila jumlah mereka cukup untuk kita hadapi?” Swordman Evankhell bertanya pada Abraham—selaku pimpinan Pasukan revolusioner.
“Jangan! Kita tunggu perintah dari Ratu Violet Celestine saja,” sahut Abraham menuju titik kumpul mereka.
Di titik kumpul yang mereka sepakati, Elamina telah menunggu bersama Archer lainnya yang wajah-wajah mereka tampak pucat karena mengetahui jumlah musuh yang sangat banyak. Kalau mereka ketahuan, maka tak ada harapan untuk bertahan hidup lagi.
“Bagaimana Elamina, apakah mereka berhasil melacak keberadaan kita?” tanya Abraham begitu berjumpa dengannya.
“Kita selamat tuan Abraham,” sahut Elamina. “Mereka hanya melacak sejauh satu mil saja dan memutuskan tetap melanjutkan perjalanan menuju kota Pagan, walaupun mengetahui kalau jalanan telah kita hancurkan. Mereka malah menghancurkan kereta kuda mereka dan hanya membawa kudanya saja serta membakar logistik yang tidak bisa dibawa.”
Abraham terkejut mendengarnya, berarti Pasukan Yakjud itu akan mati-matian mempertahankan kota Pagan dan ia yakin perang ini akan menentukan nasib kedua Kerajaan, siapa yang akan bertahan dan siapa yang akan dihapuskan dari peradaban.
“Baiklah semua persiapkan mental kalian, kita harus siap-siap kapanpun diperintahkan oleh Ratu Violet Celestine. Baik itu sebagai bala bantuan atau menyabotase tempat lain di wilayah Kerajaan Yakjud ini,” kata Abraham dengan tegas.
Para anggota Pasukan Revolusioner langsung menjawab setuju dan beberapa diantara mereka melakukan latihan atau simulasi perang—agar tidak terkejut bila diserang tiba-tiba.
***
Satu Kilometer dari benteng kota Pagan telah berdiri benteng 400.000 Pasukan Kerajaan Sirius yang dipimpin langsung oleh Ratu Violet Celestine dan Pangeran Regar Virmilion.
Regar menggunakan teropong militer peninggalan gurunya, Setiawan—Prajurit Kopassus yang terdampar di daratan Latinesia ini.
“Apa kita akan memulai perangnya?” tanya Violet ikut menatap kearah benteng kota Pagan.
“Sepertinya kita harus memancing mereka lebih dulu, karena tidak seperti biasanya Goblin sialan itu sangat sabar untuk tidak memulai serangan lebih dulu. Padahal mereka memiliki amarah yang menggebu-gebu,” keluh Regar.
Anso De Beleza tersenyum mendengar ucapan Regar dan iapun berkata, “Biarkan diriku saja yang memulai serangan agar kita menghemat amunisi dan Mana para Archer.”
Ucapannya itu memang benar, karena ia memiliki Mana yang tak terbatas—karena bisa menyerap Mana secara langsung tanpa harus bermeditasi lebih dulu.
“Lakukan yang terbaik!” sahut Regar dengan senyum hangat menatapnya, sehingga wajah Beleza memerah—karena merasa kekuatannya sangat dibutuhkan dalam perang ini dan mendapatkan pujian dari suami tercintanya itu.
Violet menatap kearah Regar sembari cemberut, karena ia tahu maksud dari Beleza itu. Sementara ia tidak memiliki kekuatan yang spesial—selain wajah yang cantik dan posisi Ratu yang diwariskan dari garis keturunannya saja.
Regar hanya bisa tersenyum masam, ternyata sulit juga untuk menyenangkan dua istri yang saling berkompetisi mengambil hatinya—untung saja ia tak pilih kasih, sehingga tidak terjadi pertengkaran diantara keduanya.
Anso De Beleza merapalkan sihir dan muncul manusia pohon dalam jumlah yang sangat banyak—muncul dari akar-akar pohon bakau, karena posisi kota Pagan terletak di dekat pantai Utara, Kerajaan Yakjud.