Prince Regar Virmilion

Prince Regar Virmilion
Makhluk Aneh



Regar memasuki ruang bawah tanah dengan menelusuri beberapa anak tangga. Prajurit yang mengikuti Regar membawa obor untuk penerangan. Namun, saat mereka melangkah di anak tangga terakhir; tiba-tiba sebuah cahaya muncul dan cahaya kembali muncul saat langkahnya makin masuk ke bagian paling dalam ruang bawah tanah—hingga akhirnya semua ruangan itu begitu terang.


“Apakah itu matahari kecil? Kenapa bisa mengeluarkan cahaya?” Regar kebingungan, begitu juga dengan bawahannya. Mereka bingung dan takjub.


Mata mereka fokus pada sumber cahaya di langit-langit ruang bawah tanah itu. Kemudian mereka sangat kaget dan menarik Pedang masing-masing, karena melihat makhluk aneh yang memenuhi ruang bawah tanah itu.


“Lindungi Pangeran!” seru Swordman Hefaistos lansung berdiri di hadapan Regar dan lima Swordman Rank SS juga ikut mengelilingi Regar. Mereka sangat panik dan mundur perlahan-lahan.



{sumber pinterest/ anggap saja gambar di atas yang dilihat oleh Pangeran Regar Virmilion dan bawahannya}


***


Makhluk dengan enam tangan, bersenjata pisau dan ekor mirip gergaji itu begitu menyeramkan di mata mereka.


Hefaistos dan yang lainnya lansung merubah tenaga dalam menjadi baju jirah besi yang menutupi tubuh mereka.


Sebagai komandan tinggi, ia harus rela mati demi mengeluarkan Pangeran Regar Virmilion dari ruang bawah tanah itu.


...... Saya akan buatkan contoh Swordman dalam mode tempur, agar pembaca bisa memvisualisasikan karakternya. Karakter dibawah ini berlaku juga untuk Archer, bedanya cuma ada tonjolan bagian depan dan memegang busur panah ......



“Tunggu dulu Hefaistos!” Regar memperhatikan makhluk aneh itu tidak bergerak, bahkan setelah keributan yang mereka buat. “Sepertinya mereka sudah mati,” kata Regar berjalan ke arah makhluk aneh itu, karena ia sangat penasaran.


Hefaistos mengekerutkan keningnya melihat tindakan Regar yang main seruduk saja ke depan. Padahal belum dikonfirmasi apakah makhluk aneh itu mati atau belum—bisa saja sedang berhibernasi.


Seharusnya sebagai pimpinan tertinggi, Regar memerintahkan anak buahnya berpangkat rendah yang memeriksa—kalau terjadi serangan mendadak, militer tidak akan mendapatkan kerugian besar; berbeda dengan berpangkat tinggi, itu sama saja mereka kehilangan 1000 Swordman Rank rendah, jika dibandingkan dengan satu Rank Platinum saja.


“Biarkan Aku yang memeriksa Pangeran!” Hefaistos melesat cepat melewati Regar yang berjalan menghampiri makhluk aneh itu. “Aku tidak boleh membiarkan Pangeran terbunuh,” gumamnya menyentuh salah satu makhluk aneh itu. Namun, tak ada reaksi apapun—Hefaistos bingung, ternyata makhluk itu terbuat dari besi, apakah ini semacam Patung karya seni atau Patung Dewa masa lampau Kerajaan Sirius. Itu masih misteri di pikiran Hefaistos.


Regar juga menyentuh makhluk aneh itu. Dia lebih berpikir realistis daripada bawahannya. Dia justru menebak, mahluk aneh ini adalah senjata rahasia. Apalagi dalam catatan kuno, pernah lahir Elf terkutuk seperti dirinya yang mengguncang daratan Latinesia, karena membuat abad kekacauan pada masa itu—dibutuhkan aliansi seluruh Kerajaan untuk menghentikan tindakan Elf terkutuk itu.


Regar tersenyum, wajar pendahulunya itu begitu kuat. Karena ada makhluk-makhluk aneh ini yang menjadi senjatanya. Namun, yang menjadi tanda tanya adalah bagaimana cara menggunakannya?—ini masalah yang harus dipecahkan, apakah cara kerjanya seperti Pistol G-2 yang ia miliki atau ada buku panduannya.


“Hefaistos! Panggil lebih banyak Prajurit dan cari buku-buku atau apa saja yang berbentuk tulisan di ruangan ini. Sekalian minta salah satu Prajurit untuk menghitung berapa jumlah makhluk aneh ini.”


“Baik, Pangeran. Segera dilaksanakan!” sahut Hefaistos meminta ke Lima Swordman Rank SS memanggil para Prajurit di lantai atas.


***


Tak butuh lama, sudah Lima Ratus Prajurit memenuhi ruangan bawah tanah itu. Mereka langsung takjub begitu masuk ke sana dan lansung melakukan pencarian, sesuai perintah Regar.


“Pisaunya cukup tajam! Begitu juga dengan ekor ini. Kalau dilibas olehnya, pasti terluka berat jika tak menggunakan pertahanan tubuh,” gumam Regar meneliti mahkluk aneh itu. “Sepertinya aku harus memberi nama mereka. ‘Robot tempur’ mungkin nama yang cukup keren. Bagaimana pendapat kalian?” tanya Regar pada Prajurit yang ada disekitarnya.


“Pangeran sungguh hebat memberikan nama makhluk aneh ini.”


“Robot tempur adalah nama yang sangat cocok, karena ia memiliki enam pisau sebagai senjatanya.”


Pujian demi pujian mereka lontarkan, tanpa berpikir lebih dulu. Apakah memang nama itu cocok atau tidak.


Regar tersenyum, ia tahu mereka hanya cari muka saja, supaya tidak dimarahi. Kalau ia mengatakan nama yang jelek, pasti mereka mengatakan bagus juga.


“Pengeran! Kami menemukan sebuah Papan Virtual, tetapi kami tidak bisa membaca tulisan yang tertera di Papan Virtual itu,” kata salah satu Prajurit tergesa-gesa melapor padanya.


“Menarik! Ayo bawa aku ke sana!” sahut Regar tak sabar ingin melihat Papan Virtual itu, karena ia yakin kunci jawabannya ada di Papan Virtual itu.


***


Ternyata Papan Virtual itu berasal dari Robot tempur berukuran kecil dan tidak memiliki tangan yang memegang pisau. Mungkin robot tempur kecil itu sebagai pusat kendali seluruh Robot-robot tempur yang ada di ruangan bawah tanah itu.


Regar melihat tulisan yang ada di Papan Virtual.


“Ini adalah tulisan dari manusia bumi. Apakah mereka secanggih ini?—tetapi Paman Setiawan tak pernah mengatakan ada senjata seperti ini.” Regar terkejut setelah melihat tulisan itu.


Dia juga teringat cerita Setiawan kalau manusia itu makhluk yang tak pernah puas dan selalu menciptakan sesuatu yang baru. Regar jadi menduga, mungkin manusia bumi sebelumnya adalah manusia yang datang jauh dari masa depan dari masa Setiawan. Namun, kenapa bisa begitu? itu adalah pertanyaan yang tak mungkin bisa ia jawab.


“Selamat datang di menu pengoperasian mesin tempur otomatis. Login atau Daftar.”


Regar lansung mengklik daftar, sedangkan para Prajurit heran dengan apa yang ia lakukan. Namun, mereka tidak memiliki keberanian untuk bertanya dan lebih baik melihat sejauh mana Pangeran itu memahami tulisan aneh yang muncul di Papan Virtual itu.


“PT. Pindad Indonesia mempersembahkan senjata tempur otomatis seri kelima tipe ZX997. Untuk menjadi operator senjata ini, Anda harus melakukan Scan sidik jari dan Scan retina mata. Jika bersedia, silahkan klik di sini untuk memulai pemindaian.”


Tanpa ragu Regar mengklik yang tertulis di Papan Virtual itu.


Cahaya merah keluar dari Papan Virtual, pertama memindai sepuluh jarinya, kemudian cahaya seperti laser menembak kedua matanya.


Para Prajurit lansung bertindak ingin menarik Regar, karena mengira itu adalah serangan tiba-tiba. Namun, Regar lansung mengangkat tangannya dan mengatakan jangan pernah menyentuhnya; apapun yang terjadi, kecuali ia perintahkan.


Mereka tak bisa membantah dan hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Berharap tidak terjadi hal yang tidak diinginkan padanya nanti.


“Pemindaian telah selesai. Langkah selanjutnya adalah meng-sinkronisasi pikiran Anda, sebagai operator satu-satunya yang dapat memberikan perintah pada senjata tempur otomatis seri kelima tipe ZX997. Kami akan menanam chipset ke otak Anda—tidak perlu khawatir, kami telah berpengalaman melakukan ini dan tak akan ada kesalahan pemasangan.”


Belum sempat Regar berpikir, tiba-tiba robot tempur kecil itu mengeluarkan jarum kecil panjang dan lansung menghujam kepalanya. Sehingga Regar berteriak kesakitan.


Para Prajurit tampak panik, tetapi mereka tidak berani menolongnya, karena ia telah memerintahkan jangan bertindak selama tidak ada perintah.


...~Bersambung~...