
Kerajaan Sirius Utara yang berumur seujung kuku itu telah berakhir. Kini hanya ada Jenderal Everald yang sedang menuju ke kota Ars dengan seratus ribu pasukannya, dan Pasukan Revolusioner yang mengambil alih kota Aleppo.
“Hefaistos bawa 200.000 Prajurit bersama 200 Robot tempur yang masih memiliki perisai bersamamu untuk menghancurkan Jenderal Everald. Apabila mereka menyerah nanti, bunuh dia dan Rank SSS bersamanya. Setelah itu hukum gantung gubernur Provinsi Athena dan Provinsi Torus yang telah mendukung Harrison.”
Regar juga memerintahkan dirinya untuk meninggalkan sepuluh ribu prajurit untuk menjaga keamanan kedua Provinsi. Sedangkan diperbatasan antara Provinsi Athena dengan Kerajaan Amori, Regar memerintahkan 25.000 Prajurit untuk berjaga, karena Kerajaan Amori adalah salah satu kerajaan yang mendukung deklarasi kemerdekaan Kerajaan Sirius Utara—jadi perlu juga mewaspadai mereka, walaupun sejauh ini mereka tak memberikan bantuan militer.
“Saya jamin dalam seminggu, masalah ini akan beres,” sahut Hefaistos. “Bagaimana dengan Pasukan Revolusioner?” Dia bingung, mengira Regar melupakan mereka.
“Oh, kumpulan anak bau kencur itu?” Regar tersenyum.
Pasukan Revolusioner adalah mantan anggota Guild di Kerajaan Sirius atau dengan kata lain, mereka juga penduduk asli Sirius yang tak puas dengan kepemimpinan Ratu Violet yang telah menghapus Guild dan tak ada misi yang menghasilkan uang lagi untuk mereka.
“Kita akan melakukan persiapan sebulan ini dan melancarkan invasi penuh ke bagian timur Provinsi Istanbul; berarti otomatis kita akan melewati kota Aleppo. Aku akan mengajak mereka membentuk aliansi melawan Pasukan Kerajaan Yakjud, tetapi ....” Regar kembali tersenyum lebar.
“Jangan bilang Pangeran juga akan membinasakan mereka bila menolak!” Hefaistos menebak isi pikirannya.
“Ah, aku tak sekejam itu Hefaistos. Palingan kita akan mengusir mereka ke Provinsi Istanbul dan membiarkan mereka melawan dua musuh sekaligus. Yaitu, kita dan Goblin sialan itu hehehe ....”
“Ah, itu sama saja Pangeran. Anda kejam sekali, padahal kebanyakan diantara mereka adalah anak muda yang memiliki darah mendidih,” sahut Hefaistos geleng-geleng kepala. “Kalau mereka setuju membentuk aliansi dan kita memenangkan perang melawan Kerajaan Yakjud. Bagaimana nasib Pasukan Revolusioner itu?” Dia penasaran lanjutannya.
“Kalau itu ... sudah jelas. Kau pasti tahu ujungnya. Hanya ada satu Ratu di Sirius yang Agung,” sahut Regar naik ke kuda yang ditumpangi oleh Beleza.
“Agung?” Hefaistos kebingungan dan berpikir sejenak. “Jangan bilang kalau Sirius memenangkan perang ini. Tak ada lagi Ras Goblin di daratan Latinesia!”
Hefaistos tersenyum lebar, darahnya ikut mendidih. Ikut dengan Pangeran terkutuk itu ternyata bukan sebuah kesalahan. Justru di situlah tantangan untuk beradu Pedang, yang ia impi-impikan terwujud.
Bayangkan saja jika ia ikut dengan Pangeran yang lain. Palingan ia hanya tidur-tiduran di barak dan lama-kelamaan kemampuannya juga pasti akan menumpul.
Dengan senyum lebar ia membawa 200.000 Swordman dan Archer menuju lembah Rhodes yang membelah Provinsi Torus dengan Provinsi Damaskus untuk berhadapan dengan Jenderal Everald.
***
“Kenapa kita cepat sekali menyerang Kerajaan Yakjud, Pangeran?” tanya Beleza kebingungan, padahal ekonomi Kerajaan Sirius sedang hancur-hancurnya—belum lagi banyak penduduk yang kehilangan mata pencarian akibat gonjang-ganjing yang terjadi di negeri ini.
“Ada dua alasan. Pertama, kita tidak bisa membiarkan penelitian senjata rahasia Kerajaan Yakjud berhasil dengan sempurna. Kalau itu terjadi, mungkin kita akan tamat.”
“Kedua, sulit untuk membangun perekonomian, sementara tak ada tempat yang aman. Kalau pengungsi dibawa ke provinsi Athena dan Torus yang relatif aman, penduduk di sana pasti akan menolak kehadiran mereka juga. Jadi, lebih baik kita berjudi saja, menang atau berakhir. Masalah dana kita hutang besar-besaran saja pada Ayah, hehehe ... nanti kalau kita menang, kita berikan saja dia salah satu kota besar Kerajaan Yakjud, agar dia bisa berjemur di pantai tropis itu atau dia mungkin ingin digigit nyamuk malaria hehehe ....”
“Dasar anak durhaka!” sahut Beleza mencubit pinggangnya.
Pasukan yang tersisa ikut kembali ke kota Ereck, Regar dan kedua istrinya duduk di dalam kereta kuda mewah berlambang Kerajaan Sirius.
“Kenapa aku terjebak di dalam sini!” teriak Vanessa dalam hati, ia diajak oleh Ratu Violet Celestine ikut dengan kereta kuda mereka.
“Kenapa kau diam saja Vanessa, apakah gara-gara Isabella dan Charlotte tak ikut?” Regar pura-pura peduli dengannya.
“Bagaimana Aku tak diam, kalian asyik berbicara masalah keluarga saja. Aku kan, hanya bisa mengatur strategi berperang saja,” sahut Vanessa menatap keluar jendela kereta kuda.
“Ouh, kukira kau ingin seperti kami. Aku bisa carikan Elf jomblo untukmu lho. Mungkin Hefaistos atau Vin, keduanya kurasa sangat tampan dan kuat. Apa aku saja ....”
Regar tersenyum lebar menatap Violet dan Beleza bergantian.
“Canda hehehe ..., tak mungkin Tante Vanessa mau denganku.”
Vanessa menatapnya dengan tatapan tajam, tetapi ia tak bisa memarahinya. Karena Regar adalah atasannya.
“Archer tak tertarik dengan hubungan yang mengekang,” jawabnya singkat. “Kami lebih suka berada di garis depan saja,” katanya lagi.
“Hahaha ... Aku suka dengan pemikiranmu. Apakah ayah sengaja memilih Swordman dan Archer gila untuk mendampingiku; ucapanmu itu mirip dengan ucapan Hefaistos juga. Oh, lagian kalian satu generasi juga; kecuali Alexander yang sudah menikah, yang lainnya sangat menyukai tantangan. Mungkin nanti aku akan meninggalkan Alexander menjaga kota Ereck, sedangkan sisanya ikut dalam invasi cepat bulan depan.”
“Bagaimana denganku?” Violet bertanya, karena ia yang paling lemah diantara mereka.
“Tentu saja Ratuku ikut. Siapa nanti yang mengomandoi seluruh Prajurit kita,” sahut Regar mencubit hidung mancungnya.
“Ehemmm ... kalau bisa di depan bawahanmu bersikaplah yang normal.” Vanessa berdehem, karena ia sudah tak tahan melihat kemesraan yang mereka tunjukkan. “Kalau saja ada Charlotte di sini, ia sudah menjewer Pangeran.” Dia berkata kesal.
“Hehehe ... Charlotte adalah guru yang paling baik, rewel dan juga cantik tentunya. Apalagi kalau ia membenarkan posisi kacamatanya sembari melirik; ah, damage-nya besar sekali.” Regar kembali bercanda.
Swordman yang menjadi Kusir kereta kuda mereka senyum-senyum mendengar percakapan Panglima tertinggi mereka itu. Padahal sebelumnya ia seperti malaikat pencabut nyawa saja dihadapan musuh-musuhnya. Kini sikapnya malah terbalik 180° hanya dalam beberapa jam saja.
Padahal Regar sengaja melakukan itu, agar Violet terhibur—Pangeran Frederick telah tewas , ia tak ingin Violet bersedih kepanjangan seperti sebelumnya.
Beleza dan Violet kompak mencubit pinggang Regar, karena kedoknya belajar bersama Charlotte ternyata; hanya gurunya itu cantik saja.
Di istana saat ini, Charlotte tak henti-hentinya bersin. “Apakah ada yang sedang membicarakan aku, ya?” Dia kebingungan.
“Kau terlalu banyak berpikir saja itu. Kalau Pangeran sudah pulang, sesekali mintalah ia mengerjakan tugas administrasi; jangan hanya latihan-latihan mulu alasannya,” sela Isabella yang mendampinginya mengerjakan tugas administrasi negara.
“Sudah, biarkan saja dia bodoh!—Kasihan nanti Violet, dijadikan Ratu seperti boneka nanti,” sahut Charlotte tersenyum tipis, sedangkan Isabella tertawa cekikikan mendengarnya.
Di dalam kereta kuda, Regar merasa ada yang sedang menjelek-jelekkan dirinya. Namun, ia tak tahu, mengingat sangat banyak yang tak menyukai dirinya.
...~Bersambung~...