Prince Regar Virmilion

Prince Regar Virmilion
Persiapan Menghadapi Invasi Kerajaan Yakjud di Kota Marseille



Pangeran Regar Virmilion akhirnya sampai juga di kota Marseille saat menjelang malam. Regar lansung disuguhkan pemandangan ribuan tenda-tenda pengungsian di pinggiran kota itu.


“Sepertinya bukan hanya dari kota Cordova saja ini, tapi wilayah lain juga. Aku yakin sebentar lagi kota ini diserbu juga,” gumam Regar.


Ia kemudian melangkah ke dalam kota, perutnya sudah keroncongan. Dari pagi tadi tak ada asupan gizi yang masuk.


Restoran-restoran di serbu para pengunjung, Apalagi stok makanan yang disediakan oleh walikota hanya roti kering saja.


Regar memesan nasi bungkus dan mencari penginapan. Namun, semua penginapan sudah penuh diisi oleh para Elf-elf kaya dari kota-kota yang mengungsi itu.


Dengan terpaksa Regar harus tidur di emperan toko, sambil menekuk lututnya. Ia kemudian tidur dengan pulas hingga keesokan harinya ada Elf yang membangunkannya.


“Ayo! kau tak ikut mengungsi?” tanyanya.


“Eh, apa kota ini telah diserang?” Regar bertanya dengan kondisi sedikit linglung, karena dibangunkan tiba-tiba.


“Tidak, tapi Ratu Violet Celestine meminta seluruh penduduk untuk mengungsi ke kota Aleppo di Provinsi Damaskus. Sepertinya Kerajaan tak mampu lagi mempertahankan Provinsi Istanbul ini,” jawabnya.


Pria Elf itu kemudian pergi dengan kereta berisi barang-barang yang dimuatnya dari toko yang Regar singgahi itu.


“Aku akan pergi ke balai kota saja, mana tahu ada informasi penting di sana,” gumam Regar.


Saat tiba di halaman balai kota, Regar melihat begitu banyak anggota guild lokal yang berkumpul di sana. Regar yang penasaran langsung mendekat, kenapa mereka berkumpul di sini.


“Permisi, kenapa ramai sekali di sini?” tanya Regar pada Swordman Rank Diamond disampingnya.


“Ratu Violet Celestine membuka pendaftaran bagi siapa saja yang mau bergabung dengan pasukan Kerajaan dalam mempertahankan kota ini dari serangan Kerajaan Yakjud,” sahut Elf pria bertubuh besar dengan Kapak besar sebagai senjatanya.


“Eh, kok tak melalui guild, ya?” tanya Regar lagi keheranan.


“Kan, sekarang sudah diumumkan sedang Darurat Militer, jadi guild sudah tak berkewajiban memaksa anggotanya maju ke barisan depan, kecuali mereka yang secara sukarela mau ikut. Seperti yang saat inilah, tapi kita akan mendapatkan bonus lebih kalau mendaftar lagi di sini,” kata Swordman itu.


“Baiklah mantap juga, aku ikut antrian mendaftar lah,” sahut Regar dengan senyum yang tak terlihat karena ditutupi penutup wajahnya.


“Kau tak takut? Kan Rank-mu cuma Silver kulihat.” Swordman itu kebingungan melihat keberanian Regar bergabung dalam perang ini. Karena yang mendaftar saat ini rata-rata adalah Rank Diamond dan beberapa ada juga Rank Gold.


“Hehehe aku ini memiliki keberuntungan tingkat tinggi. Aku berhasil lolos kok, dari Benteng77. Lawan kita ngeri sekali, Aku tak dapat menghitung jumlah mereka, seperti ribuan semut yang mengerumuni sepotong roti saja,” balas Regar.


Swordman itu kaget, awalnya ia mengira Regar sedang membual, namun saat ia melihat lambang guild Serigala Isfahan di punggung Regar, ia baru yakin dengan ucapannya. Swordman itu menjadi sedikit grogi menghadapi perang yang akan terjadi di depan matanya itu.


Antriannya pendaftaran itu cukup cepat, karena tak pemeriksaan apapun, kecuali menulis nomor Identitas Papan Informasi Virtual masing-masing. Agar bonus yang masuk lansung meningkat dari biasanya.


Setelah itu Regar diperintahkan bergabung dengan pasukan militer menuju arah timur Ibukota, menunggu kedatangan Pasukan Kerajaan Yakjud yang datang dari kota Rafah.


Berkat Analisa Sebastian, kota-kota di seluruh Provinsi Istanbul penduduknya berhasil di evakuasi ke Provinsi Damaskus.


Pasukan Kerajaan Yakjud menjadi curiga, Kerajaan Sirius telah memperhitungkan pergerakan mereka. Walaupun demikian, Pasukan Kerajaan Yakjud yang dari Benteng77 tetap melanjutkan perjalanan menuju kota Basque seperti rencana awal mereka.


***


“Hei Rank Silver berkostum aneh, kau berani juga, ya?” Tiba-tiba seorang Archer menghampiri Regar yang sedang memantau dari benteng kota menggunakan teropong Militer miliknya.


“Kalau tak berani kapan kita akan menjadi kuat?” balas Regar menatap Elf cantik dengan buah semangka kembarnya yang aduhai itu.


“Silsia dia menarik juga, tapi kau harus bedakan mana yang berani dan mana yang bodoh, karena itu beda tipis,” ejek Giorgio, teman Archer tersebut.


“Hahaha betul, tapi aku sudah membuktikannya setelah lolos dari Benteng77,” sahut Regar sedikit membanggakan diri.


“Kau ternyata anggota guild Serigala Isfahan!” seru Silsia terkejut. “Apa kau melihat kakakku Talita? Dia komandan Archer dari kota Malaga.” Dengan antusias Silsia bertanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Regar.


Regar menundukkan kepalanya, ia tak tahu harus bercerita bagaimana. Karena kematian Archer Talita sangat tragis.


Melihat Regar menundukkan kepalanya, Silsia yang awalnya senang, berubah menjadi pucat. Air matanya mulai berderaian membasahi pipinya.


“Ayo katakan sesuatu? Kakakku masih hidup, kan?” Silsia menangis histeris terus menggoyang-goyangkan tubuh Regar. “Kakakku masih hidup, dia tak mungkin mati!” Dia berteriak sekencang-kencangnya.


Para Swordman dan Archer yang berjaga di benteng kota Marseille itu lansung memperhatikan mereka.


Giorgio ikut bersedih, ia memegang pundak Silsia. “Sudahlah Silsia ....” Ia melerainya yang memukul-mukul bahu Regar dengan kedua tangannya.


“Kau diam saja Giorgio!” Bentak Silsia. “Ikuti aku!” serunya lagi menarik tangan Regar yang pasrah saja mengikuti Elf cantik yang sekilas ternyata memang mirip dengan Talita.


“Silsia!” teriak Giorgio, ia bingung kenapa Silsia menarik tangan Regar dan membawanya entah kemana. Dia tak mengikuti mereka, karena tak ingin Silsia bertambah marah.


Silsia membawa Regar ke sebuah ruangan dalam benteng kota itu. Dia mendudukkan Regar di sebuah kursi kayu.


“Sekarang katakan semuanya! Apa yang terjadi pada kakakku?” Bentak Silsia sambil menodongkan Panahnya tepat ke wajah Regar.


Regar menarik nafas dalam-dalam, mau tak mau ia harus menceritakan kejadian itu.


“Kemarin saat kami mempertahankan benteng 77, tiba-tiba saja Pasukan Kerajaan Yakjud berjumlah besar, yang sangat jauh perbandingannya dengan pihak Elf kita. Dalam situasi terdesak itu ia meminta para Archer untuk mundur. Namun tiba-tiba, Goblin Rank SS muncul di hadapan komandan Archer Talita. Demi, mengharapkan beberapa Archer berhasil lolos ia memberanikan diri melawannya. Namun naas, ia malah dilumpuhkan dengan mudah.” Pangeran Regar Virmilion tak melanjutkan ucapannya lagi, ia bingung mengungkapkan kejadian berikutnya.


“Kenapa kau diam saja? Cepat katakan apa yang terjadi selanjutnya?” teriak Silsia menarik anak panahnya.


“Baik-baik!” sahut Regar. “Saat itu Goblin Rank SS itu menelanjangi komandan Archer Talita, saat ia akan memperkosanya, aku menembak ******** Goblin itu dengan senjata ini. Kemudian ia melepaskan pegangan Komandan Archer Talita. Setelah itu aku membuang asap buatan dan melihat beberapa Archer yang tertangkap memanfaatkan kesempatan itu untuk bunuh diri. Setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi lagi dengan kakakmu. Yang paling penting, aku akhirnya dikejar-kejar oleh ribuan Goblin Rank Platinum menggunakan kuda. Untungnya saat akan mendekati kota Cordova, ada serangan kuat dari Archer yang sepertinya Rank SSS dari arah kota Cordova. Kemudian Goblin-goblin itu tak mengejarku.” Regar menjelaskan semuanya pada Silsia.


Silsia lansung terkulai lemas, ia duduk di lantai dan kemudian pingsan seketika itu juga. Regar lansung panik dan menggotong tubuhnya menuju ruang perawatan dekat benteng kota itu.


...Bersambung...