Prince Regar Virmilion

Prince Regar Virmilion
Pulang Kampung



Pangeran Regar Virmilion menyadari ada sesuatu yang salah. Orang tua Noella tampak ketakutan, apalagi saat majikan mereka menyentuh Noella.


Ia kemudian mendekati mereka. “Halo Paman dan bibi, saya Regar.” Ia menyalami keduanya dan mengabaikan Jidan yang tersenyum masam menatapnya.


“Terima kasih tuan Regar telah menyelamatkan anak kami. Tapi bisakah Anda membawanya bersamamu. Aku takut hidupnya tak akan baik jika bersama kami,” kata Jonathan.


Ia berpikir, Regar cukup baik memperlakukan anaknya. Walaupun ia tak tahu bagaimana sosok Elf dibalik penutup wajahnya itu.


“Betul tuan!” sahut Beatrice untuk meyakinkan Regar, agar mau membawa Noella bersamanya.


Regar tersenyum tipis dibalik penutup wajahnya itu dan berpikir sejenak, apakah ia akan membawa Noella atau tidak. Namun tiba-tiba sebuah tamparan keras terdengar, yang ternyata Jidan menampar wajah Jonathan dan Beatrice.


“Hei kalian berdua budakku! Jangan seenaknya bicara dengan orang luar. Dan anak ini juga budakku, jadi mulai sekarang dia akan bekerja untukku!” seru Jidan memarahi keduanya yang hanya bisa pasrah sembari memegangi pipi mereka yang kesakitan akibat tamparan keras itu.


“Ibuuuuuu! huhuhuhu ....” Noella menangis kencang saat melihat ibunya ditampar begitu. Ia kemudian menatap Regar. “Kakak ... tolongin ibu,” kata Noella yang hanya bisa berharap padanya.


Regar mengeluarkan Pistol G-2 miliknya, Jidan memandang Regar dengan tatapan sinis.


“Akkadian! Jangan coba-coba bermain pahlawan-pahlawanan di sini. Kalau kau masih sayang dengan nyawamu pergi saja sana!” bentak Jidan.


Regar tak menjawabnya, ia lansung menembak kepala Jidan. Tak sampai di situ, ia juga mengincar paru-paru dan jantungnya agar ia tak sempat melakukan penyembuhan.


Majikan sombong itu lansung tumbang tak bernyawa lagi. Istri Jidan lansung berteriak histeris, sehingga mengundang perhatian Ratu Violet Celestine yang sedang mengunjungi tenda pengungsian itu.


Sebastian meminta beberapa Prajurit mengepung Regar.


“Kenapa kamu membunuhnya?” tanya Violet padanya. Namun ia heran, Assassin yang merupakan Pasukan Pangeran Frederick itu justru membiarkan Akkadian ini membunuh warga Sirius.


“Karena dia jahat. Dia telah menampar Ayah dan ibu!” sela Noella.


Violet tersenyum menatap Elf mungil itu. “Tapikan tak harus dibunuh juga, Dik?” sahut Violet. Ia kembali menatap Regar. “Ayo katakan alasanmu, kalau tidak kami akan menahanmu!” seru Violet.


“Orang tuanya telah diperbudak oleh majikannya ini. Sehingga keputusanku itu sudah tepat, dan aku juga akan membawa keluarganya ini ke Akkadia sekarang juga,” sahut Regar.


Violet tak puas mendengar jawabannya yang seolah-olah tidak menganggapnya sebagai Ratu Kerajaan Sirius. Sikap yang ditunjukkan oleh Regar itu sama seperti yang dilakukan para jenderal tua yang membangkang terhadap pemerintahannya.


“Sebastian seret dia ke penjara!” seru Violet. “Kamu harus tahu, kamu berdiri di tanah Sirius. Jadi kamu harus mematuhi hukum yang berlaku di sini,” ancamnya lagi.


Sebastian ingin maju menangkapnya, namun tak jadi. Karena dua Assasin yang merupakan Swordman Rank S itu segera maju menghalanginya.


“Apa-apaan kalian ini!” gerutu Violet tak menyangka Assassin itu malah membela seorang Akkadian.


“Tenang dulu Ratu Violet, kami telah mengawalnya sejak pertama kali masuk ke kota Aleppo ini. Dan yang salah dalam hal ini adalah Majikan mereka ini, lagi pula ia merperbudak sesama Elf. Bukankah sudah jelas, dia yang bersalah. Kalau urusan kematiannya, anggap saja dia tak sengaja.”


“Kami harap Ratu Violet tak menyulitkan pekerjaan kami, karena kami harus mengawalnya kembali ke Akkadia atas perintah Pangeran Frederick,” kata Assasin yang satunya lagi.


Violet merasa aneh, kenapa bisa kakaknya mengutamakan keselamatan Swordman berkostum aneh yang ia jumpai juga saat di kota Marseille itu. Ia kemudian melirik Archer Narnia yang diam saja sejak tadi. Padahal jika ia ikut berbicara, pasti kedua Assasin itu ketakutan.


Narnia yang merasa Ratu Violet ingin meminta bantuan padanya segera berbicara.


Violet lansung kaget, ia juga merasa aneh sewaktu di kota Marseille. Karena Regar memiliki benda aneh yang dapat melihat posisi musuh pada jarak yang jauh. Sudah seperti penglihatan Archer Rank SSS saja.


Alat seperti itu, tak mungkin dimiliki oleh penduduk biasa. Kecuali dari keluarga kelas atas atau keluarga Kerajaan.


“Baiklah, ayo kita pergi. Kalian tolong jangan biarkan dia berbuat onar di tanah kita ini!” seru Violet lansung meninggalkan tempat itu.


“Baik Ratu ...,” sahut kedua Assasin itu.


Regar menghampiri Jonathan, kemudian ia meminta mereka untuk mengemas barang-barang mereka. Karena ia memutuskan untuk mengajak mereka ke Kerajaan Akkadia.


Regar berpikir, lebih baik keluarga Noella tinggal di peternakan nenek Elisabeth saja. Lagi pula neneknya itu tak memiliki keturunan. Regar yakin, ia pasti senang kalau membawa keluarga Noella ke sana.


Jonathan sangat senang mendengarnya, begitu juga dengan Beatrice dan Noella. Mereka lansung mengemas barang-barang mereka dan ikut pergi bersama Regar, bergabung kembali dengan Alucard.


Saat itu juga Alucard membawa mereka ke kota Ereck, ibukota Kerajaan Sirius.


***


Dua hari kemudian, mereka sampai di kota Ereck. Mereka tak berhenti di kota itu, karena Pasukan Kerajaan Yakjud telah membangun Pangkalan Militer di luar kota itu. Sepertinya mereka akan bersiap melakukan serangan penuh beberapa hari ke depan.


“Wah ... inikah laut itu?” Noella kagum melihat air yang tak berujung itu.


“Iya Nak,“ sahut Beatrice ikut kagum melihat hamparan laut itu.


“Apakah Akkadia itu bagus, Bu?” tanya Noella lagi.


“Ibu tak tahu, tapi menurut orang-orang di sana sangat damai dan merupakan Kerajaan terkuat di Planet Latinesia ini.” Beatrice menjawab rasa penasaran Noella.


***


Keesokan harinya, kapal yang mereka tumpangi itu berlabuh di pantai barat Kerajaan Akkadia. Alucard tak ikut dengannya lagi ke ibukota Kerajaan Akkadia, misi pengawalannya telah berakhir. Ia kembali lagi ke Kerajaan Sirius dengan menumpangi Kapal yang ke sana. Sedangkan Regar dan keluarga Noella langsung melakukan perjalanan darat ke kastil nenek Elisabeth yang membutuhkan waktu seminggu.


Nenek Elisabeth sangat senang saat membuka pintu kastil, ternyata yang datang adalah Pangeran Regar Virmilion.


“Kenapa Pangeran pulang begitu cepat. Padahal dulu Pangeran mengatakan akan pulang tahun depan?” tanya Nenek Elisabeth keheranan.


“Panjang ceritanya, nantilah Aku ceritakan. Tapi sebelum itu, aku akan memperkenalkan mereka yang akan menemani Nenek dan Kakek di sini,” sahut Regar.


Elizabeth menoleh ke belakangnya. “Cantiknya ....” Ia lansung menggendong Noella. “Ayo semuanya masuk ... selamat datang di kastil kecil kami ini hehehe ....” Elizabeth tertawa, ia sangat senang. Kastil ini tak akan sunyi lagi seperti sebelum-sebelumnya.


“Di mana Kakek, Nek?” tanyanya tak melihat Kakek Ferguson.


“Biasa, ia sedang menjual hasil peternakan ke kota Isfahan. Kalau ia tahu Pangeran akan pulang, ia pasti akan membelikan banyak makanan dari sana,“ sahut Elizabeth.


Regar kemudian izin pamit padanya, ia pergi ke bekas gudang tua untuk mengunjungi makam Setiawan. Manusia bumi yang sangat berjasa dalam melatih fisik dan mentalnya dulu, berkat bantuannyalah ia kini lebih berani menatap dunia tak seperti sebelum-sebelumnya yang bahkan pernah berniat ingin bunuh diri.


...~Bersambung~...