
Pangeran Regar memasuki kota Cordova yang telah kosong melompong. Kini ia bingung mau ke arah mana tujuannya selanjutnya.
“Aku menuju kantor walikota saja, di sana pasti ada peta Kerajaan Sirius,” gumam Regar memacu kudanya.
Tak butuh waktu lama, Regar telah tiba di kantor walikota. Ia masuk ke dalam, suasana dalam walikota itu sangat berantakan. Mungkin saat itu mereka buru-buru membawa dokumen penting dan benda-benda lainnya.
Setelah memilah-milah ruangan walikota, Regar akhirnya menemukan peta yang ia cari.
“Kota terdekat dari sini adalah Marseille. Berarti aku harus cepat ke sana. Sebelum para Goblin datang ke kota ini,” gumam Regar lansung berlari keluar.
Regar memacu kudanya lagi meninggalkan kota Cordova.
***
Sore harinya, rombongan Ratu Violet Celestine sampai di kota Marseille. Di pinggiran kota itu berjejer tenda-tenda pengungsian. Karena bukan hanya dari kota Cordova saja yang mengungsi kemari. Dari desa-desa sekitarnya juga telah berdatangan.
Kabar invasi besar Kerajaan Yakjud telah diumumkan ke penjuru Kerajaan Sirius.
Ratu Violet bersama ketiga Rank SSS dan Sebastian memasuki kantor walikota Marseille. Di sana telah menunggu Arson, walikota Marseille. Komandan Ricard dan Komandan Leonard yang merupakan utusan dari Pangeran Darian, gubernur Provinsi Istanbul.
“Selamat datang Ratu Violet Celestine di kota Marseille ....” Arson menyambut kedatangan Violet.
“Ya, walikota. Apakah semuanya telah hadir? Dimana perwakilan dari Panglima militer?” Violet Celestine kebingungan, disaat genting begini. Para Jenderal itu tak bertindak sama sekali.
“Kami tak mendapat kabar apapun. Hanya perwakilan dari Pangeran Darian saja yang tiba,” jawab Arson.
“Situasi genting begini, mereka malah tak bertindak apa-apa. Apakah betul yang dikatakan oleh kakak Frederick selama ini. Bahwa mereka tak menganggapku sama sekali,” gerutu Ratu Violet Celestine. Tanpa ia sadari, ia meluapkan amarahnya dan air mata Violet berjatuhan.
Sebastian yang berdiri dekat Violet ikut merasa bersalah. Karena ayahnya adalah dalang pembangkangan para jenderal itu. Ia telah berkali-kali membujuk Jenderal Harrison agar membantu Ratu Violet Celestine mengatasi pergerakan Kerajaan Yakjud yang makin ganas itu. Namun dengan entengnya, Jenderal Harrison mengatakan ia akan membantu, jika anaknya itu menikahi Violet.
Tentu saja, permintaan itu sangat mustahil ia lakukan. Walaupun Violet juga menyukainya, namun ada tembok yang menghalang cinta mereka. Yaitu, Pangeran Frederick yang selalu mengawasi setiap gerak-gerik adiknya itu.
Alasan para jenderal itu sebenarnya cukup masuk akal, walaupun mereka juga memiliki agenda lain, yaitu ingin mengatur Kerajaan Sirius dibalik layar. Alasan mereka tak mau membantu Ratu Violet Celestine adalah karena mereka akan menggadaikan Kerajaan Sirius ini pada Kerajaan Akkadia. Para Jenderal itu menganggap Ratu Violet Celestine akan menjadi Ratu Boneka yang dikendalikan oleh Kerajaan lain.
Padahal sejauh ini, Raja Virmilion dari Kerajaan Akkadia tak pernah mencampuri urusan pemerintahan Kerajaan Sirius. Bahkan ia memaksa para guild-guild dari Kerajaan Akkadia untuk membayar pajak sebesar 5% pada Kerajaan Sirius, agar tak terlalu membebani keuangan Kerajaan Sirius.
***
“Maaf Ratu, saya adalah Leonard, diutus oleh Pangeran Darian ingin menyampaikan pesan darinya,” kata Leonard berdiri dari tempat duduknya.
“Silahkan katakan!” sahut Violet.
“Seluruh benteng di sepanjang perbatasan telah diambil alih oleh Kerajaan Yakjud. Kota Granada juga telah diambil alih bahkan hingga beberapa kota sampai ke perbatasan Provinsi Damaskus. Saat ini Pangeran berada di kota Venesia, berusaha membendung laju pergerakan Kerajaan Yakjud. Pangeran juga kekurangan pasukan dan Manjanik. Kini hanya ada 40.000 Prajurit saja yang tersisa, 10.000 lebih tewas ketika mempertahankan kota Granada, agar Penduduk sekitarnya dan kota-kota lain bisa mengungsi ke provinsi Damaskus—”
“Apaaaaaa?” Violet sangat kaget mendengarnya. Ia tak menyangka pertahanan kokoh Kerajaan Sirius yang tak pernah tertembus selama lebih dari 15 tahun ini, akhirnya jebol di saat pemerintahannya. “Kenapa bisa begini?” katanya lagi seakan tak percaya.
“Baiklah lanjutkan Leonard!” seru Violet.
“Menurut analisa kami. Kerajaan Yakjud hendak mengambil alih seluruh Provinsi Istanbul. Karena pola pergerakan mereka adalah pertama mengambil alih benteng 77 sebagai pengalihan perhatian. Namun saat semua perhatian tertuju ke sana, tiba-tiba mereka melakukan serangan kilat ke kota Granada, terus berlanjut hingga ke kota-kota lainnya. Namun saat mencapai perbatasan provinsi Istanbul dan Damaskus, mereka malah memilih ke kota Rafah di bagian tengah provinsi Istanbul,” kata Leonard melanjutkan penjelasannya tadi.
“Berarti kota yang memungkinkan di invasi adalah kota Malaga yang paling dekat ke kota Rafah dan juga kota Marseille ini juga dekat dengan pasukan kerajaan Yakjud yang merebut Benteng77. Apalagi mereka cuma baru melakukan serangan kecil saja,“ sahut Violet mencoba menarik kesimpulan.
“Menurut pendapatku, Pasukan Kerajaan Yakjud di kota Rafah akan melakukan penyerbuan ke kota Malaga dan Marseille ini. Sedangkan Pasukan Kerajaan Yakjud yang ada di Benteng77 itu akan bergerak ke kota Bosque,” kata Sebastian ikut memberikan masukan.
“Eh, bukannya lebih dekat kesini dari pada ke kota Basque?” tanya Violet heran.
“Kota Basque termasuk kota paling kuat pertahanannya. Selama invasi mendadak ini, mereka tak menjamah sama sekali kota Basque, mereka justru memilih menyerang Benteng77 yang terkenal sulit dilalui itu. Namun mereka tetap memaksakan diri. Kenapa?” tanya Sebastian.
Namun semua menggeleng kepala, karena tak tahu tujuan mereka.
“Karena mereka akan melakukan serangan dua sisi. Sehingga 45.000 Prajurit Pangeran Darian yang menjaga kota itu akan terkepung. Mereka pasti sudah tahu, bahwa di ibukota sekarang tak ada lagi Pasukan Militer, karena Pangkalan Militer telah dipindahkan ke Provinsi Athena dan Provinsi Torus.”
“Masuk akal!” sahut Leonard.
“Tapi kenapa Pasukan Kerajaan Yakjud dari Rafah yang akan kemari, bukannya jaraknya lebih jauh daripada dari Benteng77?” tanya Violet kembali.
“Itu tak masalah. Karena untuk menaklukkan kota Malaga, Sevilla, Marseille dan kota-kota lainnya itu tak perlu dengan Pasukan besar. Lagu pula, Pasukan Kerajaan Yakjud yang melawan Pangeran Darian kemarin butuh istirahat dan supaya Pangeran dibuat ketar-ketir lagi setelah mengetahui kota Basque telah dikepung oleh Pasukan lain.”
“Betul juga,” sahut Violet. “Sekarang tindakan apa yang harus kita lakukan?” tanyanya lagi.
Semua diam, termasuk Sebastian. Ia tak berani mengusulkan pendapat yang bisa membuat puluhan ribu Prajurit Kerajaan Sirius tewas nantinya.
Karena tak ada yang bicara, akhirnya Narnia memberikan masukan pada Violet agar menarik mundur Pasukan Pangeran Darian yang ada di kota Basque ke ibukota. “Biarkan Pangeran Frederick yang akan memimpin mereka di sana bersama pasukan Pangeran Frederick juga. Dengan ini, kita berharap ia mampu menahan laju invasi Kerajaan Yakjud itu.”
“Betul itu Ratu. Kau nanti minta kota-kota yang terdekat dari sini untuk mengungsi ke Provinsi Damaskus. Kemudian fokuskan semua Prajurit yang tersisa di Marseille ini, kita harus membuat sebuah kekalahan pada mereka. Untuk menaikkan moral Prajurit yang telah terlanjur turun,” usul Sebastian lagi.
“Usulan yang tepat,” sela Zeus juga. Padahal ia diam saja sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.
“Baiklah kalau begitu. Arson kau tulis pesan pada Pangeran Frederick untuk bersiap-siap melakukan darurat militer di ibukota. Tulis juga pesan pada walikota Basque untuk mengungsi ke ibukota, termasuk kota-kota yang belum diserang oleh Pasukan Kerajaan Yakjud. Minta juga Prajurit militer kita di kota Malaga, Sevilla, Toulouse dan Sarajevo untuk berkumpul di sini!” seru Violet.
Arson segera menulis pesan sesuai perintah dari Ratu Violet Celestine itu.
Mereka kemudian membubarkan diri, Violet kemudian membuat pengumuman baru di kota Marseille. Memerintahkan semua penduduk kota dan para pengungsi untuk mengungsi kembali ke Provinsi Damaskus, karena kota Marseille ini akan menjadi medan tempur antara Pasukan Kerajaan Yakjud dengan Pasukannya.
...Bersambung...