
Telah dua hari Pasukan militer Kerajaan Sirius memasuki wilayah Kerajaan Yakjud, tetapi mereka belum menemukan militer Kerajaan Yakjud yang menghadang mereka, sehingga ini cukup aneh bagi Pangeran Regar Virmilion.
“Apa mereka mundur hingga ke kota Diabhal? Bukankah mereka memiliki senjata rahasia, mengapa mereka belum menggunakannya. Jangan-jangan mereka menjebak kami,” gumam Regar memandangi hutan bakau di pinggiran pantai bagian Utara Kerajaan Yakjud itu.
Di tempat lain, Pasukan Revolusioner juga sudah melewati hutan belantara Kerajaan Yakjud yang berbukit-bukit terjal itu, walaupun sangat sulit untuk dijejali—tetapi mereka tetap memaksakan diri, karena ini menentukan nasib Kerajaan Sirius di masa depan. Pasukan Revolusioner sudah merasa lelah melewati konflik berkepanjangan ini, sudah saatnya ini diakhiri—menang atau musnah selamanya.
“Aku mendapatkan pesan dari Ratu Violet, kalau mereka telah mencapai kota Pagan—yang berarti itu tidak jauh dari posisi kita dan Ratu Violet tetap memerintahkan kita untuk bergerak di wilayah tengah, terutama menghancurkan infrastruktur jalan atau benteng kota-kota kecil yang lalui,” kata Abraham—yang memimpin rapat kecil bersama Rank SSS lainnya.
“Untuk apa kita menghancurkan jalan-jalan yang kita lalui? Bukankah itu akan memperlambat gerak pasukan kita saja?” sahut Archer Elamina keheranan dengan tugas yang diberikan oleh Ratu Violet itu.
Swordman Evankhell geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan dari Elamina dan iapun berkata, “Pasukan Revolusioner bukan unit tempur utama dalam perang ini, tetapi Ratu Violet menginginkan kita sebagai unit sabotase saja, mengingat kekuatan tempur kita cukup kecil, makanya kita tidak dilibatkan dalam perebutan kota Pagan.”
Elamina tersenyum masam mendengar penjelasan dari Evankhell.
“Baiklah, kita akan mencari jalan yang terhubung ke kota Pagan dan Elamina akan memimpin para Archer untuk melacak keberadaan musuh,” kata Abraham. “Apabila kalian mendeteksi keberadaan pihak musuh, maka segera mundur dan temui kami,” lanjutnya lagi.
Elamina mengangguk dan ia segera mengumpulkan para Archer. Dia membagi-bagi mereka ke dalam unit-unit kecil, yang akan menjelajahi hutan belantara di bagian tengah Kerajaan Yakjud itu, mereka bertugas mencari keberadaan desa atau kota untuk di hancurkan oleh para Swordman.
Elamina melihat tiba-tiba makhluk aneh terbang dengan kecepatan tinggi di jarak sepuluh mil dari mereka dan ia langsung memerintahkan bawahannya untuk berhenti bergerak, agar makhluk aneh itu tidak mendeteksi keberadaan mereka.
“Apakah itu senjata rahasia yang disebut oleh Ratu Violet,” gumam Elamina—teringat kalau Kerajaan Yakjud telah mengembangkan senjata rahasia bernama Siluman Burung yang dapat menyemburkan api dari mulutnya.
Siluman burung itu menjauh dari mereka dan terbang kearah kota Pagan, wilayah yang akan digempur oleh Ratu Violet Celestine.
“Kirim pesan pada Ketua Abraham, bahwa Siluman burung sudah muncul, supaya mereka bertindak hati-hati,” kata Elamina pada bawahannya.
“Baik Nona Elamina!” sahut Elf cantik itu yang langsung menarik busur panahnya yang ujungnya diikatkan selembar kertas berisi pesan dari Elamina.
Elamina memicingkan matanya karena tiba-tiba muncul anak panah dengan kecepatan tinggi kearahnya dan dengan mudah ia menangkap anak panah itu dengan tangannya.
Elamina tak menyangka ada konvoi besar Pasukan militer Kerajaan Yakjud yang sedang bergerak menuju Kota Pagan, sepertinya perang besar akan berpusat di kota itu—setelah tidak ada perlawanan sengit dari militer Kerajaan Yakjud beberapa hari ini.
Elamina memanah langsung anak panah yang ditujukan pada Abraham dan meminta mereka agar menjauh dari jalanan—supaya tidak terdeteksi oleh Archer Kerajaan Yakjud.