Prince Regar Virmilion

Prince Regar Virmilion
Pembantaian



Pangeran Regar Virmilion langsung berlari kencang melewati beberapa Swordman Elf di depannya. Mereka sempat kaget melihat kecepatan larinya itu.


Saat mereka beberapa mil jauhnya dari kota Marseille, tiba-tiba saja langit menjadi gelap. Para Swordman Elf yang tersisa lansung melihat ke langit. Alangkah terkejutnya mereka, ternyata hujan panah yang tak terhitung jumlahnya telah menyerang mereka lagi.


Regar lansung menarik Pedang Queen E.Ve dari sarung Pedang yang ia selipkan di pinggang sebelah kanannya.


“Cih, apakah aku akan mati di sini,” batin Pangeran terkutuk dari Kerajaan Akkadia itu.


Bagaimana ia tak takut, diantara hujan panah itu terdapat beberapa anak panah Rank SSS dari pihak Archer Goblin.


Daya ledak yang ditimbulkan oleh Archer Rank SSS sangatlah luas. Rank SS ke bawah, akan kesulitan menahan serangan itu. Mereka musti menggunakan tenaga dalam sangat besar dan menguras semua Mana mereka untuk meminimalisir dampaknya.


Bayangan sosok ibu yang belum pernah ia jumpai lansung tergambar di benaknya. begitu juga dengan senyum Ratu Violet Celestine yang merupakan tunangannya itu. Regar masih mengingat dengan jelas wajah cantik tunangannya itu, ia menghela nafas dalam-dalam. Regar mengalirkan 140.000 Capacity Mana menjadi tenaga dalam, itu berarti hampir semua Mana miliknya telah ia kuras. Kini Regar telah setara dengan Rank SS.


“Semoga saja Tuhan mengabulkan doaku. Tak ada anak panah Rank SSS yang mengarah ke sini,” gumam Regar.


Tanah pijakannya lansung hancur berantakan, akibat kuda-kuda beladiri yang ia gunakan.


“Akkadian! Tak kusangka dirimu ternyata sekuat ini. Pantaslah kau berhasil lolos dari Benteng77,” kata Swordman Elf yang berada di dekatnya.


Suara Elf tersebut cukup familiar di telinga Regar. Regar menduga-duga bahwa itu adalah suara Giorgio, sahabat Silsia. Keduanya berasal dari kota Malaga, memutuskan ikut bergabung dengan pasukan bayaran bentukan Ratu Violet Celestine, namun yang terjadi bukan membendung laju pergerakan Kerajaan Yakjud, yang ada adalah membiarkan mereka membantai Pasukan yang tak berpengalaman dalam medan pertempuran itu.


Regar menoleh dan terkejut melihatnya, beberapa luka telah bersarang di tubuhnya. Namun demikian, ia tetap tersenyum lebar. Seolah-olah sedang berjumpa teman lama saja, padahal mereka baru berkenalan tadi di kota Marseille.


“Ternyata kau masih hidup Giorgio. Tadi Silsia sangat mengkhawatirkan-mu, dia tak mau pergi. Katanya harus menemukanmu dulu, baru mau pergi. Untung saja aku terus memaksanya menaiki kuda terakhir. Kalau tidak, nasibnya akan sama seperti kita ini hahahaha ....” Regar menertawakan nasib naas yang ia alami ini.


Giorgio menatap langit gelap, karena hujan panah yang beberapa saat lagi akan mendarat di tempat mereka berdiri itu. “Syukurlah dia selamat.” Giorgio menarik nafas dalam-dalam, ia juga menggunakan semua Mana yang tersisa menjadi tenaga dalam yang ia alirkan menjadi baju jirah dan sebagian lagi ke pedangnya. “Tapi ada satu hal yang mengganjal dalam benakku, kenapa kau berpenampilan tertutup ala Assasin begitu,” kata Giorgio lagi.


“Hahaha ... Kau pernah mendengar Pangeran terkutuk dari Kerajaan Akkadia!” seru Regar dengan tawa kecil.


“Pantas saja kau memiliki Mana yang cukup besar yang setara dengan Rank yang jauh diatasmu. Ternyata kau berasal dari keluarga yang dicintai oleh Mana,” sahut Giorgio baru menyadari kalau Regar ternyata seorang Pangeran.


Saat ia masih ingin berbicara dengan Regar, tiba-tiba saja hujan panah itu telah mendarat. Suara teriakan kesakitan mulai menggema. Ledakan-ledakan beruntun terus membombardir posisi mereka.


Regar berhasil menangkis ratusan anak panah yang datang padanya. Namun ia tak melihat posisi Giorgio lagi, karena lokasi pijakan mereka itu telah menjadi kawah-kawah dan juga asap tebal dari efek ledakan itu.


“Beginikah perang yang dimaksud oleh Paman Setiawan itu,” gumam Regar mengingat ucapan Setiawan betapa ngerinya perang di dunia asalnya yang bahkan menelan jutaan nyawa.


Tak ada lagi terdengar suara dari Swordman Elf. Mereka semua telah tewas di padang rumput luas itu.


“Apakah tempat ini akan menjadi kuburanku? Hah ....” Regar mendengus kesal. “Tapi dengan kematianku, mungkin Ayah akan membalas dengan menyerang Kerajaan Yakjud. Karena menurutku, ibunda sangat menyayangiku. Dia pasti terpukul, kalau mengetahui aku telah tewas di tangan Goblin. Dengan begini Elf-elf yang ada di Sirius ini akan merasakan kedamaian,” gumam Regar.


Sebenarnya kalau seluruh Elf bersatu melawan ras Goblin. Dengan mudah mereka pasti dapat menghancurkannya. Bahkan bisa melenyapkan mereka selama-lamanya. Namun, bangsa-bangsa Elf ini tak mau bersatu, mereka lebih sibuk dengan kelompok masing-masing dan saling terpecah belah.


Tak usah seluruh Elf yang bergerak, cukup salah satu dari tiga Kerajaan besar saja. Itu sudah cukup, namun mereka tak mau melakukannya. Bahkan Kerajaan Akkadia yang merupakan Kerajaan terkuat, cuma memberi bantuan pada Kerajaan Sirius dengan menjamin tak ada Kerajaan Elf lain yang menyerang Kerajaan Sirius itu dan mengirim guild dari Akkadia sebagai penjaga perbatasan saja. Saat situasi genting, guild-guild itulah duluan kabur meninggalkan pos perbatasan itu.


***


Dengan nafas tersengal-sengal dan tenaga dalam yang cuma tersisa 10%, Regar terduduk lesu menunggu serangan hujan panah berikutnya.


Cahaya matahari kembali menyilaukan pandangan matanya, walaupun sebenarnya ia mengenakan kacamata hitam.


“Apa yang terjadi?” gumam Regar yang menunggu kedatangan hujan panah berikutnya, namun tak kunjung datang.


Pangeran terkutuk itu kemudian memandangi sekelilingnya yang sudah hancur lebur. Tak ada kehidupan lagi, bahkan seekor semut pun sulit ditemukan. Yang tinggal kini hanyalah Regar yang terduduk lesu dengan menopang tubuhnya pada pedang Queen E.ve.


***


Beberapa saat sebelumnya di kota Marseille.


“Sepertinya ada seorang Rank SSS Elf di sana. Apakah kita akan menembak anak panah lagi Jendral?” kata Archer Goblin pada Jendral Archer Kerajaan Yakjud yang duduk di atas tandu, yang ditandu oleh empat Elf tampan yang berhasil ia tangkap dulu saat menyerang perbatasan secara tiba-tiba.


Di dalam tandu itu sendiri ada dua Elf tampan yang sedang memijat kakinya dan satu Elf lagi mengipasinya agar tak kegerahan di dalam tandu itu.


Ini adalah kebiasaan buruk para ras Goblin. Para pimpinan mereka akan mengoleksi musuh mereka untuk dijadikan budak.


Goblin laki-laki akan mengoleksi Elf wanita, namun ini sulit terlaksana. Selain mereka yang pertama mundur saat di peperangan, mereka juga akan bunuh diri saat akan tertangkap. Berbeda dengan Elf laki-laki yang lansung berhadapan di garis depan.


Para Swordman Goblin laki-laki yang berhasil menangkap Elf laki-laki hidup-hidup inilah yang menjual tangkapannya pada Goblin wanita. Ras Elf sangat terkenal akan ketampanan dan kecantikan mereka. Menjadi daya tarik bagi Ras Goblin yang memiliki warna kulit hijau dan tubuh agak kecil.


***


Setelah mendapat laporan itu. Jendral Archer Kerajaan Yakjud itu memutuskan tak usah melanjutkan penyerangan. Karena itu hanya akan membuang-buang tenaga dalam saja, hanya untuk membunuh satu tikus dengan mengerahkan kekuatan penuh, tentu saja itu tak menguntungkan, karena perang ini bukan jangka pendek. Masih banyak lagi penyerangan yang akan mereka lakukan kedepannya. Jadi dibutuhkan penggunaan kekuatan sehemat mungkin.


...⚔️Bersambung⚔️...