Prince Regar Virmilion

Prince Regar Virmilion
Pertemuan Dengan Orangtua Kandung



“Paman ... Aku pulang!” Pangeran Regar Virmilion menabur bunga diatas reruntuhan gudang tua yang menjadi makam Setiawan, anggota Kopassus TNI AD yang telah melatihnya dulu. “Benar yang Paman katakan, dunia luar itu sungguh kejam. Banyak hal yang telah Aku pelajari selama di Sirius kemarin. Mudah-mudahan kedepannya aku bisa menjadi lebih kuat lagi, agar tak mudah ditindas,” kata Regar berbicara sendiri diatas reruntuhan gudang tua itu.


Cukup lama ia berdiam diri di sana, hingga matahari mulai terbenam di ufuk barat. Ia kemudian kembali ke kastil kecil, ia yakin Nenek Elisabeth pasti mengkhawatirkan dirinya.


***


“Aku pulang!” Regar lansung nyelonong masuk ke dalam.


Noella yang tengah bermain-main dengan Nenek Elisabeth di ruang tamu lansung berlari menghampirinya.


“Kakak ... dari mana saja kamu. Kakek mencarimu tadi,” kata Noella yang tampak senang tinggal di kastil kecil itu.


“Ada deh,” sahut Regar tertawa kecil, ia kemudian berjalan ke halaman belakang. Ia yakin kakeknya pasti sedang membelah kayu di sana.


Noella mengikuti Regar ke dapur, ia memegang tangan kanannya dan terus bercerita tentang pengalamannya saat bermain-main dengan Nenek Elisabeth selama ditinggal pergi Regar tadi.


Regar senyum-senyum memerhatikan Noella yang mengoceh saja itu. Ia kemudian berpikir, kalau ia kembali ke istana. Pasti Noella akan merindukannya, karena mereka akan sulit bertemu lagi.


“Kakek! Tenagamu tetap kuat saja, seperti dulu,” kata Regar mengagetkannya.


“Kamu ingin kakek mati terkejut, ya?” Ferguson melompat ke belakang, ia melempar kapaknya ke arah Regar. Namun dengan sigap ia menangkapnya.


“Justru Kakek yang ingin melukai wajah tampanku ini,” sahut Regar yang tak kalah kaget, tiba-tiba sebuah kapak melayang ke arahnya.


“Hahaha ... sejak kapan wajah terkutuk begitu dibilang tampan. Mimpimu kejauhan bung!” ejek Ferguson sambil mengumpulkan kayu bakar yang telah ia potong-potong itu.


“Hei, apa kakek buta, ya? Di kamarku itu sudah penuh surat cinta dari Bunda Queen Emanuelle Virmilion, wanita tercantik di Akkadia ini,” sahut Regar dengan senyum lebar.


“Itu sih, cinta seorang ibu ke anak. Bukan cinta karena melihat tampang anehmu itu,” ejek Ferguson lagi.


“Woi, Kakek rasis sekali. Aneh-aneh begini, calon istriku adalah Elf tercantik di Kerajaan Sirius,” kata Regar lagi tak mau mengalah.


Noella yang mendengar perdebatan mereka menjadi takut, ia memegang ujung baju Regar dan diam saja sejak tadi.


“Sudah-sudah! Kamu membuat takut Noella,” kata Ferguson membawa beberapa potong kayu bakar ke dalam kastil, buat perapian nanti malam.


Regar hanya geleng-geleng kepala, ia kemudian membawa beberapa potong kayu bakar juga. Sedangkan Noella mengambil sepotong, dengan susah payah ia membawanya ke dalam. Walaupun Regar telah meminta, agar dia saja yang membawanya. Namun Noella menolaknya, ia ingin pamer ke orangtuanya dan Nenek Elizabeth, bahwa ia kuat mengangkat sepotong kayu.


***


Malamnya mereka makan malam bersama, tak lama terdengar suara rombongan Prajurit Kerajaan Akkadia yang datang menjemput Pangeran Regar Virmilion.


“Yah, mereka tak memberikan waktu untuk kita bersenang-senang dulu bersama Pangeran,” kata Kakek Ferguson kecewa, para Prajurit terlalu cepat menjemputnya.


“Aku akan bicara dengan mereka agar besok pagi saja berangkatnya ke istana,” sahut Regar berdiri dari tempat duduknya.


Namun Nenek Elisabeth menolaknya, ia mengatakan bahwa ibundanya, Queen Emanuelle sedang terbaring lemah di tempat tidur memikirkannya, setelah tahu ia berada di garis depan perang di Kerajaan Sirius.


Regar hanya tersenyum masam, ia sebenarnya tak terlalu memperdulikan keadaan orangtuanya. Toh, mereka tak pernah menjenguknya ke kastil kecil ini. Justru ia mau segera berangkat, karena sangat menghormati Nenek Elisabeth yang telah merawatnya selama ini, walaupun mereka sebenarnya tak memiliki hubungan darah dengannya.


“Baiklah Nenek, jaga kesehatanmu. Begitu juga dengan Kakek. Dan tuan Jonathan dan nona Beatrice tolong jaga kedua tua bangka ini, ya?”


“Prak!”


Tongkat kayu milik Nenek Elisabeth melayang ke kepala Regar. “Bercanda Mulu kerjamu! Cepat sana! Kirim salam dengan ibundamu!” seru Nenek Elisabeth.


Regar lansung masuk ke kereta kuda yang datang menjemputnya.


“Iya ... Noella akan cepat besar. Supaya bisa jalan-jalan lagi dengan kakak!” sahut Noella menangis di gendongan Beatrice.Ia sebenarnya ingin ikut dengan Regar lagi, namun dilarang orangtuanya.


Mereka tak ingin Noella mengundang bahaya untuknya, mengingat tubuh Noella sangat spesial, Mana merembes keluar dari tubuhnya begitu deras tanpa khawatir habis.


***


Malam itu juga kereta kuda segera berangkat ke Kota Arpad, ibukota Kerajaan Akkadia.


Saat paginya, Regar dikejutkan dengan pemandangan seorang wanita berusia kepala lima sedang memandangi wajahnya. Walaupun sudah berumur begitu, ia tetap tampak cantik, bayangkan saja kalau saat mudanya, bagaimana kecantikannya itu. Mungkin jauh lebih cantik dari Violet Celestine yang ia lihat di Sirius.


“Kamu sudah bangun anakku,” kata wanita itu dengan lembut, ia mengelus-elus pipi Regar.


Regar yang tercengang mendengar ucapannya langsung meneteskan air mata. Entah kenapa ia luluh melihat wanita itu, padahal selama ini ia selalu menganggapnya tak ada, walaupun Emanuelle rutin mengirim surat tiap bulan padanya. Namun Regar tak pernah lagi membacanya, apalagi membalasnya. Tak mungkin.


“Aku ibumu Nak,” kata Queen Emanuelle memeluk Regar yang diam saja, karena masih setengah tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. “Ayo kita ke dalam Nak, menjumpai ayahmu,” kata Queen Emanuelle lagi.


Tanpa ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, Regar berjalan bersama Queen Emanuelle yang merangkul tangannya.


“Pangeran Regar Virmilion telah memasuki istana!” seru Prajurit Kerajaan Akkadia yang berjaga di pintu masuk istana.


Karpet merah lansung dikembangkan, Regar senyum-senyum melihat sikap disiplin yang ditunjukkan para Prajurit Kerajaan Akkadia itu. Jauh berbeda dengan sikap Prajurit Kerajaan Sirius yang ia jumpai saat di kota Marseille.


Sesampainya di hadapan Raja Virmilion, Regar lansung bertekuk lutut memberi hormat padanya. Namun Virmilion lansung memintanya agar tak melakukan itu. Karena dia adalah anaknya, walaupun sebenarnya saat ia masih bayi. Virmilion hampir membunuhnya, kalau tak dihalangi oleh Queen Emanuelle.


“Kamu sangat tinggi dan tampan anakku,” kata Virmilion memujinya.


“Ya, iyalah ayah puji. Coba Aku Elf biasa, sudah digantung di alun-alun kota,” sahut Regar akhirnya membuka suara.


“Hahahaha ... ternyata sifat Kakek Ferguson mengalir padamu, ya?” Virmilion tertawa keras, membuat para menteri geleng-geleng kepala melihatnya. “Kenapa tak sifat Nenek Elisabeth saja yang mengalir di darahmu. Takutnya nanti kamu akan berantem terus dengan Violet nanti,” katanya lagi.


Regar bingung mendengar ucapan ayahnya itu. “Memang kenapa dengan Violet?” tanya Regar keheranan.


“Hah? Kamu tak diberi tahu oleh Pangeran Frederick, bahwa pernikahan kalian dimajukan,” sahut Virmilion.


“Bukannya Violet tengah berada di kota Aleppo, bersiap melawan Kerajaan Yakjud di sana,” kata Regar tetap heran, ternyata ia dijemput karena pernikahannya dipercepat.


“Aku juga tidak paham, yang jelas. Pangeran Frederick akan datang kemari bersama Violet bulan depan. Pesta pernikahan kalian akan diadakan besar-besaran dan kamu akan menjadi pria dewasa seutuhnya,” sahut Virmilion dengan senyum lebar terpancar dari wajahnya.


Queen Emanuelle merasa bosan mendengar ocehan suaminya itu. Kemudian menarik tangan Regar, ia membawanya ke ruang makan. Ia yakin anaknya itu sedang lapar sekarang. Ia bahkan rela kursus memasak beberapa hari yang lalu, setelah kabar ditemukannya Regar oleh tim Assassin Pangeran Frederick.


Di meja makan itu telah berjejer makanan mewah dan satu nasi goreng yang bentuknya cukup lain. Regar berencana menghindari duduk di dekat nasi goreng itu. Namun, Queen Emanuelle malah menyodorkan nasi goreng itu padanya.


“Ayo makan Nak, ini adalah nasi goreng buatan ibunda,” katanya.


Dengan berat hati, Regar memakannya hingga habis. Ia berpura-pura mengatakan masakannya sangat enak. Yang padahal aslinya sangat asin dan rasanya entah bagaimana. Namun mau bagaimana lagi, Regar tak ingin menyakiti hatinya.


Queen Emanuelle sangat senang melihat Regar menghabiskan nasi goreng buatannya. Ia kemudian memberikan minuman yang terbuat dari olahan susu padanya.


Regar ragu-ragu meminumnya, ia takut nanti malah berubah menjadi racun. Karena asal di masukkan berbagai macam campuran oleh ibundanya itu. Namun dugaannya salah, ternyata minuman itu sangat enak. Hingga ia menghabiskannya lagi, membuat Queen Emanuelle senang.


...~Bersambung~...