
Pangeran Regar Virmilion duduk bersila, mengalirkan mana ke tubuhnya untuk melakukan sedikit regenerasi menutupi luka-luka yang ia alami, supaya ia lekas kabur dari tempat yang sudah hancur lebur itu.
“Aku sudah menutup sedikit luka pada organ vital, sekarang aku akan kabur dari sini,” gumam Regar berjalan tertatih-tatih menuju kota Aleppo, Provinsi Damaskus.
Sengatan terik matahari di padang rumput yang membentang luas di sepanjang perbatasan antara Provinsi Istanbul dan Damaskus tak dipedulikan oleh Regar. Kini ia lebih takut akan kematian, sesuatu yang pernah ia harapkan dulu.
***
Di pos perbatasan antara Provinsi Damaskus dengan Istambul, rombongan Archer dan beberapa komandan Swordman telah tiba di sana.
Komandan Aland, selaku pemimpin tertinggi Militer Kota Aleppo lansung menyambut kedatangan Ratu Violet Celestine.
“Perintahkan Walikota untuk melakukan rapat darurat sesegera mungkin!”
Itulah perintah yang langsung keluar dari mulut Ratu Violet Celestine. Ia takut, Invasi Kerajaan Yakjud berlanjut hingga ke kota Aleppo, karena para pengungsi dari Provinsi Istanbul baru sampai ke kota ini, tak mungkin juga mereka dipaksa bergerak lagi ke kota berikutnya.
“Siap, Ratu. Perintah Anda akan saya sampaikan!” sahut komandan Aland.
Ia kemudian memerintahkan salah satu Prajurit bergegas lebih dulu ke Kota Aleppo, memberitahu walikota untuk mengatur tempat rapat darurat nanti.
Ratu Violet Celestine berdiri di depan pos perbatasan itu, melihat satu persatu Archer pihaknya memasuki pos perbatasan dengan wajah murung dan cemas.
Tak ada semangat juang yang terpancar dari wajah mereka. Kejadian tadi meninggalkan rasa trauma yang besar, karena mereka mendengar rintihan kesakitan dari rekan-rekan mereka yang terluka dihantam badai panah dari pihak musuh. Sesuatu yang belum pernah mereka rasakan.
Pasukan yang dibawa oleh Ratu Violet Celestine ini adalah para pemula yang belum pernah merasakan perang besar. Sedangkan pasukan inti, yang dulu ikut berperang selama lima belas tahun bersama Raja Celestine telah dimutasi oleh para Panglima Militer ke Provinsi Athena dan Provinsi Torus yang notabenenya adalah wilayah teraman di Kerajaan Sirius.
Ini merupakan upaya pembangkangan secara tak langsung oleh para Panglima itu, karena tak setuju Kerajaan Sirius bekerjasama dengan Kerajaan Akkadia.
Pangeran Pertama dan Pangeran Kedua tetap ngotot mempertahankan perjanjian dengan Kerajaan Akkadia, karena tak ingin terjadi kudeta militer di Kerajaan Sirius dan ini terbukti ampuh. Walaupun mereka melakukan mogok militer sebagai aksi penentangan atas perjanjian itu.
***
Para Archer telah memasuki pos perbatasan, namun para Swordman yang berlari di belakang tadi tak kunjung datang. Membuat Violet merasa khawatir, telah terjadi sesuatu yang mengerikan pada mereka.
“Narnia! Apa kau belum melihat kedatangan mereka?” tanya Violet padanya.
“Aku tak melihat apa-apa Ratu. Apa aku perlu mencari tahu ke sana? Karena sejauh sepuluh mil tak ada tanda-tanda kedatangan mereka,” jawab Narnia.
“Tidak perlu, sepertinya kita harus segera ke kota Aleppo, untuk melakukan rapat darurat,” kata Violet.
Sebenarnya ia takut nanti Narnia di kepung oleh Rank SSS pihak Kerajaan Yakjud. Karena ia mendengar dari Narnia saat di Kota Marseille tadi, bahwa ada sepuluh Rank SSS Goblin yang ikut dalam pengepungan itu.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Kota Aleppo, tanpa ada Prajurit Swordman yang menyertai mereka.
***
Regar yang berjalan cukup jauh dari lokasi kejadian tadi, memutuskan beristirahat di sebuah desa kecil yang tak berpenghuni. Karena penduduknya telah di evakuasi ke Provinsi Damaskus.
“Aku beristirahat di mana, ya?” gumam Regar memperhatikan beberapa bangunan yang ada di desa itu.
Di pintu masuk desa itu sendiri bertulisan, “Desa Evergarden”, ada lima rumah besar yang mungkin milik tuan tanah di sini, di ujung desa sendiri ada beberapa peternakan yang tak ada isinya lagi. Ada lima puluh rumah sederhana dan satu Kuil Matahari, rumah ibadah Ras Elf yang menyembah Dewa Matahari, berbeda dengan Ras Goblin yang menyembah Dewi Bulan.
“Aku sembunyi di rumah sederhana saja. Kalau rumah besar itu, karena ini adalah tempat paling aman daripada rumah besar, yang mungkin diincar oleh pelaku kriminal atau Goblin yang ingin menjarah harta yang tertinggal,” gumam Regar memasuki rumah sederhana yang terletak di tengah.
“Aku sudah kehabisan Mana. Tapi yang tersisa hanyalah luka luar saja lagi, luka dalam sudah sembuh. Aku mencari makanan dulu di rumah penduduk, mana tahu ada sisa-sisa makanan,” gumam Regar berjalan ke dapur rumah sederhana itu.
Rumah itu sendiri sangat berantakan, karena pemiliknya buru-buru memindahkan barang-barang penting untuk di bawa mengungsi.
“Tak ada makanan, yang ada benda-benda tak bisa dimakan saja. Buat apa itu?” gerutu Regar memutuskan memasuki rumah besar saja.
Ia langsung menghancurkan pintu masuk rumah mewah itu, kemudian melihat sekelilingnya.
“Sangat mewah! Samalah dengan kastil kecil di Peternakan Nenek Elisabeth,” gumam Regar lansung menuju dapur rumah mewah itu. “Ah, Aku jadi teringat dengan Nenek. Apa mereka sehat-sehat saja, ya?” Regar memeriksa dapur di rumah mewah itu. Namun lagi-lagi ia dibuat kecewa, karena tak mendapatkan apa-apa, sedangkan cacing diperutnya sudah berdendang ria sejak tadi.
Rumah Mewah tak ada, rumah sederhana apalagi. Akhirnya Regar memutuskan masuk ke Kuil Matahari, mana tahu ada sesuatu yang bisa di makan di sana.
Saat masuk ke dalam Kuil Matahari, Regar sangat terkejut, ia merasakan Mana yang cukup padat dan murni di dalam kuil itu.
“Apa semua Kuil begini, ya?” guman Regar bermeditasi sebentar menyerap Mana.
Regar termasuk penganut agama yang kurang taat. Terakhir kali ia ke kuil adalah saat berusia sepuluh tahun. Namun setelah itu ia tak mau lagi pergi ke Kuil, karena tatapan tak suka terpancar dari jamaah lainnya. Membuat Regar yang telah mengerti dengan maksud tatapan itu, memutuskan tak mau lagi menginjakkan kakinya ke sana.
“Hmm, cuma sebentar Aku berhasil mengisi total 10% Capacity Manaku,” gumam Regar tersenyum lebar. “Yosh, cari buah sajalah, daripada mati kelaparan,” teriak Regar beranjak keluar Kuil Matahari.
“A-aku mau buah!” sebuah suara anak kecil menggema di telinga Regar.
“Apa aku di kutuk Dewa Matahari, karena tak pernah berdoa padanya dan membuat suara halusinasi di telingaku,” gumam Regar ketakutan. Bulu kuduknya langsung berdiri ia melihat ke langit-langit Kuil Matahari yang dipenuhi oleh lukisan dan Aksara Elf yang mengandung kata-kata pujian pada Sang Dewa.
“Kakak! Berikan Noella buah!” Sosok gadis Elf kecil yang kira-kira berusia lima tahun menarik tangan Regar.
“Aaaaaaaaa!” Regar terkejut melompat kebelakang. “Aduh, pinggangku sakit!” gerutu Regar memegangi pinggangnya, karena luka luarnya belum sembuh.
“Hahahaha ... kakak lucu sekali,” kata Elf kecil itu.
Regar memperhatikannya, ia merasa Elf kecil ini memiliki Mana yang sangat besar, namun keluar lagi dari sela-sela tubuhnya.
“Apa jangan-jangan Mana yang kuserap tadi berasal dari gadis kecil ini,” gumam Regar menatapnya tanpa berkedip membuat Noella ketakutan dan kabur bersembunyi di balik patung Dewa Matahari.
Regar berjalan menghampirinya sambil membuka penutup wajahnya dan tersenyum hangat.
“Noella mau buah, kan? Ayo kita cari!” Regar mengulurkan tangan padanya.
Dengan malu-malu, Noella menerima uluran tangan Regar dengan senyum menatapnya.
“A-apa Kakak Malaikat?” tanyanya penasaran. Karena ia melihat Regar berbeda dengan Elf yang biasanya datang ke Kuil Matahari.
Regar menggaruk kepalanya, “Hahaha betul, kakak adalah Malaikat? Noella sendiri, kenapa bisa ada di sini?” Regar bertanya kembali, karena penasaran. Kenapa Penduduk desa Evergarden meninggalkannya.
Noella lansung memasang wajah sedih, namun membuat Regar ingin mencubit pipinya karena tampak menggemaskan dilihat. Ia menatap wajah Regar dan mulai berbicara, yang sebenarnya tak boleh ia ceritakan pada siapapun. Begitulah yang dikatakan Pendeta padanya, namun yang didepannya adalah seorang Malaikat, makanya ia mau bercerita. Padahal ia tak tahu yang ada didepannya adalah Elf terkutuk.
...⚔️Bersambung ⚔️...
***Visual Noella (sumber Pinterest)***