
“Sial! Pangeran Regar Virmilion itu sangat gila. Dia memburu kita seperti tikus saja!” keluh Elamina, Archer Rank SSS yang merupakan salah satu pimpinan Pasukan Revolusioner.
“Bagaimana dengan Pasukan di kota-kota lainnya?” tanya Abraham, ketua Pasukan Revolusioner kota Aleppo yang melarikan diri ke kota Marseille di Provinsi Istanbul, wilayah yang dikuasai oleh Pasukan Yakjud.
“Sepertinya kita sengaja di halau seperti gembala; dengan terpaksa kita harus berhadapan dengan Pasukan Kerajaan Yakjud, sementara Pangeran sialan itu menonton kita saja.” Elamina sangat prustasi dengan nasib yang menimpa mereka.
“Apa kita menyerah saja? Namun, kita para Rank SSS akan dieksekusi, kalau menyerah ke ras Goblin lebih mengerikan lagi, kita akan diperbudak. Dua-duanya sama-sama pilihan yang sulit, tetapi masih mendingan menyerahkan diri pada Pangeran Regar, karena bawahan kita tetap terselamatkan,” kata Abraham—sudah tak punya pilihan lain lagi.
“Aku setuju, tetapi lebih baik Kota Marseille ini kita rebut dulu, agar kita bisa menunjukkan bahwa Pasukan Revolusioner itu juga kuat, kita hanya karena kalah jumlah saja dari mereka,” sahut Elamina setuju dengan usulan Abraham.
Seratus ribu Pasukan Revolusioner itu menggempur pertahanan kota Marseille yang hanya dijaga tiga puluh ribu Pasukan Kerajaan Yakjud saja, hanya dalam setengah hari saja, pertahanan kota yang kokoh itu lansung jatuh ke tangan Pasukan Revolusioner.
Setelah memasuki kota Marseille, Abraham mengirim pesan penyerahan diri Pasukan Revolusioner pada Pangeran Regar Virmilion yang berada di kota Aleppo.
“Aku tak menyangka bocah-bocah yang sok kuat ini, lansung ciut nyalinya. Padahal perang sesungguhnya belum di mulai. Mereka sudah lari pontang-panting, tetapi lumayanlah mereka masih bisa mengusir Pasukan Kerajaan Yakjud dari kota Marseille.” Regar tertawa membaca pesan itu.
“Apa yang akan kita lakukan? Hefaistos telah sampai ke kota Venesia dan tinggal menunggu instruksi saja untuk melakukan invasi ke kota Granada,” sela Violet.
“Mari kita uji kesetiaan Pasukan Revolusioner ini. Kita harus membiarkan mereka menyerang Cordova dan melewati perbatasan tengah yang terjal dan curam itu, Mereka akan menggantikan peran kita melakukan perang gerilya di dalam hutan wilayah tengah Kerajaan Yakjud.”
“Padahal Aku sudah tak sabar perang di tengah-tengah hutan, karena hutan adalah senjata alamiku,” sahut Beleza lesu.
“Tak apa, pinggiran pantai timur juga banyak hutan bakau kok, tetapi Aku juga akan memberikan mereka 100 Robot tempur, takutnya Siluman Cerberus, senjata rahasia Kerajaan Yakjud itu malah memusnahkan mereka di dalam hutan, karena itu adalah wilayah buruannya yang paling bagus, sedangkan Siluman burung tak akan mengejar mereka, karena tingginya lima meter dengan bobot 500 kg, pasti sulit memasuki hutan.”
Photo Cerberus, sumber pinterest
Pangeran Regar Virmilion sebenarnya menjadikan Pasukan Revolusioner sebagai umpan di barisan depan, karena pasukan utama Kerajaan Sirius akan melewati sisi pantai timur, untuk memudahkan membawa logistik dan Manjanik.
“Kalau begitu aku akan membuat surat perintah pada mereka dan kita lansung memulai penyerangan ke kota Malaga dan bertemu dengan Komandan Hefaistos di Kota Granada,” sahut Violet.
“Siap Ratuku,” sahut Regar bertekuk lutut diikuti 200.000 Prajuritnya, sedangkan Hefaistos juga telah membawa 200.000 Prajurit dan 500 Robot tempur.
Violet tersenyum, ia tak menyangka akan memimpin Pasukan sebanyak ini dan nasib Kerajaan Sirius akan ditentukan oleh dalam perang ini apakah berjaya atau lenyap dari peradaban.
***
Di kota Marseille, para pemimpin Pasukan Revolusioner harap-harap cemas menunggu surat balasan dari Pangeran Regar Virmilion yang mereka takutkan itu. Dia seperti Kraken yang melahap kapal kecil seperti mereka saja.
“Tuan Abraham! Surat balasan dari Ratu Violet Celestine telah datang!” seru Prajurit Pasukan Revolusioner menyerahkan surat dengan lambang Ratu, Kerajaan Sirius itu.
“Kenapa Ratu Violet yang membalasnya?” gumam Abraham keringat dingin menerima surat itu, ia lansung membaca isinya.
Elamina dan yang lainnya juga menatap Abraham dengan cemas, apakah mereka akan tetap bisa melihat sinar matahari esok pagi atau tidak.
Wajah Abraham tampak murung, ia menghela nafas dalam-dalam.
“Apa yang terjadi Abraham?” tanya Elamina penasaran.
Elamina dan yang lainnya lansung senang mendengarnya, mereka tak menyangka Ratu Violet Celestine akan sebaik itu, mengingat nasib berbeda yang dialami oleh pimpinan dan elit Kerajaan Sirius Utara yang justru dieksekusi mati.
“Jangan senang dulu,” sela Abraham, “Kita diwajibkan merebut kota Cordova dan menyeberangi perbatasan tengah untuk membuat kekacauan di kota-kota bagian tengah Kerajaan Yakjud.”
“Gila!—Ratu Violet dan Pangeran Regar sama-sama gila. Apakah dia pikir mudah melewati hutan lebat itu dan membuat kekacauan tanpa peralatan militer lainnya?” protes Elamina.
“Setidaknya kita masih diberikan kesempatan berjuang, walaupun hasilnya kita serahkan saja pada Dewa Matahari, apakah kita akan menang atau lenyap,” sahut Pimpinan yang lain.
“Ya, yang penting kita diberikan kesempatan berjuang.”
“Daripada dieksekusi mati, mendingan begini.”
“Tenang dulu semua! Aku belum selesai bicara. Kalian sudah memotongnya,” sela Abraham. “Ratu Violet akan mengirim 100 Rank SSS untuk membantu kita.” Abraham menjelaskan lagi.
“Kenapa ia menyebut Rank SSS, tidak Swordman atau Archer gitu?” sela Elamina heran.
“Sudah yang penting Rank SSS, kita akan berangkat sekarang menuju kota Cordova, supaya gampang mengalahkan Goblin di sana, karena bala bantuan dari wilayah barat tak sempat membantu mereka, bila kita berangkat sekarang. Kalau wilayah timur, Ratu Violet Celestine sendiri yang akan mengambil alih,” kata Abraham.
“Baiklah mari kita habisi para Goblin itu!”
“Benar waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.”
“Ini adalah perang antar Ras—Menentukan Ras mana yang akan lebih unggul. Aku yakin kalau kita menang, Pangeran Regar Virmilion akan menghapus mereka dari peradaban Latinesia ini.”
Para pemimpin Pasukan Revolusioner lansung bersemangat memulai penyerangan ke kota Cordova itu, apalagi mereka akan mendapat bantuan 100 Rank SSS, yang tentu itu sangat kuat. Pasukan Revolusioner saja cuma ada Lima Rank SSS saja.
***
Di kota Diabhal, istana Kerajaan Yakjud; seorang Panglima Militer, Cranio berjalan tergesa-gesa menemui Raja Makjud.
“Lapor Yang Mulia Raja Makjud, saya melaporkan keadaan darurat!”
Raja Makjud yang sedang berdiskusi dengan Cientifica, kepala laboratorium yang merancang senjata rahasia Kerajaan Yakjud—terkejut mendengar ucapan Cranio.
“Apa yang terjadi?” sahut Raja Makjud lansung menghampirinya.
“Wilayah timur Provinsi Istanbul telah diserang oleh Kerajaan Sirius. Kota Marseille jatuh ke tangan Pasukan Revolusioner dan ratusan ribu Pasukan Kerajaan Sirius sudah bergerak dari kota Venesia,” lapor Cranio.
Raja Makjud tersenyum lebar, ia tak menyangka Pangeran Regar Virmilion; Pangeran dari Akkadia yang di sarankan oleh penasehatnya untuk diwaspadai itu, akhirnya bergerak juga. Apalagi ia telah menerima kabar dari badan intelejennya, kalau Anso De Beleza telah menikah dengan Pangeran itu.
“Cientifica, sudah saatnya kita mengeluarkan mereka dari kandang. Dan Cranio, tarik seluruh pasukan dari Provinsi Istanbul. Kita akan perang terbuka dengannya di pantai timur,” perintah Raja Makjud sembari mengepal tangannya.
Ambisinya untuk menguasai seluruh daratan Latinesia akhirnya dimulai lebih awal, walaupun produksi massal senjata rahasia baru terlaksana 60% saja, tetapi ia merasa itu sudah lebih dari cukup.
...~Season Satu Berakhir~...