Prince Regar Virmilion

Prince Regar Virmilion
Kekhawatiran Violet



Kemarahan Anso De Beleza belum memudar, walaupun tubuh Assassin itu telah hancur lebur dan hanya menyisakan lumuran darah saja membasahi jalanan.


Pangeran Regar terkejut, ternyata istrinya hilang kendali. “Mungkinkah ini pertama kalinya ia membunuh musuh?” Regar berpikir cara menghentikannya. Dia kemudian memeluk Beleza dan berkata, “Sudah, hentikan sayang!”


Beleza tersadar, ia ternyata telah berlebihan. Karena bukan hanya Assassin itu lagi yang dilumat oleh tanaman merambat-nya, tetapi rumah-rumah penduduk disekitarnya juga terdampak.


“Pa-Pangeran!” Beleza menangis tersedu-sedu, “maafkan Aku,” katanya lagi merasa bersalah.


“Kenapa kamu merasa bersalah,” sahut Regar dengan senyum lebar dan membelai rambutnya. “Kamu sudah melakukan yang terbaik, mari kita kembali; takutnya Violet juga menjadi incaran mereka.”


Vin tercengang saat ia sampai di taman kota yang sudah hancur berantakan. Banyak lubang-lubang besar menganga dan pepohonan yang tumbang—menandakan telah terjadi pertarungan sengit di situ.


Vin panik, ia langsung melompat ke atap rumah penduduk dan melihat makhluk aneh arah istana.


Saat Vin akan menyusul ke sana, ia mendengar jeritan kesakitan, sehingga ia makin panik. Apakah ia terlambat menyelamatkan Pangeran Regar—mau ditaruh di mana nanti mukanya saat menghadap Raja Virmilion; bila anak bungsunya itu tewas dalam penjagaan Vin.


“Sial!—Mudah-mudahan Aku tidak terlambat, kedua Robot tempur yang dibawa Pangeran Regar sudah hancur, mungkin ia ....”


“Vin, kenapa kamu terlambat?” Tiba-tiba Isabella muncul dibelakangnya. “Untung saja, Nona Beleza sangat kuat. Dia seperti penyihir dalam dunia dongeng saja. Kau lihat monster pohon itu!”


Vin mengangguk, “Apakah itu dari sihirnya?—Kalau Pendeta Agung mengetahui itu, dia bisa dirajam sampai mati,” kata Vin bergidik ketakutan.


Karena dalam penganut penyembah Dewa Matahari; Sihir itu dilarang selama berabad-abad, begitu juga dengan penganut Dewi Bulan pada Ras Goblin. Namun, entah bagaimana caranya para peneliti di laboratorium Kerajaan Yakjud menggali kembali mitos tersebut.


Isabella tertawa mendengar ucapan Vin.


“Tidak mungkin Pendeta Agung berani menghukumnya, kalau Raja Virmilion tak mendukung mereka,” sahut Isabella. “Kau tidak ingat, Pangeran Regar; Elf terkutuk itu harusnya dirajam sampai mati ... nyatanya Queen Emanuelle menolak, Raja Virmilion juga menolak dan pihak Kuil Cahaya akhirnya diam saja.”


“Benar juga, ya!”


Vin merasa dirinya terlalu jauh memikirkan itu, apalagi ia sudah melihat watak Pangeran Regar yang menabrak semua aturan yang menurutnya sudah tak layak lagi digunakan di zaman sekarang.


Keduanya menyusulnya Regar dan Beleza yang masih menangis tersedu-sedu di pelukan Regar.


“Pangeran!”


Vin dan Isabella berlutut memberi hormat.


“Oh, kalian. Bagaimana dengan Archer Rank SSS satu lagi? Apakah sudah teratasi. Dan Vin tolong perintahkan Prajurit untuk mengevakuasi Robot tempur yang rusak itu.”


“Baik, Pangeran. Saya undur diri, untuk pengawalan Anda, saya serahkan pada Komandan Isabella,” sahut Vin.


“Isabella, duluan saja ke istana. Tidak terjadi masalah dengan Violet, kan?” Regar mengkhawatirkan keselamatannya.


“Hanya ada dua musuh saja Pangeran. Komandan Charlotte telah mengatasinya, dan yang mengirim mereka adalah Raja Harrison,” sahut Isabella.


Regar tidak terkejut, sudah wajar Harrison melakukan itu. Karena sebelumnya ia sudah membunuh Pangeran Darian, justru Regar heran, kenapa Harrison cuma mengirim dua Assassin Rank SSS saja. Apakah ia meremehkan kekuatan Ratu Violet yang baru? atau mata-matanya tidak mengabari Harrison tentang kekuatan militer Sirius.


“Kalian boleh bubar. Kami juga akan ke istana, sepertinya kita harus menunda keberangkatan ke kota Ars beberapa hari kedepan. Aku harus memulihkan Mana milikku yang telah habis.”


Isabella lansung menuju istana, sedangkan Vin menuju taman kota dan mengatur kembali keamanan ibukota, serta meyakinkan penduduk, kalau kota Ereck telah aman.


Penduduk kota Ereck pasti akan ketakutan untuk kembali ke rumah masing-masing. Apalagi dalam sehari ini ada dua kejadian yang tak mengenakkan terjadi, yaitu penangkapan besar-besaran pada demostran yang merasa pemerintahan Ratu Violet yang lemah dan serbuan Rank SSS yang menghancurkan rumah-rumah mereka.


***


“Mengerikan sekali pertarungan ini!”


“Berarti Pangeran Regar Virmilion sangat kuat, ya. Dia bisa mengalahkan Assassin Rank SSS.”


“Wajarlah, dia dibantu oleh dua Robot tempur.”


“Kan, Robot tempur setara Rank SS saja, sementara ia cuma Rank Platinum. Sudah jelas dia memang sangat kuat, apalagi nanti sudah Rank SSS, tak terbayangkan—bagaimana kekuatannya nanti.”


Vin mendengar percakapan para Prajurit itu, ia kemudian berdehem, sehingga mereka lansung memberi hormat.


“Cepat evakuasi Robot tempur ini, jangan ada bagian yang tertinggal. Bawa semuanya, dan regu dua, empat serta lima, paksa penduduk ke kembali ke rumah masing-masing. Sedangkan untuk penduduk rumahnya yang hancur, akan tinggal sementara di Pangkalan Militer,” perintah Vin pada Prajurit.


“Siap Komandan! Regu dua akan ke utara!”


“Regu empat ke timur!”


“Regu lima ke selatan!”


Tiga regu itu lansung meninggalkan taman kota, sedangkan regu satu mengamankan area taman kota dan regu tiga membawa bangkai Robot tempur kembali ke Pangkalan Militer.


***


“Pangeran!” Violet lansung berlari kecil dengan rambut masih acak-acakan, karena beberapa hari ini ia terlalu berduka cita dengan kematian kakaknya, Pangeran Darian, sehingga tak pernah keramas dan mengurung diri di kamar. “Kamu tidak apa-apa kan,” katanya lagi sembari menangis tersedu-sedu. “Aku mengira kita tak akan bertemu lagi.”


Regar membelai rambutnya, “hahaha ... mana mungkin Elf terkutuk bisa di bunuh dengan mudah. Di butuhkan satu benua untuk mengambil nyawaku.” Regar bercanda.


“Ih, jangan bercanda begitu. Aku takut, nih!” Violet menggerutu dan memukul-mukul dadanya.


“Aaaaaaa, panggil tabib!—Tulung!”


“Pa-Pangeran!” Violet panik menahan tubuh Regar agar tak ambruk, begitu juga dengan Beleza dan beberapa Prajurit ikutan panik melihatnya. “Aku cuma memukul pelan, kenapa bisa begini.” Violet makin menangis histeris.


“Hahahaha ... ternyata kalian benar-benar mencintaiku.” Regar tertawa dan lansung berdiri lagi. “Aku cuma bercanda, melihat apakah kalian sudah tulus mencintaiku atau tidak,” katanya lagi.


Violet merajuk lansung berlari masuk ke dalam istana, walaupun sebenarnya terpancar seutas senyum di wajahnya.


“Ah, maafkan aku sayang!” Regar mengejarnya, ia takut nanti Violet mengurung diri lagi di kamarnya.


“Dasar Pangeran! Di saat-saat seperti ini masih bercanda,” keluh Belaza mencubit pinggangnya saat Regar menangkap tangan Violet.


“Sakit! Sakit!” Regar berusaha lepas dari cubitan Beleza.


“Rasakan ini juga!” seru Violet ikut mencubit pinggang Regar yang merasa kesakitan, karena mereka mencubit menggunakan tenaga dalam, semenjak ia sudah tak memiliki Mana lagi.


Para Prajurit berusaha menahan tawa melihat tingkah Ratu Kerajaan Sirius dan Panglima Militer mereka itu, sedangkan Charlotte dan Isabella memilih diam, karena tak ingin mengganggu kesenangan mereka.


...~Bersambung~...