
“Pangeran! Tolong jangan bersikap arogan begitu! Aku tahu kepemimpinanku sangat lemah. Tidak didukung militer atau para menteri, cuma kakak Frederick dan Darian saja yang selama ini mendukungku, makanya aku tetap bisa menjadi Ratu Kerajaan Sirius.”
Dengan suara bergetar diiringi air mata yang membasahi pipinya, Violet Celestine mengungkapkan uneg-uneg yang ia simpan rapat-rapat selama ini.
“Aku bahkan dengan sukarela dinikahkan denganmu atas permintaan kakak Frederick supaya tidak ada kekuatan yang melakukan kudeta dan merebut tahtaku. Namun, kini kamu malah menyingkirkan Elf-Elf sekitarku,” protes Violet.
“Kan, kamu sendiri yang mengaku lembek begitu. Nah, sekarang aku membantumu agar menjadi pemimpin kuat, kamu malah dengan tegas menolaknya. Padahal kepada Elf lain kamu bersikap lembut.” Pangeran Regar Virmilion menjawab pernyataannya itu. “Apakah kamu dari awal tidak suka kepadaku? atau reaksimu itu karena Aku memisahkan pertemanan kalian?”
Violet tidak bisa menjawab pertanyaan Regar itu, ia menggigit bibir bawahnya sembari menatap Sebastian dan Regar secara bergantian. Ia merenungi ucapan suaminya itu, ada apa dengan dirinya saat ini? Violet sungguh kebingungan, ia hanya bisa menangis saja.
Melihat Violet malah menangis semakin menjadi. Regar menatap Sebastian yang masih berdiri.
“Kenapa kamu masih berdiri di situ. Apa kamu ingin mencampuri urusan rumah tangga Komandanmu?” tanya Regar dengan seutas senyum terpancar di wajahnya.
Sebastian tahu senyuman itu bukanlah karena ia sedang bermurah hati. Namun, pasti ada makna tersirat yang dapat membahayakan dirinya.
Dengan hati yang kecewa, Sebastian segera menuju pintu dan ia melirik sekilas Violet yang menangis sembari menundukkan kepalanya.
“Violet! Semoga saja kamu tidak kenapa-kenapa. Sungguh malang sekali nasibmu, sudah mendapatkan suami terkutuk, kejam lagi,” gumam Sebastian menuju ruangannya untuk mengemasi barang-barangnya dan mengirim pesan pada seluruh Pasukan Pengawal Ratu menuju Benteng Ibukota, bergabung dengan Pasukan Pangeran Darian yang menjaga benteng itu selama ini.
“Aku akan melupakan kejadian ini, ayo kita tidur. Masalah dokumen itu, biarkan Charlotte dan yang lainnya membantumu.” Regar menyeka air mata Violet yang ketakutan dimarahi lagi olehnya. “Kita akan menyingkirkan semua rayap yang menggerogoti singgasanamu. Mulai besok akan banyak lagi Elf yang dibuang dari istana ini,” katanya lagi sembari menarik tangan Violet agar segera bergegas meninggalkan ruangan kerjanya itu.
Violet hanya menurut saja. Seumur hidupnya, baru kali ini ada Elf yang berani membentaknya. Bahkan para jenderal yang membangkang padanya saja tidak pernah melakukan itu. Makanya mentalnya lansung turun saat Regar memarahinya.
“Ke-kenapa mereka diusir juga?” tanya Violet dengan suara terbata-bata, ia sebenarnya ketakutan. Namun, ia juga penasaran kenapa suaminya itu melakukan tindakan nekad yang dapat memicu reaksi dari Militer itu.
“Buat apa kita memperkejakan Koruptor! Walaupun mereka hebat dalam bidangnya, tetapi korupsi juga. Mendingan kita memperkejakan pegawai yang biasa-biasa saja, tetapi dia jujur,” sahut Regar.
Violet hanya mengangguk, ia menjadi kebingungan. Apakah Regar tulus membantunya atau malah memiliki ambisi seperti Militer. Ingin merebut tahtanya.
“Sebenarnya kalau kamu tidak mau menikah denganku katakan saja.” Regar melirik Violet yang berjalan sambil melamun memikirkan sesuatu. “Aku sudah tahu kamu dan Sebastian saling menyukai. Mulai sekarang kamu harus memilih dia atau Aku. Kalau kamu memilih dia, aku bisa dengan sukarela menceraikanmu dan kembali ke Akkadia. Toh, di sana aku juga bisa menjadi Gubernur. Namun, bila kamu memilihku, jangan pernah berjumpa dengannya lagi tanpa persetujuanku. Ingat aku ini Elf normal, walaupun tampangku mirip manusia bumi. Eh, kamu tidak akan tahu Planet itu hahaha ....”
Pangeran Regar tertawa, ia mengingat kalau tampangnya mirip dengan Setiawan. Manusia yang melatihnya dulu.
“Lelaki mana yang tidak cemburu melihat istrinya berduaan dengan lelaki lain. Bahkan diluar sana, bisa bunuh-bunuhan bila melihat istrinya malah bermesraan dengan lelaki lain. Untung saja tadi itu Aku masih sabar dan tahu kalian pasti menjaga batasan untuk saat ini. Namun, jika itu terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan kalian akan bermain di belakangku. Ah, jadi teringat lagu D‘bagisdas yang ada dalam pemutar musik milik Paman Setiawan dulu.”
Violet akhirnya menyadari kesalahannya. Kenapa suaminya sangat marah tadi, ternyata kedekatannya dengan Sebastianlah yang membuat suaminya marah karena cemburu. Belum lagi suaminya telah tahu ia menyukai Sebastian juga.
Violet menghela nafas dalam-dalam, ia menyadari. Mulai saat ini, ia tidak boleh sembarangan bertemu dengan Elf laki-laki, harus ada Archer yang menemaninya.
Tak lama berselang, keduanya memasuki kamar Violet. Regar cukup terkesan melihat keadaan kamar yang serba putih itu. Baik bantal, selimut dan benda-benda lain yang menghiasi kamar itu.
“Ehemm ....” Regar berdehem, kemudian Violet menatapnya. Ia sudah berhenti menangis, tetapi matanya masih kelihatan merah dan sedikit membengkak. “Siapa yang kamu pilih? Kamu belum menjawabnya lho,” tanyanya dengan senyum lebar.
Violet menutup pintu kamar dan berjalan ke atas ranjang tempat tidur.
Regar lansung mengikutinya, karena tindakannya itu sudah menunjukkan jawabannya. Akhirnya Violet lebih memilihnya.
“Hehehe ... Aku akan melakukannya dengan lembut,” bisik Regar sembari mengecup pipinya.
“Ki-kita tunda dulu Pangeran! Aku lagi datang!” sahut Violet dengan nafas tersengal-sengal, ia gugup sekali. Karena berduaan di atas ranjang dengan pria yang baru beberapa hari ia kenal itu.
“Ah, sial terus, nih. Padahal sudah beberapa hari kita menikah, tetapi selalu gagal enak-enakan. Apa kita tidak ditakdirkan bersama, ya?” gerutu Regar menarik selimut menutupi setengah badannya.
“Sa-sabar! Kan, tidak selamanya akan begini,” sahut Violet berusaha menghiburnya. Kini ia mencoba mengambil hati Pangeran terkutuk itu agar tidak membencinya lagi. Karena ia tidak memiliki teman lagi di ibukota ini. Kedua kakaknya berada di kota berbeda, sedangkan sahabatnya Sebastian telah diusir. Secara otomatis, ia seperti sebatang kara di rumah sendiri.
“Aku cuma bercanda,” sahut Regar sembari mengelus rambut Violet. Ia teringat dengan ucapan Swordman bawahannya, wanita itu harus diperlakukan dengan lembut, agar ia merasa nyaman. Walaupun awalnya ia tidak menyukai kita, tetapi dengan berjalannya waktu rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. “Kamu tidur ya, sayang. Pasti kamu lelah karena melakukan perjalanan panjang dari Akkadia,” katanya lagi.
Entah mengapa, Violet merasa tenang dengan belaiannya itu. Ia merasa suaminya memiliki kepribadian ganda, padahal baru beberapa menit yang lalu ia seperti monster yang mengintimidasi. Namun, kini ia menjelma seperti malaikat yang membuat nyaman dirinya.
Violet memejamkan matanya, ia ingin bermimpi indah. Melupakannya kesedihan yang ia alami tadi. Pangeran Regar tersenyum melihat wajah cantik Violet yang telah terlelap tidur. Ia kemudian memejamkan matanya juga, melepas penatnya.
...~Bersambung~...
***
Jangan lupa di Laik, ya 😁
Kenapa Pangeran Regar lemah Thor?
Dia bukan lemah, walaupun Rank-nya masih Rank Gold, tapi Capacity Mana yang ia miliki setara dengan Rank S, yang berarti ia bisa mengimbangi kekuatan Rank S bila berduel satu lawan satu.
Berarti dia O.P kan, itu semua berkat pelatihan yang ia lakukan di desa dulu saat bersama Setiawan. Mereka telah menemukan metode mempercepat proses menyerap Mana, tetapi ia tidak mau memberitahu cara itu pada pihak lain. Karena ia ingin menjadi Swordman terhebat di daratan Latinesia.
Sebenarnya, jawaban ini telah dijabarkan di chapter-chapter awal bila kalian perhatikan dengan teliti.😁😁😁