
Pangeran Regar Virmilion tersenyum lebar, ternyata cukup satu korban saja untuk merebut Kastil Pangkalan Militer ibukota itu. Dia memandangi 5000 Prajurit yang bertekuk lutut memberi hormat padanya.
“Hormat Pangeran—Kami siap menerima hukuman dari Panglima Militer Kerajaan Sirius yang baru atas kesalahan kami, karena menolak perintah Anda!” seru Eren dengan suara bergetar, ia yakin nasibnya akan sama seperti Erick Albert. Dia tak melawan karena ingin 5000 Prajurit lainnya tidak dihukum mati oleh Pangeran Regar, sebab mereka hanya mengikuti perintah atasan saja.
Frans berlari menghampiri Regar dan menyerahkan Pedang Queen E.ve padanya.
“Bagus Frans!” Regar tersenyum lebar, karena ia menyelesaikan tugasnya dengan cepat. “Sekarang panggil Komandan Hefaistos kemari!” Perintahnya lagi.
Tanpa menunggu lama, ia langsung menaiki kudanya dan memacunya ke arah barisan Hefaistos.
Regar menempelkan Pedang Queen E.ve pada pundak Eren yang lansung memejamkan matanya, karena yakin hidupnya telah berakhir.
“Ah, maafkan aku istriku ... Elisa, maafkan ayah tak bisa melihat senyum manismu lagi,” gumam Eren membayangkan putrinya yang baru berusia dua tahun. Berat rasanya bagi Eren meninggalkan keduanya, ia berpikir; bagaimana nasib mereka setelah ia tiada. Apakah senyuman Elisa tetap ada? Ataukah mereka akan dihukum mati juga oleh Pangeran Regar?—Eren hanya bisa menghela nafas dalam-dalam dan tak terasa butiran air mata mulai membasahi pipinya.
“Tolong jangan hukum mati Komandan Eren. Dia hanya menuruti perintah atasan saja! Sebagai gantinya hukum mati aku saja!” Tiba-tiba salah satu Prajurit berdiri dan berkata lantang.
Regar menatap Prajurit itu, ia tak mengerti apa yang ada dalam pikirannya. Kenapa ia rela bertukar nyawa dengan Komandannya?
“Kami siap menggantikan Komandan Eren dihukum mati!” seru seluruh Prajurit lainnya sembari bersujud di lantai.
Regar sangat terkejut, apakah Eren komandan yang baik dimata mereka? Kenapa hal yang sama tidak terjadi pada Erick Albert tadi.
“Kalau kalian begitu menginginkan kematian. Baiklah kalian semua akan dihukum mati!” seru Regar ingin melihat reaksi mereka.
Eren lansung berdiri, “Kalian jangan bodoh! Ingat keluarga di rumah! Ada ibu, istri, adik atau anak kalian menunggu kepulangan kalian; jangan bertindak bodoh—sudah sewajarnya aku sebagai pimpinan kalian menerima hukuman ini, karena melanggar perintah Ratu Violet Celestine. Itu adalah pelanggan berat, yang tak bisa dimaafkan.” Eren berusaha meyakinkan bawahannya agar tidak membelanya lagi.
Para Prajurit itu mulai menangis, ada menghunus pedangnya bersiap menyerang Regar. Karena percuma saja menyerah, kalau komandan yang mereka cintai itu mati juga. Tindakan Prajurit itu diikuti yang lainnya, membuat Eren panik, sedangkan Regar tetap tenang dan tersenyum lebar, membuat mereka makin marah saja.
“Siapa yang melangkah ke depan; akan berhadapan denganku!” Eren mengancam mereka agar tidak melakukan tindakan nekad itu.
Prajurit yang ingin menyerang Regar, terpaksa menghentikan langkahnya. Karena tak ingin berhadapan dengan Eren. Mereka meletakkan Pedang mereka dan menangis tersedu-sedu.
Regar memang sengaja tersenyum lebar untuk memancing reaksi mereka. Melihat sejauh mana kesungguhan mereka untuk bergabung dengan pasukan di bawah pimpinannya, sebagai Panglima Militer yang baru.
Hefaistos menghampiri Regar—Eren dan bawahannya langsung menelan ludah mereka, karena gemetar melihat Swordman Rank SSS itu. Kalau Hefaistos bertindak, cukup sekali ayunan pedangnya saja untuk melenyapkan mereka.
“Apa yang akan kita lakukan pada mereka Pangeran?” tanya Hefaistos, bingung melihat mereka yang tampak pasrah dan sebagian menangis tersedu-sedu.
Para Prajurit itu ingin sekali menampol kepala suami Ratu Violet Celestine itu, karena ia bermain-main dengan nyawa mereka. Namun, mau bagaimana lagi, ia lebih berkuasa dari mereka.
“Terimakasih Pangeran! Kami akan segera meninggalkan Kastil ini.” Eren bertekuk lutut memberi hormat padanya, ia tampak senang sekali. Walaupun bawahannya tampak menggerutu setelah mendengar penjelasan dari Regar.
“Ingat! Kalian hanya boleh menuruti perintah dari Militer yang mengakui kepemimpinan Ratu Violet Celestine. Selain itu, adalah pemberontak dan hukuman matilah bagi yang menolak perintah Ratu Violet Celestine.” Regar menegaskan kembali, agar mereka tidak berpikir untuk membelot nantinya.
Eren lansung mengiyakan dan bergegas meninggalkan Kastil Pangkalan Militer menuju benteng perbatasan yang dijaga oleh Pasukan Pangeran Darian.
Regar memasuki Kastil besar itu, yang dapat menampung 500.000 Prajurit. Mulai hari ini, Prajuritnya tak perlu lagi menyewa penginapan dan Prajurit baru akan lebih mudah dilatih di sini, karena memiliki fasilitas latihan yang lengkap.
Dia langsung menuju gudang logistik, karena menurut Violet, di sanalah disimpan barang-barang peninggalan Alien yang mampir ke Kerajaan Sirius satu juta tahun yang lalu. Dia penasaran teknologi apa yang ditinggalkan oleh alien itu. Kalau Sebastian ia membawa Senapan SS-2, Pistol G-2, teropong, baju kamuflase dan perlengkapan ringan Militer lainnya.
Regar sampai di depan pintu gudang logistik yang sangat besar. Pintu itu terbuat dari besi, sehingga dibutuhkan beberapa Prajurit membukanya.
“Hmm ... gudang yang bagus, barang-barang didalamnya masih lengkap. Pantaslah Jendral tua itu ingin Kastil ini dipertahankan,” gumam Regar.
Berjejer Pedang berbagai ukuran di pajang dalam gudang itu, mungkin seribu lebih Manjanik juga berjejer rapi.
“Sangat disayangkan Manjanik ini cuma jadi penghias gudang saja. Sementara di perbatasan militer Sirius bertahan dengan senjata apa adanya saja.” Regar tercengang melihatnya. “Hefaistos bagikan Manjanik ini ke semua benteng-benteng pertahanan di perbatasan. Kirim juga sebagian untuk Pangeran Frederick dan Pangeran Darian,” katanya lagi.
“Baik Pangeran. Saya akan mengatur pengirimannya secepat mungkin,” sahut Hefaistos.
Regar masuk lebih dalam ke gudang logistik itu, karena ia belum menemukan senjata peninggalan Alien yang mampir di Kerajaan Sirius itu. Dia berkeliling cukup lama, tetapi tak menemukan keberadaannya.
“Cih, jangan-jangan para Jenderal tua itu membawanya ke Provinsi Athena atau Torus,” keluh Regar sudah kelelahan mencarinya.
“Pangeran! Kami menemukan ruang bawah tanah!” seru salah satu Prajurit.
Dia secara tak sengaja menemukan pintu ke ruang bawah tanah itu, setelah mendorong Manjanik yang bentuknya sudah tua dan tak layak pakai. Dia ingin membawa Manjanik tua itu keluar gudang untuk dibongkar dan didaur ulang kembali. Karena ia berprofesi sebagai Prajurit mekanik, tentu saja jiwa montirnya akan bergejolak saat melihat Manjanik tua itu. Begitulah awal mula ia menemukan pintu ruang bawah tanah itu.
Regar lansung memerintahkan mereka untuk membuka pintu ruang bawah tanah yang terkunci rapat dengan pintu besi juga. Sehingga dibutuhkan waktu cukup lama untuk membongkarnya.
...~Bersambung~...