
Traidor tak menyangka jalur menuju Provinsi Istanbul, Kerajaan Sirius telah di jaga ketat. Dia curiga para Prajurit penjaga perbatasan itu telah mendapat informasi dari kota Diabhal.
Traidor memutuskan berjalan kaki melewati pegunungan terjal yang membelah Kerajaan Yakjud dengan Kerajaan Sirius. Langkah ini terpaksa ia ambil, agar tidak membahayakan keselamatan mereka.
“Cih, tebing itu terlalu tinggi. Kita akan mencari jalan lain,” keluh Traidor.
Langkah mereka terhenti akibat tebing batu setinggi ratusan tombak menghadang mereka. Padahal dibalik tebing batu itu adalah Kerajaan Assiria. Kalau mencari jalan lain, kemungkinan besar akan membutuhkan waktu yang lama, sedangkan melompat tinggi tak akan sampai.
“Tidak perlu tuan Traidor, biar aku gunakan kekuatan sihirku ini,” sela Anso De Beleza.
Tongkat kayu yang selalu ia bawa mengeluarkan tanaman merambat yang menjalar ke puncak tebing batu.
Traidor sangat terkesan melihatnya, ia merasa wajar Beleza menjadi salah satu senjata rahasia yang disiapkan oleh Raja Makjud. Bila digunakan dalam medan perang, itu dapat melilit ratusan atau bahkan ribuan pasukan musuh.
“Apa ini kuat?” Traidor mencoba menarik tanaman rambat itu, tetapi tak bergerak sedikitpun seperti menarik batang pohon. “Ternyata sangat kuat. Ayo naik ke punggungku,” katanya lagi tanpa menunggu jawaban pertanyaan pertamanya tadi.
“Tidak perlu, tanaman ini adalah aku; aku adalah tanaman.” Beleza membuat pernyataan yang membingungkan Traidor.
“Aku tak menger—” Traidor tiba-tiba bingung, Beleza sudah tak ada dibelakangnya. Dia kemudian menoleh ke atas tebing, karena mendengar suara tawa Beleza. “Ternyata itu maksudnya,” gumam Traidor mendaki tebing itu dengan memanjat tanaman rambat yang Beleza buat.
Beleza menikmati pemandangan hutan lebat di sisi Kerajaan Yakjud dan di sisi Kerajaan Sirius adalah hamparan padang rumput seluas mata memandang.
Beleza merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara segar yang telah lama ia idamkan itu. Karena selama ini ia selalu berada di ruangan kecil di laboratorium dan tak pernah diperbolehkan keluar dari sana.
Beleza menoleh ke bawah, karena Traidor cukup lama mendaki tebing batu itu. Padahal sudah dipermudah dengan tanaman merambat.
“Tuan Traidor, apakah Anda butuh bantuan?” tanya Beleza dengan senyum lebar.
“Aku bisa sendiri,” sahut Traidor.
Dia mengira kalau menerima bantuan Beleza, maka ia akan digendong olehnya. Tentu saja ia akan malu, masa ia digendong oleh wanita. Walaupun Beleza tak tahu masuk Ras Elf atau Goblin dan bisa jadi Ras baru.
Beleza menghentakkan tongkat kayunya, sehingga tanaman merambat itu masuk kembali ke dalam tongkat kayu. Traidor terkejut tiba-tiba ia seperti diseret ke atas, ia memegang tanaman merambat itu dengan kencang agar tak jatuh.
“Selamat datang di kerajaan Sirius tuan Traidor,” sambut Belize mengulurkan tangan menarik Traidor ke atas tebing.
Traidor menerima uluran tangannya dengan mimik wajah sedikit kesal. Karena beberapa kali tubuhnya menghantam tebing saat hembusan angin menggoyangkan tanaman merambat itu.
“Mereka datang!” pekik Traidor menarik Pedang kembar dari punggungnya. ”Turunlah lebih dulu, aku akan segera menyusul.” Traidor menunggu anak panah dari Archer Goblin Rank Platinum.
“Booommm!”
Traidor dengan mudah menangkis anak panah itu, karena ia satu tingkat lebih tinggi Rank-nya. Dia cuma khawatir Beleza terkena dampak serangan anak panah itu, makanya memutuskan menyuruh Beleza turun lebih dulu. Apalagi Beleza tak memiliki level, ia belum pernah diuji apakah kuat berhadapan dengan Swordman atau Archer. Karena pihak laboratorium takut hasil penelitian mereka itu mati dan memutuskan akan menguji Beleza saat ia sudah dewasa saja.
Traidor meraih tanaman merambat yang mencengkram sebuah batu besar. Traidor berseluncur ke bawah tebing yang berada di sisi Kerajaan Sirius.
Traidor dan Beleza terus berlari, mereka tahu pasti pasukan Kerajaan Yakjud yang berada di Provinsi Istanbul akan melakukan pencarian keberadaan mereka. Mulai dari situ, perjalanan menantang maut mereka segera di mulai.
Lawan mereka bukan lagi Ras Goblin, tetapi Elf juga tak akan mudah menerima keberadaan Beleza. Sikap rasis selalu tercipta saat kau berbeda diantara yang lain.
Mereka hanya beristirahat sebentar dan terus bergerak ke arah Provinsi Damaskus. Bahkan saat malam hari, mereka tetap berjalan dengan bermodalkan cahaya bulan sebagai penerang jalan mereka.
“Kita sudah sampai di perbatasan provinsi Istanbul dengan provinsi Damaskus. Aku melihat ada beberapa Elf yang berjaga di gerbang masuk,” kata Beleza yang memiliki penglihatan seperti mata Archer Rank Gold, walaupun tak terlalu jauh. Namun, cukup berguna melihat keberadaan musuh di depan mereka.
Traidor mengikat kain putih di ujung bilah pedangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi, seraya terus melangkah ke arah gerbang masuk Provinsi Damaskus.
“Buat apa itu tuan Traidor?” Beleza penasaran dengan yang dilakukan olehnya itu.
“Kain itu sebagai penanda menyerah atau mengajak damai. Kalau kita berjalan begitu saja, kita bisa disangka musuh dan lansung di serang,” sahut Traidor.
Beleza akhirnya mengerti, ia kemudian berjalan dibelakang Traidor sembari memperhatikan sekumpulan Elf di pos jaga.
“Ada satu Goblin yang mendekat dengan menunjukkan bendera putih dan satu lagi entah makhluk apa di belakangnya. Mungkin makhluk terkutuk seperti Pangeran Regar Virmilion. Namun, dia bertanduk seperti kambing, kulitnya seperti kulit kita. Ini aneh?”
Archer Rank Diamond yang ikut berjaga di pos, bingung dengan penampilan Beleza.
“Biarkan saja mereka mendekat. Aku akan panggil Komandan Sebastian,” sahut salah satu Swordman Rank Diamond.
Dia memacu kuda menuju desa Prosperous yang berada hanya dua ratus meter saja dari pos perbatasan.
“Komandan Sebastian! Kita kedatangan dua Goblin. Mereka menunjukkan bendera putih, kemungkinan bukan untuk bertarung, bisa saja mereka menanyakan keberadaan Goblin yang dibunuh oleh Pasukan Revolusioner dulu.
“Ayo kita ke sana. Tetap tinggal di sini sebagian, sisanya ikut aku ke pos perbatasan,” sahut Sebastian mengambil Pedangnya yang tergeletak di atas meja.
Sebastian sangat berhati-hati mengambil tindakan, karena jumlah mereka sedikit. Beberapa anak buahnya berada di desa-desa lain. Dia takut nanti, Goblin itu hanya memancing mereka pos perbatasan saja dan mengepung desa Prosperous dari sisi lain.
***
“Sepertinya mereka tidak menyerang kita tuan Traidor,” bisik Beleza yang mengintip ke depan dari balik punggung Traidor.
“Kamu nanti diam saja, takutnya mereka salah paham dan menganggap kita akan menyerang mereka. Biarkan aku yang bernegosiasi,” sahut Traidor pelan.
“Hmm ....” sahut Beleza tersenyum tipis melihat Elf-Elf tampan di pos perbatasan itu.
Tiba-tiba detak jantung Beleza berdebar-debar, tak kala melihat wajah tampan Sebastian turun dari kudanya. Dia mengenakan pakaian beramor besi yang terbuat dari tenaga dalam. Namun, kepalanya tidak dilapisi tenaga dalam karena, Goblin yang datang itu membawa bendera putih.
Traidor berhenti melangkah lima tombak dari pos perbatasan. Di hadapannya berdiri Sebastian menatap Traidor dan Beleza dengan senyum hangat.
...~Bersambung~...