
“Apaaaaa? Pernikahanku dengan Pangeran terkutuk itu dimajukan!” seru Violet Celestine terkejut mendengar ucapan Pangeran Frederick Celestine yang memberi tahu kenapa ia dipanggil pulang secara mendadak.
“Ini demi Kerajaan Sirius juga. Kamu sudah melihat, ‘kan? Kalau para jenderal tua itu tak ada yang mau mengirim bala bantuan dikala Kerajaan Yakjud merebut provinsi Istanbul. Bahkan sekarang kita sedang berjuang mempertahankan ibukota ini dengan Pasukan milikku dan Pasukan milik darian.” Frederick memberi tahu alasannya memajukan pernikahan itu. “Aku tahu kamu menyukai Sebastian, tapi mulai sekarang lupakan saja dia. Aku mendengar kabar, bahwa Pangeran Regar Virmilion telah diberikan 100.000 Prajurit kuat, bahkan dua kali lebih kuat dari milikku.”
Violet hanya bisa menggerutu, ia tak mengira pernikahannya itu akan dimajukan. Dengan air mata berderaian membasahi pipinya, ia berlari ke dalam kamarnya dan menangis histeris.
Frederick mengikutinya, karena takut ia bunuh diri atau kabur.
“Violet! Kamu sudah dewasa. Cobalah renungkan sejenak, apa yang kamu dapatkan bila menikah dengan Sebastian. Palingan cinta sesaat dan Kerajaan ini hancur oleh keegoisan kalian.” Frederick berbicara dibalik pintu kamarnya.
Violet tak menjawab ucapan Frederick itu, ia tetap menangis tersedu-sedu di atas ranjangnya.
“Pangeran Regar itu tidaklah seburuk yang kau kira. Aku sudah melihat wajahnya. Menurutku ia cukup tampan, walaupun ia memiliki kulit sawo matang dan tak memiliki telinga runcing seperti kita. Bahkan kamu akan terkejut melihat potongan rambut hitam miliknya. Entah dari mana ia memikirkan model gaya rambut itu hehehe ....”
Frederick tertawa pelan mengingat pertemuannya dengan Regar beberapa hari yang lalu.
Regar memang memiliki potongan rambut pendek, ia meniru potongan rambut itu dari komik milik Setiawan yang ia baca. Padahal para Elf pria memiliki rambut panjang seperti para Elf wanita.
Violet merenungkan ucapan kakak pertamanya itu sepanjang malam. Ia juga mengingat peristiwa yang terjadi di kota Marseille beberapa waktu lalu. Di mana tak ada Swordman yang selamat, saat ia sebagai pemimpin malah kabur lebih dulu.
Keesokan harinya dengan pupil mata membesar, Violet menemui Frederick Celestine yang tengah memberikan pengarahan pada komandan Rafael, Swordman Rank SSS yang akan memimpin sementara seluruh Pasukan yang ada diibukota.
Beberapa hari lagi Frederick akan membawa Violet ke Akkadia untuk melaksanakan pernikahan adiknya itu. Tentu saja butuh seorang pemimpin untuk memimpin Pasukan yang ada diibukota, karena Pasukan Kerajaan Yakjud terus melakukan penggempuran terhadap benteng kota, walaupun mereka selalu gagal menembusnya.
“Ada apa Violet!” seru Frederick menghampirinya, ia tahu adiknya itu menangis sepanjang malam tadi.
“Aku bersedia melakukan pernikahan itu, jadi kakak atur saja semuanya. Kalau sudah siap, panggil aku di kamar,” sahut Violet langsung berbalik badan setelah mengatakannya.
Frederick tersenyum, akhirnya Violet mau dengan sukarela dalam pernikahan politik ini. Ia kemudian kembali membahas strategi dalam menghadapi Kerajaan Yakjud dengan komandan Rafael.
Sementara itu di dalam kamarnya, Violet membuka jendela kamarnya. Ia memandangi ibukota dari istana yang merupakan bangunan tertinggi di Kerajaan Sirius itu.
Kota Ereck tampak lengang, para penduduk kaya memilih mengungsi ke Utara. Sedangkan sisanya lebih memilih mengurung diri di rumah masing-masing. Perekonomian tak berjalan, bahkan menurut laporan, angka kriminal meningkat tajam. Sehingga Pangeran Frederick memberlakukan darurat militer dengan melarang warga keluar rumah saat malam hari. Pasukan militer juga rutin berpatroli untuk melakukan pengawasan.
***
Di kota Arpad, Regar sedang bercanda ria dengan Swordman Rank SSS, bawahannya. Mereka merecoki Pangeran terkutuk itu dengan teori liar seputar ranjang. Karena pernikahannya sebentar lagi akan dimulai.
Untung saja tak ada Archer Charlotte di sana. Kalau sempat ia tahu mereka merecoki Regar, bisa-bisa mereka dipanah ditempat olehnya. Karena Charlotte terkenal dengan sifatnya yang tegas dan tak pandai bercanda. Makanya Raja Virmilion menunjukkannya sebagai Elf nomor dua atau wakil dalam Pasukan Pangeran Regar Virmilion.
Hal seperti ini belum pernah terjadi, di mana Archer menjadi Wakil tertinggi dalam 100.000 Pasukan milik Pangeran. Para Swordman akan mendominasi jabatan-jabatan tinggi dalam struktur militer itu.
Pasukan Pangeran Regar Virmilion itu, sangatlah mendiskriminasi kaum Elf lelaki. Bayangkan saja ada 75.000 Swordman di pasukan Pangeran Regar dan cuma dua Swordman saja yang menjadi petinggi. Sedangkan Archer ada 25.000 memiliki empat petinggi.
Pangeran Regar sempat bertanya pada ibunya. Kenapa bisa ayahnya membuat struktur militer yang aneh untuknya. Sedangkan milik kakak-kakaknya malah didominasi oleh Swordman dan hanya satu saja petinggi Archer pada struktur militer mereka.
Queen Emanuelle menjawab bahwa Elf wanita memiliki pemikiran yang matang, tak seperti Elf pria yang lebih mengandalkan kekuatan masing-masing dan bertindak lebih dulu, berpikirnya belakangan.
Tentu saja Raja Virmilion telah memikirkan agar anaknya bisa bertahan dan mengembangkan pasukannya menjadi lebih kuat. Karena ia akan pergi ke Kerajaan yang sedang kacau. Di sana yang dibutuhkan bukanlah otot saja, namun pikiran juga harus berkembang. Archer seperti Charlotte dan yang lainnya adalah solusinya. Selain wawasan mereka sangat luas, mereka juga terkenal dengan kecerdasan diatas rata-rata Elf lainnya.
Regar akhirnya memahaminya, makanya ia tak pernah meminta para Archer melatihnya, selain belajar teori. Karena ia tak ingin mengulangi pelatihan Militer seperti yang dilakukan oleh Setiawan dulu, yang menurutnya seperti di neraka saja. Sedangkan dilatih oleh para Swordman malah banyak diisi dengan bercanda dan latihan tanding ringan saja. Tentu ia lebih suka dengan metode latihan oleh para Swordman ini.
“Pangeran!” seru Charlotte meliriknya dengan menggeser sedikit posisi kacamatanya.
Para Swordman langsung berpura-pura sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang mengatakan kudanya akan melahirkanlah, ada yang mengatakan jejak kakinya tinggal di luar istana dan sebagainya.
Dengan lesu Regar mengikutinya ke ruang belajar di istana. Untuk memulai kembali pelajaran tentang hukum dan pemerintahan.
“Charlotte!” seru seorang Elf wanita berlari kecil menghampirinya.
Regar lansung mimisan melihatnya, betapa tidak begitu. Ia melihat sesuatu yang berguncang tak karuan dihadapannya.
“Komandan Vanessa! Jaga sikapmu!” seru Charlotte tak suka melihat sikapnya yang blak-blakan itu.
Kalau tak ahli strategi, Charlotte tak akan mau mengangkatnya menjadi salah satu komandan tinggi.
Vanessa memiliki buah semangka kembar yang dapat membuat iri Elf wanita lainnya. Karena ia sengaja memperlihatkan belahannya dan ia juga memiliki sifat yang sedikit mesum. Walaupun sebenarnya ia masih jomblo, karena tak ada yang berani mendekati Archer Rank SSS sepertinya, para Elf laki-laki malah minder duluan sebelum mencoba melamarnya. Sedangkan para Swordman laki-laki Rank tinggi malah lebih suka menikahi Elf biasa, karena mereka tak akan pergi kemana-mana, sehingga anak mereka terawat dengan baik.
“Pa-pangeran! Tubuhmu mantap sekali, lain dari yang lain. Apakah kamu mau mencoba melakukannya dengan onesan yang polos ini,” goda Vanessa.
Regar makin tak berdaya mendengarnya, lututnya makin lemas dan mengangguk seperti hewan peliharaan yang akan diberikan makan.
“Vanessa! Kamu jangan mengotori otaknya! Apakah kamu mau gajimu kupotong 75%!” ancam Charlotte yang geram dengan kelakuannya itu.
“Ja-jangan dong komandan! Aku cuma bercanda, nanti aku tak bisa beli scincare dan baju seksi keluaran terbaru,” sahut Vanessa memegang tangannya, agar Charlotte tak menghukumnya.
Charlotte mendengus kesal dan menarik kerah baju Pangeran Regar yang tengah berhalusinasi membayangkan melakukan sesuatu dengan Vanessa. Sedangkan Vanessa sendiri tersenyum melihat Pangerannya itu diseret oleh Charlotte.
...~Bersambung~...