Prince Regar Virmilion

Prince Regar Virmilion
Duel Melawan Erick Albert



“Hehehe ... apakah kamu benar-benar Rank Platinum atau bukan? Lemah sekali!” Regar sengaja memprovokasi Erick Albert.


“Dasar makhluk terkutuk! Bisa sedikit menahanku saja sudah sombong,” balas Erick Albert terprovokasi. “Aku akan membuatmu merasakan neraka yang sesungguhnya!” Ancamnya lagi.


Erick Albert melompat ke hadapan Regar menusuk pedangnya ke arah ulu hati, tetapi Regar bisa menghindar dengan bergerak ke kanan lalu menangkap gagang pedang itu dengan tangan kirinya.


Erick Albert berusaha menarik kembali pedang itu, tetapi ditahan oleh Regar dengan menyeringai menatapnya.


“Ku-kuat sekali tarikannya!” keluh Erick Albert menarik dengan mengalirkan tenaga dalam lebih besar pada kedua tangannya.


Regar yang hanya mengandalkan kekuatan fisik saja akhirnya melepaskan pegangannya, karena tidak kuat lagi menahannya.


“Tak sia-sia aku berlatih fisik dahulu di peternakan nenek Elisabeth. Cara ini memudahkanku menghemat penggunaan Mana,” gumam Regar melompat ke hadapan Erick Albert yang terjungkal akibat gagang pedangnya dilepaskan oleh Regar secara tiba-tiba.


Erick Albert yang terjungkal di tanah panik saat Regar menebasnya, untung saja ia dengan cepat menangkis tebasan itu dengan merentangkan pedangnya dan mengalirkan tenaga dalam pada Pedang itu agar tak patah saat ditebas.


“Kamu tak layak menjadi komandan pasukan. Apakah begini saja kualitas yang dimiliki oleh militer Kerajaan Sirius? Kalau begini dengan Pasukanku dari Akkadia saja sudah melenyapkan kalian!” ejek Regar lagi.


Komandan Rank Platinum lain yang awalnya ingin menyerah tersinggung dengan ucapan Regar, ia melompat turun membantu Erick Albert, sehingga Regar mundur beberapa langkah menghindari tebasan pedangnya.


“Oo, ternyata kalian suka keroyokan, ya?” Regar menatap sinis keduanya, “tetapi tak ada salahnya sih, keroyokan. Toh, ini medan perang; tak ada aturan yang mengatur tentang itu—yang penting adalah menang.”


Regar menambah jumlah Mana yang ia gunakan menjadi 50.000 Capacity Mana dan memusatkan tenaga dalam pada Pedangnya, sehingga Pedang Queen E.Ve tampak mengeluarkan aura pembunuh yang sangat kuat.


“Apa dia benar-benar Rank Gold, Albert?” Komandan itu ciut duluan nyalinya. “Sebaiknya kita menyerah saja—palingan nanti kita dipenjara, dari pada mati di sini.” Dia berusaha membujuk Erick Albert.


“Kalau kau takut! Menjauh sana, biar aku yang melawannya. Lebih baik mati terhormat dari pada menyerah,” sahut Erick Albert memasang kuda-kuda, bersiap menyerang Regar dengan mengerahkan seluruh Mana yang ia miliki.


Regar tersenyum sinis mendengar pembicaraan mereka.


“Terhormat dari mana? kalau mati hina, iya.” Regar menyela pembicaraan mereka. “Kalian itu melawan perintah Ratu Violet Celestine—pimpinan tertinggi di Kerajaan Sirius,” cibir Regar.


“Betul Albert—Ratu Violet Celestine lah pemimpin kita sesungguhnya, bukan Jendral Harrison.”


“Ah, kau tak ada jiwa korsa! Mundur saja sana!” seru Erick Albert lansung menusuk pedangnya ke arah jantung Regar. Namun, ia memblokirnya dengan Pedang Queen E.Ve.


Regar menendang perut Erick Albert hingga mundur dua langkah ke belakang, kemudian Regar menebas tangannya. Erick Albert dengan cepat memblokir tebasan itu. Namun, tiba-tiba Regar mengubah arah ayunan pedangnya menjadi menusuk perut Erick Albert dengan keras.


Armor besi yang melapisi perutnya retak, sehingga Erick Albert panik. Dia kemudian menusuk pedangnya ke arah Regar, tetapi Regar menangkap gagang pedang itu dengan tangan kirinya sambil menyeringai menatap Erick Albert.


Ujung pedang Queen E.Ve mengeluarkan percikan listrik menembus armor besi yang mengandung tenaga dalam besar, karena Erick Albert memusatkan tenaga dalam ke sana, agar ia tak tertusuk.


Supaya pedang itu tak menghujam makin dalam, Erick Albert mundur dengan cepat ke belakang. Namun, Regar juga maju lebih cepat darinya, sehingga ia justru seperti terdorong hingga ia tersudut ke tembok Kastil Pangkalan Militer.


Para prajurit di atas Kastil berbisik-bisik apakah mereka membantunya atau diam saja. Karena Komandan Eren hanya menonton, komandan Erick Albert terpojok begitu.


“Aaaaaaaaaa!” teriak Erick Albert, karena Pedang Queen E.Ve telah menembus perutnya. Dia kemudian menendang Regar, tetapi lebih dulu ditangkis Regar dengan kakinya juga.


Eren mengepal tangannya, ia tak tahan mendengar teriakan kesakitan dari Erick Albert. Namun, ia juga harus memikirkan nasib 5000 Prajurit yang ada di dalam Kastil Pangkalan Militer. Bila ia membantu Erick Albert, otomatis para Prajurit itu juga akan menyerang dan 1000 Pasukan yang dibawa Regar akan menghancurkan mereka, karena ada satu Rank SSS dalam barisan Pasukan Pangeran Regar Virmilion.


Archer bawahan Erick Albert segera membidik Regar, jiwa korsa-nya menuntut untuk segera bertindak, walaupun tak ada aba-aba dari mereka yang berpangkat lebih tinggi darinya.


Sebuah anak panah melesat ke arah Regar, tetapi Eren dengan sigap segera menangkis serangan anak panah itu.


“Siapa yang memerintahkan kalian menyerang. Diam di tempat dan tunggu aba-aba dari komandan Erick Albert!” Eren marah sekali, hampir saja Archer itu memulai pembantaian pada mereka.


Pandangan Erick Albert mulai rabun, ia mendengar suara Eren yang sedang memarahi bawaannya. Namun, dia tidak memerintahkan mereka menyerang, karena Eren tak mendukung keputusannya. Tentu saja itu akan sia-sia saja—yang ada nanti Prajurit pendukung Eren dan Prajurit pendukungnya yang malah saling membunuh.


“Sampah sepertimu dilenyapkan saja dari Sirius ini—agar kami lebih fokus memburu makhluk hijau kedepannya!” Regar berbisik di telinga Erick Albert, sebelum Pedang Queen E.Ve benar-benar menghujam perutnya hingga tembus ke punggung dan ledakan energi kemudian menghancurkan tubuh Erick Albert hingga potongan tubuhnya berserakan ke segala penjuru.


“Aduh ... aku terlalu sadis sepertinya. Apakah aku mulai menjadi psikopat?” Regar menghilangkan armor besi yang penuh dengan darah Erick Albert. “Frans! Bersihkan Queen E.Ve!” Dia melempar pedang itu padanya.


“Dibersihkan pakai apa Pangeran?”


Frans kebingungan, karena tak ada air disekitar mereka. Karena sekeliling mereka hanya hamparan padang rumput saja.


“Terserah kamu mau membersihkan pakai apa, dalam satu menit ke depan, mau tak mau Queen E.Ve harus mengkilap,” sahut Regar menghampiri Eren yang bertekuk lutut memberi hormat padanya.


Frans berpikir keras, ia sangat panik. Karena telah melihat kekejaman Regar, walaupun kalau di luar sana ia suka bercanda dan kelihatan baik sekali. Namun, kalau sudah di medan perang, ternyata ia adalah pembunuh berdarah dingin. Masih bisa tersenyum melihat tubuh lawannya yang hancur. Padahal Frans dan kawan-kawannya sudah mual-mual menahan muntah.


“Kita bersihkan pakaian baju kita saja,” bisik rekan Frans.


“Ide yang bagus,” sahut Frans segera membuka baju dan mengelap Pedang Queen. E.Ve. Tak sampai di situ, rekan yang lainnya segera memberikan baju mereka juga—sampai mereka memastikan Pedang Queen E.Ve benar-benar mengkilap.


Regar tersenyum melihat tindakan Frans dan kawan-kawannya, karena sebenarnya ia ingin melatih mental mereka saja. Prajurit yang ada di dalam Kastil Pangkalan Militer segera membuka pintu gerbang dan ikut berlutut memberi hormat pada Regar.


...~Bersambung~...