
Robot tempur lansung menembakkan kembang api; langit kota Ereck membentuk lingkaran berwarna merah. Itu adalah peringatan level tinggi, yang berarti Keluarga kerajaan sedang dalam bahaya besar, yang membutuhkan Rank SSS untuk menanganinya.
Prajurit yang berjaga di benteng Kastil Pangkalan Militer melihat cahaya merah di langit kota Ereck lansung bergegas berlari ke dalam kastil.
Prajurit itu menuju ruangan Swordman Vin, Swordman Rank SSS yang ditugaskan untuk mengawal Pangeran Regar besok menuju kota Ars, menyusul rombongan pertama Pasukan Kerajaan Sirius yang telah berangkat lebih dulu.
Vin mendengar suara ketukan dari luar pintu ruangan kerjanya. Dia sedang memilah dokumen dan menyusun daftar Prajurit yang akan ikut ke kota Ars dan yang akan tinggal mengamankan ibukota.
“Silahkan masuk!” seru Vin tetap sibuk dengan pekerjaannya, tanpa menoleh ke arah pintu.
Prajurit itu segera masuk, nafasnya tersengal-sengal, karena berlari sepanjang lorong Kastil yang sangat besar itu—jauh lebih besar dari istana Kerajaan Sirius itu.
“Komandan Vin!—Keadaan darurat, muncul kembang api berwarna merah di kota Ereck. Sepertinya posisinya di taman kota; mungkinkah Pangeran Regar Virmilion sedang disergap Assasin musuh. Karena Pangeran baru meninggalkan Kastil, kembali ke istana,” lapor Prajurit itu.
“Apaaaaa?” Vin terkejut mendengarnya, pulpen ditangannya lansung remuk oleh kepalan tangannya. “Bunyikan lonceng darurat dan kumpulkan semua Pasukan yang ada untuk segera ke taman kota. Aku sendiri akan pergi lebih dulu,” perintah Vin segera menghilang dari pandangan Prajurit itu. Dia berlari sangat cepat dan tubuhnya lansung dilapisi armor besi—tangan kanannya memegang Pedang panjang melengkung diujungnya.
Keadaan serupa juga terjadi di istana Kerajaan. Charlotte yang jarang terlibat dalam pertempuran itu, segera menuju menara istana. Dia menggunakan pandangan jarak jauhnya menelusuri kota Ereck dan kaget Pangeran Regar Virmilion dikejar oleh Swordman Rank SSS.
“Gawat, ada Archer Rank SSS juga di pinggiran wilayah selatan kota. Apakah mereka kiriman Harrison?” gumam Charlotte membidik Archer itu, sebuah anak panah langsung melesat.
Isabella datang menyusul, membidik Swordman Rank SSS yang mengejar Regar.
“Isabella!—Archer itu melepaskan anak panah juga pada Pangeran Regar!” seru Charlotte khawatir, ternyata saat ia melepas anak panah tadi, Archer Assassin itu juga melakukan tindakan yang sama.
“Aku akan membidik anak panah itu, sepertinya masih terkejar!” sahut Isabella melepaskan anak panah.
***
Robot tempur merapat ke arah Regar, Regar terus berlari. Dia memanfaatkan sistem pada Robot tempur yang memiliki penglihatan 360°, yang lansung terhubung ke pikiran Regar, selaku operator Robot tempur.
“Gawat!”
Regar menyadari dari arah selatan dan utara melesat anak panah yang mengandung energi besar Rank SSS.
Dia memerintahkan kedua Robot tempur membuat perisai angin dan ia sendiri memegang Pedang Queen E.ve bersiap menyambut Swordman Rank SSS yang berdiri di atas pohon menatapnya.
Booommmmm
Tanah bergetar, disertai ledakan energi, akibat dua anak panah berbenturan di udara. Hawa panas juga terasa ke tubuh Regar, walaupun ia sudah melapisi tubuhnya dengan armor besi.
Penduduk kota Ereck panik dan mereka tahu telah terjadi pertarungan antar Rank SSS di dalam kota. Lonceng peringatan juga berbunyi bertalu-talu di seantero kota. Penduduk kabur ke bunker di bawah kota Ereck, yang tiap pintu masuknya terhubung ke rumah-rumah penduduk.
Bunker bawah tanah itu dibangun oleh Raja Sirius pertama, saat memulai pembangunan ibukota yang baru. Bunker itu bertujuan untuk melakukan evakuasi cepat, saat ibukota diserang mendadak.
***
“Sepertinya masih ada banyak Rank SSS yang tinggal di ibukota. Aku harus segera melenyapkanmu Akkadia terkutuk!” seru Assasin yang berdiri di pucuk pohon di taman kota itu.
Dengan Mana yang telah mencapai 275.000 Capacity, Regar yakin bisa mengulur waktu sampai bala bantuan tiba, apalagi Robot tempur dapat menahan beberapa serangan Swordman itu dengan perisai angin.
Setelahnya tergantung pada keberuntungan lagi, apakah ia akan selamat atau mati mengenaskan. Bertarung antara hidup dan mati, tentunya juga akan menguntungkan, karena dapat memaksimalkan potensi dalam dirinya dan merangsang kekuatannya untuk naik Rank.
Assassin itu melompat dari pohon, Pedang ditangannya mengeluarkan cahaya menyilaukan. Assassin itu berarti berusaha membunuh Regar hanya dalam sekali tebasan saja.
...Booommmmm!...
Sebelum mencapai Regar, sebuah anak panah melesat ke arah Assassin itu. Namun, segera ditangkisnya, sehingga menimbulkan ledakan energi.
Regar tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia lansung melompat ke arah Assassin yang terpental beberapa meter oleh serangan anak panah Isabella. Sedangkan Charlotte dan Archer Assassin saling bertukar serangan yang menghasilkan ledakan-ledakan energi di langit kota Ereck.
Regar menebas Assassin itu, yang lansung ditangkis dan dia melompat tinggi melewati kepala Regar—dia muncul di belakang Regar dan menebasnya. Namun, Robot tempur tak kalah lincah, lansung membuat perisai angin dan enam tangannya melakukan tebasan beruntun.
“Aku kesulitan membidik Assassin itu, Pangeran Regar terlalu dekat dengannya!” seru Isabella dengan posisi menarik anak panah, tetapi belum ia lepaskan menunggu kesempatan yang pas.
“Kalau begitu kita singkirkan dulu Archer ini. Kan, Robot tempur dapat membuat perisai membantu Pangeran, walaupun hanya bertahan sebentar saja. Itu sudah cukup untuk mengulur waktu,” kata Charlotte dan Isabella mengalihkan bidikannya ke Archer Assassin itu yang juga cukup lincah berpindah-pindah dari atap ke atap lain rumah penduduk.
***
Assassin Swordman itu mengekerutkan keningnya, keheranan melihat Robot tempur yang hanya setara Rank SS itu dapat menahan tebasannya yang mengandung energi besar itu. Belum lagi enam tangannya melakukan tebasan bertubi-tubi, sehingga memaksa Assassin itu bertahan dan tiba-tiba ia terjungkal oleh ekor Robot tempur.
Robot tempur berjongkok dan Regar naik ke atasnya—melompat tinggi ke arah Assassin yang terbaring di tanah.
“Jurus Pembelah Gunung Everest!” teriak Regar menebas kaki Assasin itu, yang mengira Regar akan menebas bagian dadanya, sehingga ia mengalirkan tenaga dalam terpusat pada lengannya untuk menangkis tebasan itu.
Namun, prediksinya meleset. Armor besi yang melapisi kakinya retak dan ekor Robot tempur yang satu lagi menusuk ke dalam armor besi yang retak itu hingga menembus kakinya.
“Aaaaaaaaa!”
Assassin itu berteriak kesakitan, sedangkan Regar tersenyum lebar. Dia tak menyangka dengan mengucapkan jurus-jurus dalam dongeng, bisa membuat konsentrasi Assassin itu buyar, mengira Regar menebas dengan energi besar.
Sang Assassin lansung mengalirkan tenaga dalam ke kakinya untuk melakukan pemulihan cepat dan dia mundur beberapa langkah.
Raut wajahnya memerah, ia sangat marah sekali. Karena tak mengira Swordman Rank Platinum bisa mengimbanginya. Padahal selama ia menjalankan misi, selalu berakhir dengan sekali serangan saja. Namun, kini, ia dipaksa mengerahkan seluruh kekuatan yang ia memiliki.
“Hei, bro! Tidak usah bergumam kalau aku sangat hebat. Aku merasa kepedean jadinya hehehe ....” Regar tertawa terkekeh-kekeh mengejeknya.
“Kamu kira aku akan terpancing dengan ejekan begitu?” sahut Assassin itu menarik nafas dalam-dalam memperhatikan cara menghancurkan dua benda aneh di sebelah Pangeran Regar Virmilion itu. “Aku tahu, Pangeran mengulur waktu hingga bala bantuan datang, kan?—tetapi sayang sekali, sebelum bantuan itu datang. Kau telah kembali menghadap Dewa Matahari,” kata Assassin itu lansung melakukan gerakan Zig-zag.
Regar tersenyum masam, padahal selama ini ia mengira; dialah Swordman tercepat. Namun, kini matanya terbuka lebar, ternyata dunia itu sangat luas. Tak ada yang bisa mengklaim dialah yang terbaik.
...~Bersambung~...