Prince Regar Virmilion

Prince Regar Virmilion
Pangeran Regar Belajar Teori Pemerintahan



Beberapa hari kemudian, Pangeran Regar Virmilion kini sibuk berlatih dengan beberapa Swordman Rank SSS yang menjadi bawahannya.


Raja Virmilion telah memberikannya 100.000 Prajurit. Sebagai Pangeran, sudah semestinya ia memperoleh Pasukan sebesar itu, bahkan ia juga seharusnya mendapatkan sebuah Provinsi untuk ia pimpin. Tetapi, ia akan menikah dengan Ratu Violet Celestine dari Kerajaan Sirius, sehingga tak mendapat jatah Provinsi lagi.


Prajurit yang berada di bawah pimpinan Pangeran Regar Virmilion itu terdiri dari 75.000 Swordman dan 25.000 Archer.


Adapun Rank mereka cukup tinggi-tinggi, yaitu:


Rank SSS


—100 Swordman


—25 Archer


Rank SS


—250 Swordman


—50 Archer


Rank S


—500 Swordman


—100 Archer.


Sisanya adalah Rank Platinum, makanya Pasukan dibawah pimpinannya itu cukup kuat.


***


“Pangeran! Silahkan bersihkan diri anda. Kita akan memulai pelajaran tata hukum dan pemerintahan,” kata Charlotte, Archer Rank SSS yang merupakan bawahannya yang kini merangkap sebagai asisten pribadinya.


“Belajar lagi?” gerutu Regar tak suka mempelajari teori-teori yang membuat kepalanya pening saja.


“Anda harus bersikap layaknya seorang Pangeran, jangan gampang mengeluh!” seru Charlotte yang mengenakan kacamata itu, tampangnya tak seperti Rank SSS, malah lebih mirip dengan ibu guru cantik.


“Iya-iya!” gerutu Regar berjalan dengan lesu ke arah istana untuk membersihkan dirinya.


“Hahaha ... semangat Pangeran! Kalau anda lulus ujian teori, aku akan membawamu minum arak terbaik di ibukota ini,” kata Alexander, Swordman Rank SSS yang menjadi pelatih fisik Regar.


“Alexander!” seru Charlotte meliriknya, yang membuat Alexander keringat dingin.


“Ah, Pangeran saya lupa memandikan kuda tadi, selamat bersenang-senang dengan nona Charlotte!” seru Alexander lansung kabur meninggalkan lapangan istana.


“Baik Pangeran, ayo kita ke istana,” kata Charlotte.


“Anu ... kenapa nona Charlotte juga ikut, tunggu di ruang belajar saja,” kata Regar bingung Charlotte terus mengikutinya.


“Aku akan memandikan Pangeran, karena kamu pasti berniat kabur, seperti yang kemarin,” sahut Charlotte dengan santai.


“Me-memandikan?” Regar lansung gugup mendengarnya. “Ja-jangan nona Charlotte, aku sudah dewasa, bukan anak kecil lagi.”


Tetap dengan tatapan dingin, tanpa ada senyum sama sekali. Charlotte melirik ke arah Regar yang membuatnya merinding.


“A-ajari!” Regar terkejut, darah segar lansung keluar dari hidungnya. “Baiklah, mohon lakukan dengan lembut,” kata Regar lagi dengan semangat menggebu-gebu.


“Oo, Pangeran ternyata sudah bosan hidup!”


Charlotte menarik anak panahnya dan mengarahkan busur ke arah adik kecil Pangeran Regar Virmilion.


“Aaaaaaaa ... ampun Nona Charlotte! Aku akan mandi dengan beberapa tarikan nafas saja sudah selesai,” teriak Regar berlari ke arah kamarnya. Ia langsung mengunci pintu kamar agar Charlotte tak ikut masuk.


Sesuai dengan kata-katanya, dengan ia selesai mandi dan mengenakan pakaian bagus. Ia kemudian membuka pintu kamar, di depannya. Charlotte telah berdiri menunggunya.


“Nona Charlotte!” sapa Regar dengan senyum lebar, namun Charlotte tak menanggapinya. Ia justru berjalan ke arah ruang belajar di istana itu. “Tunggu Nona ... jangan galak-galak mengajariku, ya. Lembut-lembut saja, nanti aku akan berikan bonus lebih,” kata Regar ingin menyogoknya. Namun Charlotte tetap tak menanggapi ocehannya itu.


Pelajaran teori yang diajarkan oleh Archer Charlotte, membuat Regar stres. Otaknya tak menangkap pelajaran itu, ia malah merindukan kehidupan bersama nenek Elisabeth yang bebas tanpa ada aturan-aturan yang mengikatnya.


“Hadeuh ... kupikir tinggal di istana itu asyik. Dikelilingi maid seksi dengan boing-boing sebesar kelapa muda dan makan makanan enak. Ini malah tiap hari dijejali masakan buatan bunda yang baru belajar memasak beberapa hari yang lalu, padahal sudah jelas umurnya berkepala lima. Ngapain lagi belajar masak, tinggal suruh para koki istana saja,” gumam Regar menatap kosong pada Charlotte yang tengah menerangkan pelajaran di depannya.


***


Di kota Aleppo, Ratu Violet Celestine berhasil menyatukan para pengungsi dan penduduk lokal. Sehingga tak terjadi gesekan, mengingat kemungkinan besar para pengungsi ini akan menetap di Provinsi Damaskus ini. Karena tak ada tanda-tanda, pasukan Pangeran Frederick maupun Pangeran Darian mampu mengalahkan pasukan Kerajaan Yakjud. Cukup mempertahankan Provinsi Damaskus lebih lama saja, itu sudah prestasi besar untuk saat ini.


Ratu Violet mengerahkan para pengungsi dari Provinsi Istanbul untuk membuka pertanian di wilayah tengah Provinsi Damaskus yang masih banyak tidak dikelola dengan baik.


Itu semua berkat bantuan Sebastian yang memaksa para tuan para tuan tanah untuk menyewakan tanah mereka dengan murah. Di bawah pengawasan ketat Militer.


Pangeran Frederick sangat senang dengan tindakan adiknya itu, dengan begini huru-hara tak akan terjadi. Karena perut yang lapar dapat menghilangkan akal sehat seseorang.


***


Tiga Minggu kemudian, Alucard yang merupakan Swordman Rank SSS dan Kepala Tim Assasin yang juga Elf kepercayaan Pangeran Frederick datang ke kota Aleppo untuk menjemput Ratu Violet Celestine.


Keamanan wilayah tengah Provinsi Damaskus itu diserahkan kepada Sebastian. Sehingga ia tak ikut kembali ke ibukota.


Awalnya Ratu Violet menentang keras kembali ke ibukota. Apalagi Sebastian tak ikut dengannya, ia merasa curiga ini adalah akal-akalan kakaknya agar ia berjauhan dengan Sebastian.


Namun Alucard tetap memaksa Ratu Violet agar ikut dengannya, karena ini adalah perintah rahasia dan tidak boleh bocor pada siapapun. Termasuk Sebastian sendiri.


Violet meminta saran pada Archer Narnia, dan menjawab agar menuruti saja permintaan Alucard itu. Toh, ia dan dua Swordman Rank SSS lainnya masih di kota Aleppo. Sehingga Narnia meminta Violet tak perlu mengkhawatirkan keselamatan Sebastian. Ia menjamin tak akan terjadi apa-apa pada Kepala Pengawal pribadi dan juga sahabat masa kecilnya itu.


Dengan berat hati, Violet mengatakan pada Sebastian bahwa ia akan kembali ke ibukota untuk sementara. Dan ia menyerahkan pucuk pimpinan wilayah tengah Provinsi Damaskus padanya.


Sebastian lansung menyetujui, tanpa curiga sedikitpun. Toh, ia yakin Violet adalah Elf yang jujur dan tak mau berbohong. Karena ia telah mengetahui sifat-sifatnya, bahkan ia mengetahui bahwa Violet juga menyukainya. Namun terhalang oleh Pangeran Frederick menjegal hubungan mereka ke tahap selanjutnya.


Seutas senyum terpancar di wajah Violet saat meninggalkan kota Aleppo. Ia tak menyangka mampu mengatur masalah pengungsi hanya dalam sebulan saja.


Jutaan tenda-tenda pengungsian yang dulu terpajang di luar benteng kota Aleppo kini sudah tak ada. Hanya hamparan pada rumput dan beberapa kuda yang tengah makan saja yang terlihat.


Violet menghela nafas dalam-dalam sembari menutup jendela kereta kuda. Ia berharap, kedamaian segera terjadi di Kerajaan Sirius itu, agar kehidupan damai yang ia impikan sejak kecil segera terwujud.


...~Bersambung~...