Prince Regar Virmilion

Prince Regar Virmilion
Pasukan Kerajaan Yakjud Mendekati Kota Marseille



Regar kembali ke benteng kota, pos yang ia tinggalkan tadi. Di sana Giorgio heran melihat Regar yang sendirian saja kembali dari bawah. Padahal tadi ia pergi bersama Silsia.


“Dimana Silsia?” tanya Giorgio berlari kecil menghampiri Regar.


“Tenanglah, dia sedang dirawat di klinik kesehatan. Tadi ia pingsan mendengar keadaan yang menimpa kakaknya, Talita," sahut Regar.


Giorgio lansung berlari turun ke bawah menuju tempat Talita di rawat. Dalam hatinya, ia akan menghajar habis-habisan pemuda itu, jika terjadi sesuatu pada Silsia.


“Mendingan aku pindah ke tempat lainnya saja. Aku tak ingin berurusan lagi dengan mereka,” gumam Regar mencari pos jaga di sisi lain tembok kota Marseille itu.


***


Silsia terbangun, ia kebingungan ternyata sudah di ruangan klinik kesehatan. Silsia mengingat-ingat kembali, kejadian sebelumnya.


“Aku tadi berbicara dengan Pemuda aneh dari guild Serigala Isfahan.” Sisilia lansung meneteskan air mata, mengingat apa yang terjadi pada kakaknya.


“Silsia ... kau tidak apa? Apakah dia mencelakaimu atau berbuat senonoh padamu,” kata Giorgio khawatir padanya.


Silsia mengusap air matanya, ia tak ingin Giorgio menyadari kesedihannya. “Aku tak apa. Di mana Pemuda tadi? Aku tak melihatnya lagi, aku tadi hanya sedikit kelelahan saja,” jawab Silsia berkilah.


Giorgio tahu ia sedang berbohong menutupi kesedihannya. “Dia kembali ke pos jaganya, syukurlah kau baik-baik saja," kata Giorgio duduk di sebuah kursi di pinggir ranjang klinik kesehatan itu.


“Kenapa kau duduk? Ayo kembali lagi, kita harus bersiap menghadapi serangan Goblin," kata Silsia beranjak dari ranjangnya.


“Eh, apa kau sudah pulih?” Giorgio masih khawatir dengan kondisi kesehatannya.


“Sudah aku baik-baik saja, kok. Ayo pergi!” seru Silsia.


Dengan terpaksa, Giorgio menuruti keinginannya. Keduanya kembali ke pos jaga yang Regar tempati tadi. Namun, Regar tak ada disitu.


Silsia dan Giorgio kebingungan, kemana perginya Elf berkostum aneh itu. Mereka kemudian menyusuri tembok kota Marseille itu mencari keberadaan Regar.


Di saat bersamaan, di jalanan dekat tembok kota Marseille. Ratu Violet Celestine bersama 20.000 Prajurit Kerajaan Sirius dari berbagai kota yang mengungsi dari provinsi Istanbul itu bergerak menuju benteng kota yang mengarah ke kota Malaga.


Para Elf Swordman dan Archer bayaran yang ada di atas benteng kota Marseille lansung bersorak-sorai menyambut kedatangan Ratu Violet Celestine.


Sang ratu tersebut, melambaikan tangan pada mereka. Kali ini ada Sebastian di sampingnya, mereka tampak akrab sekali.


Sebelumnya di balai kota Marseille, Sebastian diangkat menjadi ahli strategi oleh Violet. Padahal sebenarnya itu hanya kedoknya saja agar bisa berbicara dengan Sebastian. Karena Sebastian ketakutan dekat dengannya, akibat penjagaan ketat oleh tiga Rank SSS yang dikirim oleh Pangeran Frederick untuk menjaga Violet.


“Wau, mereka so sweet banget!” Seorang Elf wanita memujinya.


“Tapi sayang sekali, mereka tak bisa bersama," kata Elf wanita lainnya.


“Iya, tega sekali Pangeran Frederick menggadaikan adiknya pada Pangeran terkutuk dari Akkadia itu,” cibir lainnya juga.


“Kenapa tak dikudeta saja ya, Pangeran Frederick. Toh, ayah Sebastian adalah salah satu Panglima militer yang membawahi ratusan ribu Prajurit, sedangkan Pangeran Frederick dan Darian jika digabungkan kekuatan kedua Pasukannya tak sampai 200.000 saja. Apalagi kekalahan beruntun provinsi Istanbul ini, makin lemah saja kekuatan mereka,” kata Elf pria ikut-ikutan nimbrung di pembicaraan mereka.


“Iya, sayang sekali. Padahal Sebastian sangat tampan dan Ratu Violet sangat cantik. Pasangan serasi lah, jika disatukan,” sahut Elf wanita itu.


“Lihat saja nanti, saat aku akan membuat perhitungan,” gumam Regar yang mulai memahami gejolak yang terjadi di Kerajaan Sirius ini.


Dia kemudian mengeluarkan Teropong Militer miliknya dan melihat jauh ke hamparan padang rumput di luar benteng kota Marseille itu. Ia tak mau melihat Violet lagi, karena membuat hatinya makin cemburu saja dan ia takut nanti kehilangan konsentrasi saat bertempur melawan para Goblin.


“Apa itu?” gumam Regar samar-samar melihat gumpalan debu jauh didepan.


“Hei, kau di sini rupanya. Apa yang kau gunakan itu?” Silsia menepuk pundak Regar. Kini ia tampak tak murung lagi, padahal aslinya ia masih bersedih. Namun ia tutupi agar Giorgio tak ikutan sedih.


Ini alat penglihatan yang mirip dengan mata kalian para Archer. Namun punyaku ini, setara dengan Archer Rank SSS,“ kata Regar.


“Hebattttt! Di mana kau beli itu. Aku juga mau membelinya.” Giorgio takjub mendengarnya.


“Ini tidak ada yang jual. Ini satu-satunya peninggalan keluarga kami turun-temurun sejak dulu." Regar berkilah.


“Coba kupinjam,” kata Silsia melihat ke depan. “Serangan telah datang!” teriak Silsia.


Regar lansung meraih Teropong Militer itu dan melihat juga. Ternyata Pasukan Kerajaan Yakjud dalam jumlah besar sedang bergerak pelan ke arah kota Marseille itu.


Kembang api tanda peringatan lansung melesat ke langit. Sebuah ledakan terdengar, diiringi dengan munculnya sebuah lingkaran warna-warni di langit kota Marseille itu.


“Cepat sekali mereka datang!" seru Violet.


Ia lansung memerintahkan para Swordman berbaris rapi di dekat gerbang timur kota Marseille itu. Sedangkan para Archer lansung naik ke atas tembok, bersiap dengan panah masing-masing.


“Tak ada apa-apa? Apa tadi informasi palsu?” kata Violet. Para Archer Rank Platinum juga tidak melihat apa-apa di depan.


“Kalian salah. Didepan sana pasukan Kerajaan Yakjud yang jumlahnya mencapai lima kali lipat dari kita, sedang bergerak dengan lambat kesini. Sepertinya, Manjanik mereka yang membuat mereka sedikit melambatkan laju mereka,” sela Narnia.


“Hmm, perbedaan kekuatannya terlalu mencolok. Apalagi kita hanya mempunyai tujuh Manjanik saja di kota Marseille ini, tapi padang rumput di depan ini adalah keuntungan bagi kita. Mereka tak memiliki tempat berlindung dari serangan Archer kita.” Sebastian menganalisa peluang menang mereka.


Violet tersenyum, ia puas sekali mendengar masukan dari Sebastian itu.


“Tapi siapa tadi yang menyadari kedatangan Goblin itu. Matanya cukup jeli sekali. Itu adalah kemampuan Archer Rank SSS, tapi yang kulihat tak ada lagi Rank SSS disini," kata Narnia.


“Apa perlu aku perintahkan pada Prajurit untuk mencari tahu siapa Elf itu?” tanya Sebastian pada Narnia.


“Tak perlu, ia berasal dari guild lokal ini. Takutnya nanti ia tersinggung dan tak mau membantu kita lagi. Walaupun ia tak kuat, namun penglihatannya itu lumayan berguna juga untuk mendeteksi kedatangan musuh,” kata Narnia.


***


“Kalian berdua, turunlah ke bawah. Berbarislah dibelakang Prajurit itu!” seru Silsia.


“Eh, kenapa? kita kan, tak diwajibkan ikut di barisan depan. Cuma diperintahkan untuk membantu evakuasi Prajurit terluka saja," sahut Regar tak mau turun ke bawah, sedangkan Giorgio lansung menuruti ucapan Silsia. “Lagi pula, serangan awal Goblin itu korbannya adalah kalian para Archer lebih dulu,” kata Regar lagi.


Sisilia geleng-geleng kepala melihat Regar yang tak mau mengikuti ucapannya. Padahal para Swordman semuanya telah turun ke bawah, kecuali dia sendiri yang asyik mengikuti pergerakan Pasukan Kerajaan Yakjud melalui teropongnya itu.