
“Pangeran!” seru Swordman Hefaistos panik melihat tubuh Regar kejang-kejang dan ketika ia menyentuh tubuh Regar, ia merasakan sengatan listrik. “Apa ini?” Hefaistos melepas tangannya.
Robot tempur kecil mengeluarkan asap dan lansung berbunyi suara, “Penghancuran otomatis segera dimulai dalam hitungan: 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1 ... Boommmmm!” Robot tempur kecil hancur berkeping-keping.
Para Prajurit terkejut dengan ledakan itu, untung saja di detik-detik terakhir mereka melapisi tubuh mereka dengan armor besi, sehingga tidak terluka oleh serpihan besi dari robot tempur kecil itu.
Regar tak sadarkan diri untuk sesaat. Namun, saat akan dibawa oleh Prajurit keluar dari ruang bawah tanah itu ia tiba-tiba siuman.
“Anda tidak apa-apa Pangeran?” tanya Hefaistos, lega melihatnya sadar kembali.
“Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Justru coba kalian lihat ini!” sahut Regar mengirim perintah pada 1000 robot tempur dan 10 robot mekanik.
Hefaistos dan yang lainnya panik saat melihat robot-robot itu bergerak dan semuanya bertekuk lutut. Mereka berkata, “Panjang umur Pangeran Regar Virmilion. Kehancuran untuk musuh-musuhnya!”
“Hefaistos! Kita perlu menguji kekuatan tempur robot ini. Kalau mereka lumayan kuat, maka kita akan segera melakukan invasi ke Provinsi Athena dan Torus—buat apa kita berlarut-larut membiarkan mereka berkembang biak; sudah saatnya parasit dibasmi,” kata Regar berjalan meninggalkan ruang bawah tanah.
Prajurit yang berjalan bersama robot-robot itu merasa was-was, karena takut bila tiba-tiba Pangeran Regar Virmilion kehilangan kontrol pada mereka dan menyerang balik—sehingga para Prajurit itu memilih tetap mengenakan armor besi mereka.
“Apa itu?”
“Itu kah senjata rahasia yang ditemukan di ruang bawah tanah?”
“Kalau begini, tugas kita akan lebih mudah saat di medan perang. Karena mereka yang akan berada di bagian depan, sekaligus menjadi perisai.”
Para Prajurit sangat senang melihat robot-robot yang berjalan ke tempat latihan di Kastil Pangkalan Militer itu.
“Bagaimana untuk pertama; kamu melawan dua robot tempur sekaligus Hefaistos?”
Hefaistos tentu saja ragu-ragu, tetapi sebagai Swordman Rank tertinggi, pantang baginya untuk mengakui, takut melawan robot-robot itu.
“Dengan senang hati Pangeran. Saya akan menghancurkan mainan besi ini,” sahut Hefaistos sedikit sombong.
Regar tersenyum lebar, ia tak mengatakan bahwa robot tempur ini memiliki sistem pertahanan diri berupa perisai angin yang dipadatkan, sehingga tidak bisa sekali tebas untuk merusak perisai itu. Jika perisai angin yang melindunginya hancur, barulah robot itu menerima Damage serangan lansung.
...Damage adalah kerusakan yang diterima, sering digunakan dalam game....
Perisai angin itu sendiri butuh waktu Lima jam lamanya untuk meregenerasi kembali. Itupun ia tak bisa digunakan sementara, karena proses regenerasi perisai itu memerlukan bantuan Robot mekanik.
“Aku perlu memberi nama mereka satu-persatu, tetapi itu cukup sulit. Kunamai saja dengan R-001 hingga R-1000 untuk Robot tempur dan M-001 hingga M-010 untuk Robot mekanik,” gumam Regar yang lansung terprogram ke seluruh robot-robot itu.
“R-001 dan R-002 bunuh Hefaistos!” seru Regar dengan lantang.
Hefaistos dan Para Prajurit geleng-geleng kepala mendengarnya, masa ia memerintahkan robot-robot itu membunuh salah satu Komandan tertinggi dalam pasukannya itu. Bagaimana kalau robot-robot itu ternyata sangat kuat dan betul-betul membunuh Hefaistos.
Belum selesai mereka berandai-andai, Robot tempur R-001 dan R-002 lansung menyerang Hefaistos dari depan dan belakang. Sontak saja ia terkejut, untung saja tadi dia sudah mengenakan armor besi. Sehingga tebasan beruntung dari pisau robot tempur R-002 tidak melukainya, tetapi tetap membuat retak armor besinya.
Hefaistos menggunakan lebih banyak Mana, karena tadi ia hanya menggunakan 20.000 Capacity Mana saja, karena mengira robot tempur itu tidaklah berbahaya dan hanya setara Rank Silver saja.
Pedang milik Hefaistos bercahaya merah, seperti api—karena ia mengalirkan tenaga dalam cukup banyak ke sana. Dia masih penasaran, kenapa tadi ia tak bisa menyentuh robot tempur itu.
“Komandan Hefaistos sekarang bertarung serius.”
“Gila! Apakah robot-robot itu kuat sekali? Aku jadi merinding, bila robot-robot itu berbalik menyerang kita.”
“Bodoh! Mereka sudah dikontrol oleh Pangeran Regar!”
“Syukurlah ... terimakasih Dewa Matahari telah melindungi Pangeran kami dan memberikannya dia senjata yang mematikan ini.”
Para Prajurit senang menonton pertunjukan hebat itu.
“Bagaimana dengan ini boneka rongsok! Rasakan lah ciuman Pedang Devine-ku ini—”
Baru mau melangkah, tiba-tiba ekor Robot tempur R-002 menyandung kakinya, hingga ia terjungkal mencium tanah.
Para Prajurit tertawa terkekeh-kekeh melihatnya, Hefaistos sangat malu. Bagaimana mungkin salah satu Komandan tertinggi itu dipermalukan oleh dua rongsokan besi tak bernyawa.
Dia bangkit lagi, walaupun kedua robot tempur itu menebasnya bertubi-tubi. Hingga armor besi miliknya hancur. Namun, dengan cepat armor besi itu beregenerasi kembali, karena Hefaistos memusatkan sebanyak 20% tenaga dalamnya ke armor besi itu. Sedangkan sisanya ia kerahkan pada Pedang Devine.
Boommmmm!
Ledakan akibat tebasan pedang Divine menghancurkan lantai di depannya, yang meninggalkan lubang menganga. Bahkan tiga tangan Robot tempur R-001 ikut hancur. Ternyata perisai angin milik Robot tempur R-001 telah hancur.
Hal itu sebenarnya wajar, karena sudah satu juta tahun robot-robot itu tidak digunakan. Tentu saja mereka butuh di servis perawatan lebih dulu, sebelum digunakan lagi.
Regar sudah menyadari hal itu, tetapi rasa penasaran seberapa kuat robot tempur itu, yang membuat ia abai atau melanggar panduan pengguna robot tempur yang telah tertanam di pikirannya.
Hefaistos Kembali mengayunkan pedangnya. Kali ini ia akan menebas bagian kepala robot tempur itu, tetapi Robot tempur R-002 memblokir tebasannya.
Ledakan besar yang meninggalkan lubang menganga kembali terjadi di area pertarungan mereka. Robot tempur R-002 terpental berguling-guling. Namun, tak ada kerusakan pada tubuhnya, kecuali perisai angin Robot tempur R-002 itu telah lenyap.
“Dasar boneka rongsok sialan! Tak juga hancur,” gerutu Hefaistos malu, belum bisa menghancurkan mereka. Dia kemudian mengerahkan seluruh Mana miliknya, karena ingin mengakhiri pertarungan dengan cepat—agar wibawanya tetap terjaga.
“Cukup Hefaistos! Nanti kamu malah menghancurkan robot-robot itu. Kalau kepalanya masih utuh tak apa; tetapi kamu malah membidik kepala mereka. Karena chipset-nya ada di situ, dan tak boleh hancur. Kalau hancur tidak bisa diperbaiki lagi.”
Regar mengehentikan pertarungan itu. Para Prajurit bertepuk tangan, sedangkan Hefaistos belum puas dengan pertarungan tadi, walaupun Pangeran Regar telah mengatakan dia akan dengan mudah menghancurkan robot-robot tempur itu.
...~Bersambung~...