Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
EXTRA



Clara sedang sibuk menyiapkan makanan di meja yang sudah ia siapkan dibelakang rumahnya. Sedangkan Alena sedang memasak didalam rumah. Pertemuan kali ini adalah pertemuan besar keluarga mereka dengan keluarga Calvin. Sejak mereka pindah ke Jepang beberapa tahun yang lalu, kali ini mereka bertemu dengan semuanya. Anak-anaknya pun akan kembali karena sedang liburan sekolah.


Cello dan Cilla adalah anak kembar mereka berdua. Mereka terlahir sebagai kembar identik. Perbedaan mereka hanya bisa diketahui oleh Clara sendiri. Bahkan Edward sering terkecoh oleh keduanya. Walaupun kembar, tapi keduanya memiliki selera yang berbeda. Keduanya saat ini tinggal di luar negeri. Cello anak yang tertua mengambil jurusan fashion di salah satu universitas di Paris. Sedangkan Cilla anak bungsu mereka bersekolah modeling dan telah dikontrak sebagai model tetap. Walaupun jauh, mereka tetap memberikan perhatiannya.


"Anak kamu belum pulang juga sampai sekarang." ucap Edward sambil memeluk Clara dari belakang. Clara membalikkan badannya dan tersenyum pada Edward. Ia tidak menyangka akan melalui setiap waktu dengan pria ini. Setiap saat dan setiap detik, suaminya tidak pernah lengah memberinya perhatian. Ia menepati janjinya untuk membahagiakannya. Ia bahagia hingga saat ini. Tidak pernah sedikitpun pria ini melukainya. Ia pun memeluk Edward erat.


"Thank you, Ed. Aku bahagia karena kamu." bisik Clara.


"Kebahagiaan kamu udah jadi obsesi aku." ucap Edward sambil membalas pelukannya.


"Tante, Ardan udah bangun." ucap Andi yang kini berada di belakangnya. Ia sedang menggendong seorang anak laki-laki berusia 4 tahun.


Edward melepaskan pelukannya dan menghampiri Andi. Ia langsung menggendong Ardan. Anak bungsunya memang kesayangan Andi sejak ia baru dilahirkan. Andi sendiri merupakan anak tunggal Dave dan Alena. Ia sudah lulus kuliah beberapa minggu yang lalu dan langsung melanjutkan bekerja di perusahaan Dave.


"Kapan kamu dateng?" tanya Edward.


"Udah setengah jam. Tapi tadi aku langsung ke kamar Ardan." ucap Andi jahil.


Clara menghampiri Andi dan mencubitnya. "Kamu bangunin ya sepupu kamu! Kamu tau kan Ardan kalo udah bangun kayak gimana!"


Andi tertawa. "Aku gak bisa gak bangunin Ardan, Tante.. dia ganteng soalnya. Tapi tenang aja Tante, selama ada aku semuanya beres."


"Ya udah temuin dulu mama kamu. Ada di dapur." ucap Clara.


"Iya, tapi sebenernya kita lagi nunggu siapa? Temennya papa?" tanya Andi.


"Temennya kami. Cepet kesana dulu." seru Clara.


Andi langsung berlari. Ia menatap bangga pada keponakan satu-satunya itu. Alena dan Dave hanya memiliki satu anak laki-laki. Berbeda dengan dirinya yang memiliki tiga anak. Perbedaan usia merekapun sangat jauh. Cello dan Cilla saat ini berusia 21 tahun. Sedangkan Ardan berusia 4 tahun.


"Andi anaknya pinter. Ardan kalo udah gede harus ngikutin kayak dia." ucap Edward.


"Enak aja. Ardan harus ngikutin kedua kakaknya. Tiap anak punya cita-cita masing-masing. Kita gak bisa paksa anak kita jadi penerus kamu. Kalau waktunya tiba, dia juga bakal sadar kok." seru Clara.


"Iya mama.. papa nurut aja." goda Edward. Clara hanya melirik dan tersenyum sekilas. Iapun kembali ke meja dan duduk sambil menunggu Dave yang belum datang dari kantornya.


Makanan sudah disimpan diatas meja. Meja sudah siap. Dave sudah tiba. Yang belum tiba adalah kedua anak kembarnya dan keluarga Calvin.


Alena berulang kali menatap jam tangannya. Seharusnya Sandra dan Calvin sudah tiba. Tapi sampai sekarang belum terlihat. Baru saja berfikir seperti itu, pintu rumahnya diketuk.


"Di, buka pintunya. Mungkin itu temen mama." ucap Alena.


"Palingan si kembar ma.." seru Andi sambil berjalan ke pintu.


"Sebentar!" teriak Andi karena ia yakin yang mengetuk pintu adalah sepupunya. Ketika pintu dibuka, ia tertegun melihat seorang gadis muda. Ia datang memakai gaun bunga-bunga berwarna pink muda. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Gadis itu tersenyum padanya. Iapun tersenyum. Ia tidak melihat siapapun disana kecuali gadis itu.


"Cari siapa?" tanya Andi gugup.


"Tante Alena sama Tante Clara ada?" tanya gadis itu.


Andi langsung membuka pintu dengan lebar. Ia tersenyum. "Ada.. ada.."


Di belakang gadis itu, dua orang pria dan satu wanita sedang berjalan menghampirinya. Kali ini ia yakin mereka adalah teman kedua orangtuanya.


"Silahkan masuk, Tante dan Om.." seru Andi.


Calvin menepuk bahu Andi. "Kamu pasti anaknya Dave!"


Andi mengangguk. "Iya om, saya Andi. Ini anak om?" tanya Andi pada gadis muda itu.


"Iya.." jawab Calvin.


Tiba-tiba telinga Andi dijewer oleh Alena. "Eh, jangan macem-macem ya kamu! Sopan sama tamu!" seru Alena.


Alena melepaskan tangannya. Ia menatap sedih Calvin dan Sandra. "Gimana dong, mirip sama papanya waktu muda?" ucapnya.


Sandra dan Calvin langsung tertawa terbahak-bahak. Mereka langsung menghampirinya.. "Apa kabar Al?" tanya Sandra. Alena langsung memeluk Sandra erat.


"Kami baik, Sandra. Aku kangen banget sama kalian." seru Alena terharu.


"Aku juga Al."ucap Sandra tenang.


Iapun membawa keempatnya ke halaman belakang. Semuanya sudah berkumpul. Hanya tinggal kedua gadis kembar yang masih belum datang.


"Anak kalian sekolah di Jepang juga?" tanya Clara ketika mereka memulai menyantap makanan.


"Iya. Yang perempuan ini kakaknya. Namanya Erika. Yang laki-laki namanya Vino. Kalo Erika baru lulus. Mungkin sama kayak anak Alena." jawab Sandra.


"Cantik loh Erika ini." ucap Clara sambil melirik Andi yang sejak tadi memperhatikannya terus.


"Iya kan Tante?." seru Andi tiba-tiba.


Semuanya terdiam dan menatap Andi. Mereka mengerutkan keningnya. Hanya Edward yang tertawa.


"Nah, bentar lagi ada yang mau besanan nih!" seru Edward.


Untung saja ketukan pintu membuyarkan semuanya. Andi langsung berdiri dan berlari tanpa disuruh.


Clara menggelengkan kepalanya sambil menatap Alena. Ia menahan tawanya.


"Jangan liat aku, please! Diajarin dia!" jawab Alena sambil menunjuk Dave.


"Laki-laki itu harus to the point. Ajaran aku udah jelas. Andi mirip sama aku. Aku bangga. Dia cocok jadi penerus keluarga." jawab Dave senang


"Apanya yang dibanggain sih!" seru Alena yang dibalas tawaan semuanya.


"Halo!!" seru seseorang yang tak jauh dari mereka.


Kemiripan mereka tidak dapat diragukan lagi. Edward berdiri dan menghampiri keduanya. Ia senang sekali keduanya kembali untuk liburan sekolah. Ia memeluk keduanya satu persatu. Iapun menyadari satu hal. Ia menatap keduanya dengan serius. Tidak biasanya mereka memakai pakaian yang sama. Rambut yang sama, tas yang sama, hingga dandanan yang sama.


"Sebentar. Papa bingung liat kalian." ucap Edward.


Kedua gadis kembar itu berdiri untuk membiarkan ayahnya menyelidikinya. Mereka sama saja. Tidak ada yang berbeda. Iapun berbalik dan melihat Clara. "Sayang, aku bingung."


Clara berdiri dan menghampiri kedua anak itu. "Mama gak akan bisa dibohongin, sayang." ucapnya.


Ketika mereka mendekat, Clara langsung bisa menemukan perbedaan keduanya.


"Yang kiri Cilla. Cilla seneng pake parfum yang strong. Tapi ada satu yang gak akan ketauan sama papa kalian. Dan cuma mama yang tahu. Dan sebelah kanan ini Cello. Cello lebih suka pake parfum soft. tapi Finally, welcome back dear. Selamat datang dirumah."


Cello dan Cilla memeluk Clara dengan erat. "Mama memang terbaik. Mama bisa langsung ngenalin kita." ucap Cello.


"I'm home mom.." ucap Cilla.


"Welcome back.." jawab Clara.


Meja panjang yang disiapkan oleh Clara akhirnya bisa menampung semua orang. Ia bisa melihat tawa bahagia ketiga sahabat yang sudah memiliki kebahagiaannya. Semua orang berhak bahagia. Begitupun dirinya. Tidak pernah terbayangkan olehnya akan memiliki tiga anak. Perjuangan cinta mereka saat itu sangat diuji. Ia mengingat kejadian demi kejadian yang dialaminya. Sebuah tangan menggenggamnya dengan erat. Ia melihatnya dan menatap orang yang sedang tersenyum padanya. Siapa lagi jika bukan suaminya.


***************************************************


***Halo... Halo...


Hai, perkenalkan ini author yang masih berusaha membuat cerita yang bagus. Enggak monoton, menegangkan dan dicintai. Terima kasih buat semua atensinya. Mungkin ada yang suka atau gak suka sama cerita ketiga novel author. Kalau ada kritik dan saran silahkan, author terima agar author bisa membuat cerita yang lebih bagus lagi.


Oya, kalo ada yang setuju junior-junior mereka dibikin lagi ceritanya, jawab di kolom komentar ya..🎉😊😊🎉***