Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Alena



"She's fine now" ucap Dave ketika ia menghubungi Edward di halaman rumahnya.


Edward berdiri. "Aku kesana sekarang."


"Jangan. Kamu tau sendiri Alena marah banget sama kamu. Kamu tunggu sampai semuanya tenang." jelas Dave.


Calvin menarik kemeja Edward untuk duduk. Beberapa saat yang lalu mereka berdua mendatangi bar yang biasanya mereka bertiga datangi. Edward sedang dalam keadaan tidak baik. Untung saja Sandra bisa diberikan pengertian jika malam ini ia pulang terlalu malam.


"Duduk." ucap Calvin.


Edward duduk. Ia menyimpan handphonenya dimeja.


"Gila, aku bener-bener nyesel. Aku gak punya otak sama sekali." ucapnya kesal.


Calvin meneguk minuman didepannya "Makanya kalo ada apa-apa itu harus kamu pastiin dulu. Kasian kan Clara." serunya.


"Waktu kita ke Phuket, nama dia bukan Clara. Tapi Ara. Aku pikir dia udah ngebohong."


Calvin meminum kembali minuman yang ada digelas. "Apa bedanya Clara sama Ara? Ara itu nama panggilan kesayangan papanya."


"Aku nyesel. Kalo aku tau dia bakal celaka kayak gini, aku gak akan tidur dikamar terpisah sama dia waktu terakhir kali kita di Phuket dulu. Aku udah gak enak hati waktu kita berdua pisah kamar."


Calvin memegang bahu Edward. "Lebih baik kamu fokus lindungi Clara. Sekarang udah ketauan, Adriana dan mamanya ada dibalik semua ini. Kamu mau gimana? Kalian ada proyek bareng kan?"


"Aku mau mundur. Kalo sampai aku liat mereka nyakitin Ara, mereka berhadapan sama aku." ucap Edward kesal.


Keesokan paginya, Edward datang ke kantor setelah ia membuat kerusuhan sore kemarin. Ia mendengar desas desus yang sedikit menggelitiknya. Iapun masuk kedalam kantor dan duduk di kursi. Ia melihat suasana tegang diantara karyawan-karyawannya. Biasanya susasa kantornya sedikit ramai. Tapi kali ini sepi.


"Zahna!" panggilnya keras.


Zahna berlari ke ruangan Edward. Ia terlihat takut.


Edward menatap Zahna. "Putus kontrak dengan perusahaan Adriana. Bayar semua kerugian sesuai kontrak." ucapnya tajam.


"Baik, Pak." jawabnya. Ia berlari keluar. Sudah bukan rahasia umum jika Adriana adalah kekasih Edward. Ia tidak perlu diberitahu apa nama perusahaan milik Adriana.


Edward mengerutkan keningnya. "Trus kesini mau apa?"


"Mumpung aku inget. Kamu harus bantu kita cari saksi buat keluarga Aditya. Kamu harus pergi ketemu Adriana." ucap Dega.


"Kapan?"


Dega hanya menatap Edward dengan gemas. "Secepatnya." ucapnya cepat. Setelah siap, ia berjalan keluar meninggalkan Edward.


Alena masuk ke dalam kamar Clara sebelum pergi ke rumah sakit. Ia menemukan gadis itu sedang berdiri didepan kaca. Ia terlihat lebih segar daripada kemarin. Clara telah sadar semalam. Ia telah menceritakan semuanya padanya. Apa yang terjadi pada Clara dan Edward memang sebuah kebetulan. Ia ingat saat itu Edward setiap hari menghabiskan waktunya di bar bersama beberapa gadis. Ia tidak menyangka jika Edward melakukannya karena kehilangan Clara. Tapi sekarang semuanya tergantung Clara. Ia yang akan memutuskan mengenai Edward.


"Kenapa?" tanya Alena.


Clara membalikkan badannya. Ia tersenyum melihat Alena. Wajahnya sedikit cerah. Dan ia sudah lebih baik sekarang.


"Aku semalaman berfikir, aku harus pergi ke kantor Om Sakti." ucap Clara.


"Jangan. Lebih baik kamu stay dulu disini. Kakak gak akan ijinkan kamu pergi kemanapun." ucap Alena.


Clara terdiam. Ia memikirkan sesuatu.


Siangnya Alena pergi ke rumah sakit karena ada operasi kecil siang itu. Ia tetap berhati-hati kemanapun ia pergi. Ia tidak memparkirkan mobilnya di basement. Ia memparkirkan mobilnya di depan rumah sakit karena ia pikir akan lebih mudah pergi daripada menyimpan di basement. Lagipula ia datang kerumah sakit hanya untuk operasi kecil. Iapun keluar dari mobil dan mulai berjalan. Handphonenya berbunyi. Ia melihat Firly menghubunginya.


"Halo."


"Al, gimana keadaan Clara?" tanya Firly cemas.


"Baik-baik aja. Dateng ke rumah sana sekalian tengok nenek."


"Aku emang lagi di jalan mau kesana."


"Kamu baik banget sih Firly? Aku beruntung punya sahabat kayak kamu." Ucap Alena. Terdengar bunyi klakson mobil yang memekakkan telinga. Alena menoleh ke samping dan ia melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam sedang berjalan dengan sangat kencang didepan pintu masuk rumah sakit. Alena tidak sempat menyingkir karena kejadiannya begitu cepat. Ia tertabrak mobil itu dan pingsan didepan pintu masuk rumah sakit. Beberapa orang berteriak ketika melihat itu. Mereka mulai berkumpul. Beberapa perawat dan dokter yang sangat mengenalnya membawanya dengan cepat ke dalam.