
Clara membuka matanya dan melihat keluar jendela pesawat. Ia kembali untuk keluarganya. Sejak pagi hari kakaknya terus menghubunginya untuk menanyakan jam kepulangannya. Begitu juga dengan nenek Siska yang antusias menyambutnya kembali. Namun ia tidak memberitahukan jadwal kepulangannya yang sebenarnya satu hari lebih cepat dari yang ia katakan sebelumnya. Ia ingin memberikan surprise pada semuanya.
Seorang pramugari menawarinya minuman. Ia memberikan pilihan. Tentu saja ia memilih jus daripada wine. Ia bisa mabuk didalam pesawat jika memilih itu. Sambil meminum jusnya, ia membaca majalah yang ada di bangku pesawat. Ia sesekali menatap pasangan suami istri yang duduk disampingnya. Mereka terlihat bahagia. Jika saja kedua orangtuanya bisa melihat kesuksesan anak-anaknya, mereka pasti bangga. Tiba-tiba matanya terpaku pada gambar dirinya yang ada di majalah itu. Ia membaca sekilas dan menutup majalah itu dengan cepat. Ia tahu jika mereka telah membuatnya terlalu berlebihan. Ia membuka kacamatanya dan menggantinya dengan penutup mata. Ia akan tidur sebentar.
Dave berlari diikuti Edward yang kala itu sedang bersama di kantornya. Mereka mendapat kabar jika nenek Siska pingsan. Alena memberitahunya dengan nada panik. Tentu saja Dave ikut panik. Namun Edward langsung menawarkan diri untuk mengantarnya.
Tidak butuh waktu lama untuk mereka agar sampai dirumah dengan cepat. Keahlian Edward tidak dapat diragukan kembali. Ketika sampai dirumah, Dave langsung membuka pintu bahkan saat mobil belum berhenti. Edward merasa sport jantung ketika melihatnya. Ketika ia turun, ia terdiam ditempat. Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kakinya dirumah nenek Siska setelah kejadian putusnya hubungan ia dengan Clara. Ia malu untuk bertemu mereka. Berulang kali ia merencanakan sesuatu untuk meminta maaf atas nama ibunya, tapi ia terlalu pengecut untuk melakukannya.
"Ed!" panggil Dave dari dalam rumah.
Edward berjalan dan masuk kedalam rumah. ia melihat nenek Siska sudah baik-baik saja. Ia memang terlihat pucat, tapi melihatnya sudah duduk di sofa ditemani oleh Alena, nenek Siska sepertinya sudah membaik.
Ia masuk untuk berjabat tangan. Tapi Edward langsung memeluk nenek Siska. "Nek, maafin Edward soal Clara."
Nenek Siska memukul bahu Edward. "Dasar kamu, bukannya nanya keadaan nenek, malah ngomongin Clara."
Edward melepaskan pelukannya. "Ya, Edward salah. Tapi ngeliat kalian, Edward inget sama Clara."
Siska menghela nafas."Kasihan Clara. Kenapa mama kamu tega sama anak itu?"
Edward tidak menjawabnya.
Alena menatap wajah Edward. Terlihat penyesalan yang mendalam. Tiba-tiba Edward menatapnya disaat ia sedang melakukan sesuatu.
"Al!" ucap Edward.
Alena menatap Edward tajam. "Aku maafin kamu Ed. Ini bukan kesalahan kamu. Mama kamu keterlaluan."
"Ya, aku mengakuinya. Tapi mama menyesal. Mama berjanji akan menyelesaikan semuanya. Sekarang aku cuma mau minta maaf sama kalian. Aku denger Clara besok pulang."
Alena mengangguk. "Ya, tapi aku belum tau dia sampai sini jam berapa."
Alena melihat Edward sambil sesekali menatap Dave. Tadinya ia pikir Edward jauh lebih kuat dari Clara. Tapi melihatnya seperti sekarang, ia salah. Ketika Clara menghubunginya, ia terdengar sudah ceria. Bahkan ketika ia membahasnya, Clara selalu mengalihkan topik pembicaraan. "Ed, kalau misalkan Clara gak mau balikan sama kamu.."
"Enggak. Aku akan buat Clara kembali. Apapun caranya" jawab Edward cepat.
Taxi yang membawa Clara pulang tertahan didepan pintu pagar rumah nenek Siska. Ada sebuah mobil berwarna hitam keluar. Ia terkejut ketika melihat siapa yang ada didepan kemudi mobil. Jantungnya langsung berdebar dengan sangat kencang. Ia menunduk di kursi belakang supir. Ia belum siap bertemu Edward.
Ketika mobil Edward keluar, taxi masuk kedalam. Ia membuka kacanya sebentar untuk menengok pada satpam yang berjaga disana. Setelah selesai, mobil pun berhenti tepat didepan pintu masuk. Suasana terlihat tenang. Ia tidak tahu apa yang dilakukan Edward disini. Iapun keluar dari mobil dan berjalan pelan kedalam.
Pintu sudah terbuka. Ia tinggal masuk tanpa harus mengetuk pintu. Terdengar nenek Siska sedang berbincang dengan Dave diruang keluarga. Tapi, ia juga mendengar suara kakaknya disana.
Ia berdeham dan tersenyum ketika melihat ketiganya. "Do you miss me?" tanya Clara mengejutkan mereka bertiga.
Alena berbalik dengan cepat. Ia terkejut dan refleks langsung berdiri. Ia berjalan dengan cepat.
Clara terkejut dengan perut kakaknya yang sudah membesar. Ia menunduk untuk memegang perut Alena dan menggodanya. "baby, tante pergi empat bulan aja tapi udah gede gini." ucapnya.
Alena memegang bahu Clara dan menunjuknya. Ia hampir menangis karena merindukan adiknya. Clara langsung memegang wajah Alena. "No..no.. kamu jelek kalo nangis." bisik Clara.
"Aku bisa bahagia tanpa bantuan kakak." bisik Clara sambil tersenyum.
Setelah berpelukan dengan Alena, ia menghampiri Dave dan memeluknya. Terakhir ia memeluk Siska.
"Nek, makasih karena ngasih kesempatan buat aku belajar di Aussie." ucap Clara.
"Nenek udah tua, Clara. Nenek percaya kamu pasti bisa. Selamat datang di rumah!" seru Siska senang.
Alena menghampirinya. "Kenapa kamu gak ngomong mau pulang hari ini?"
Clara duduk disamping Siska. "Surprise.."
Alena memegang rambut Clara. "Kenapa jadi pirang gini?"
Clara memegang lengan Siska. "Di Aussie lagi musim warna ini. Walaupun cuma empat bulan, tapi aku udah bisa ikutin mode disana."jelasnya.
"Kalau Edward tahu..." ucap Dave.
"Oh ya, dimana kamar Clara? Besok pagi Clara mau ke kantor dulu. Mau ngecek ya nek." potong Clara. Ia tidak mau mendengarkan orang lain membicarakan tentang Edward.
**********************************
Clara mengeluarkan semua pakaiannya. Ia merapikannya di tempat tidur. Terdengar pintu diketuk. Alena masuk sambil membawa undangan di tangannya.
" Ini undangan yang udah disebar untuk pembukaan kantor baru."
Clara melihatnya. "Bagus."
Alena duduk di ranjang. Ia memegang salah satu pakaian Clara.
"Ra, apa kamu tau gimana keadaan Edward sekarang?"
"Stop kak. Untuk saat ini, aku gak mau denger nama Edward dulu. Please kak, aku baru beberapa jam landing. Jangan ngomong soal orang itu dulu" protes Clara.
"Kakak tahu. Maafin kakak. Kamu tau kalo sebelum kamu datang, Edward datang kesini sambil minta maaf." ucapnya
Clara duduk disamping kakaknya. "Kak, aku dateng kesini itu berharap kalian gak ngebahas Edward dulu. Aku sadar kami berdua tersakiti. Tapi butuh waktu buat membuka ini kembali." jawab Clara sambil menunjuk dadanya.
"Ya udah kalo gitu kakak keluar dulu. Kakak gak akan ganggu kamu dulu. Cepet istirahat. Jangan tidur terlalu malam." ucap Alena sambil berdiri. Ia berjalan ke pintu dan membukanya. Ia melihat Dave yang sejak tadi berada diluar kamar Clara.
"Gimana?"
Alena menatap Dave. "Seenggaknya kesempatan itu masih ada. Jangan paksa Clara." bisiknya.
Dave mengangguk. Merekapun berjalan dengan pikiran masing-masing. Mereka berdua cemas. "Edward kayaknya harus kerja keras." ucap Dave
"Hmmm.."