
Setelah berpamitan kepada kakaknya, Clara memutuskan pergi ke kantor Edward untuk memberikan surprise padanya. Ia masih ingat jalan ke kantor Edward. Tidak sulit menemukannya disaat aplikasi dapat memberitahunya. Iapun memasang gpsnya dan mulai membawa mobilnya kesana.
Tidak perlu waktu lama untuk sampai di kantor Edward. Ia pernah bekerja disana selama beberapa hari. Ia sudah mengenal tempat itu dengan baik. Mobilnya ia parkir di basement. Ketika keluar dari mobil, ia melihat karyawan yang hendak pergi menatapnya. Tidak jarang dari mereka berbisik. Clara yang sekarang bukanlah Clara yang dulu. Ia melangkah menuju lift yang dapat membawanya menuju lobi kantor. Ketika pintu lift terbuka, ia terkejut melihat seseorang yang ada didepan pintu lift.
"Clara?" tanya pria itu ramah.
Clara mengangguk sambil tersenyum. Ia mengangkat tangannya. "Iya Om, apa kabar?" jawab Clara. Ia tidak menyangka dapat bertemu dengan orangtua Edward disana.
Andi mengangkat tangannya dan membalas uluran tangan Clara. "Mau ketemu Edward?Dia lagi meeting. Kamu bisa ikut om dulu?" tanya Andi.
"Oke, boleh om." jawab Clara senang. Ayahnya Edward sangat berbeda jauh dengan ibunya. Ayahnya baik. Ia merasa tidak canggung ketika didekatnya. Sosoknya mengingatkannya pada ayahnya.
Mereka berduapun berjalan menuju cafe perusahaan.
"Ayo, duduk. Kamu suka kopi?" tanya Andi.
"Lambung Clara gak kuat om." jawab Clara merasa tidak enak. Rasanya konyol lambungnya tidak bisa menerima kopi. Sedangkan alkohol masih bisa diterima.
"Kalo gitu om pesankan kamu teh hangat aja." ucapnya seraya memanggil pelayan.
Clara menatap Andi. "Om mengingatkan saya sama almarhum papa."
Andi duduk dan tersenyum pada Clara. "Aditya ya?"
"Om kenal papa?" tanya Clara terkejut.
"Om sempet kenal papa kamu beberapa belas tahun yang lalu. Mungkin waktu itu kamu masih kecil." ucap Andi.
Clara hanya tersenyum. Ia tidak menyangka papanya akan mengenal papanya Edward. Rasanya sulit dimengerti.
"Om denger semuanya dari Edward. Om ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa papa kamu. Kamu juga hebat. Om salut sama kamu. Kamu harus memegang beberapa pekerjaan yang papa kamu kerjakan sebelumnya. "
"Makasih om." jawab Clara. Mereka berbincang untuk beberapa waktu sampai akhirnya Andi mendapatkan telepon dari istrinya. Clara sempat mendengar pria itu membicarakannya.
"Kamu diundang tante buat makan malam hari ini. nanti kamu bilang sama Edward aja. Om sekarang harus pergi. Oh terakhir. Om mau minta maaf atas ucapan istri om yang menyakiti kamu." ucap Andi.
"Gak apa-apa om. Aku gak masukin ke hati." jawab Clara.
"Kalo gitu om pergi dulu. Sampai jumpa nanti malam." ucap Andi sambil berdiri.
"Iya om, hati-hati." jawab Clara.
Sepeninggal Andi, iapun berjalan kembali untuk ke kantor Edward. Ia akan menunggu Edward selesai meeting di kantornya. Bertemu dengan ayahnya Edward adalah sesuatu yang menyenangkan. Ia harap nanti malam pun akan menyenangkan. Tidak rugi ternyata ia datang jauh-jauh ke kota ini. Ketika ia keluar lift, ada beberapa pegawai yang masih mengenalnya.
"Edward masih meeting?" tanya Clara pada Zahna yang ikut menghampirinya.
Clara mengerutkan keningnya. "Oke, aku kesana dulu." ucapnya sambil melambaikan tangannya. Hanya beberapa meter ia dapat melihat kantor Edward yang terdiri dari lapisan kaca itu terbuka lebar pintu ruangannya. Ia mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu saat Edward memarahinya secara membabi buta. Clara tersenyum ringan. Iapun berdiri didepan pintu namun langkahnya terhenti. Ia melihat Edward sedang makan siang dengan seorang wanita. Mereka tertawa bersama. Sepertinya pembicaraan mereka menyenangkan. Ia mundur ke belakang dan terdiam.
Ia tahu siapa Sasha itu. Ia tidak mau cemburu buta melihat keakraban mereka. Sebelum Edward mengenalnya, ia mengenal Sasha terlebih dahulu. Ia tidak mau kecemburuannya membuat persahabatan renggang. Tapi bagaimana dengan hatinya yang melihat kedekatan itu? Ia masih mendengar Edward tertawa terbahak-bahak. Clara menunduk. Apa yang harus ia lakukan? Ia bisa merasakan tatapan Zahna dan yang lainnya sedang menatapnya cemas.
"Ed, tau gak aku waktu ketemu pacar aku. Aku harus nyamar jadi laki-laki juga." seru Sasha sambil tertawa.
Edward ikut tertawa mendengar ucapan Sasha. Sejak orangtuanya pindah kembali kesini, Sasha ikut dengan mereka. Ibunya sempat meminta untuk memasukkan Sasha di bagian terbaik. Namun saat ini perusahaan sedang tidak membutuhkan pegawai. Terpaksa ia meminta Sasha untuk menjadi sekretarisnya menggantikan Zahna yang kini sedang mengurus banyak pekerjaan.
Disaat mereka sedang makan siang, Edward mendapatkan telepon dari Clara. Ia ingat hari ini belum menghubunginya.
"Halo sayang. Kenapa?" tanya Edward.
"Gak ada apa-apa. Apa aku ganggu kamu?" tanya Clara pelan.
"Enggak. Kamu ada dimana sekarang?" tanya Edward.
"Aku ada dibawah." jawab Clara pelan.
"Bawah?" tanya Edward bingung.
"Aku ada dilobi bawah." jawab Clara sambil menutup telepon.
Edward menatap Sasha. "Aku kebawah sebentar. Clara ada dibawah."
Clara duduk di sofa lobi sambil mengangkat salah satu kakinya. Ia melihat lift yang beberapa kali terbuka namun sosok Edward tidak terlihat disana. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan iparnya. Tiba-tiba terdengar suara orang berlari. Clara mengangkat kepalanya. Ia melihat Edward berlari menghampirinya. Ia hampir saja tersenyum ketika melihat seseorang yang berlari dibelakangnya. Wanita itu adalah Sasha.
"Kenapa harus mereka berdua yang dateng?" bisik Clara kesal.
Edward duduk disamping Clara. Ia langsung memeluk Clara dengan erat. "Sejak kapan kamu dateng kesini? Kenapa gak ngasih tau aku kamu dateng?"
Clara melepaskan pelukan Edward. "Ini di kantor. Bukan tempat umum. Jangan peluk-peluk." protes Clara. Sasha yang melihat itu hanya tersenyum.
"Tadi aku ketemu Om Andi disini. Aku dikasih tau buat dateng ke rumah kamu nanti malam buat makan malam." ucap Clara secukupnya.
Edward mencubit pipi Clara. "Mama yang undang kamu? Itu ide bagus."
"Kamu bisa jemput aku?" tanya Clara.
"Bisa. Nanti aku jemput kamu. Kamu diem di rumah Dave kan?" tanya Edward tidak enak. Ia melihat Clara yang terlihat tidak bersemangat. "Aku gak bisa anterin kamu pulang soalnya satu jam lagi aku ada meeting sama karyawan."
"It's oke. Aku bawa mobil kok. Aku bisa pulang sendiri." jawab Clara seraya berdiri. Ia melihat Sasha yang masih menatap mereka. Tanpa berpamitan pada keduanya, Clara berjalan meninggalkan mereka untuk pergi entah kemana. Sambil menunggu nanti malam.