
Alena menatap Dave. Semalam ketika Dave pulang, ia sudah tertidur.
"Kamu mau ke rumah? Ketemu Clara? Aku mau ikut." ucap Alena ketika ia berdandan didepan meja rias. Ia melihat Dave sedang bersiap-siap dengan tas jinjingnya.
"Aku mau kesana sekalian buat ngurus pekerjaan, sayang." ucap Dave sambil menghampirinya.
Alena cemberut. "Kamu kasih tau aku gimana kabar Clara disana. Dia gak pernah kasih kabar. Aku khawatir. Aku pengen cepet-cepat minta dia buat pindah kesini."
Dave tersenyum. "Makanya aku kesana buat ngurus itu." jawabnya.
Setelah berpamitan pada Alena dan neneknya, Dave pergi menuju rumah Edward. Mereka akan pergi bersama-sama pagi ini. Ia melihat Edward sangat bersemangat sekali sejak semalam.
Di Villa Clara, Bi Rumi terus menerus menatapnya. Ketika pulang tadi pagi ia melihat wanita itu hampir menangis karena mengkhawatirkannya. Berulang kali ia mencoba untuk menjelaskan jika ia baik-baik saja tapi wanita itu tidak percaya. Sampai saat ini ia masih bisa menyembunyikan lukanya.
"Tadi pagi, Non Alena telepon katanya suaminya sedang kesini." ucapnya kemudian.
"Kak Dave?" tanya Clara.
Bi Rumi mengangguk. Tanpe menunggu lama iapun mulai bersiap-siap ke kantor. Karena ia yakin kedatangan kakak iparnya untuk mengurus penggabungan kedua perusahaan. Ia bersemangat sekali. Iapun berlari ke kamarnya.
Ketika ia sampai kamar, handphonenya berbunyi. Ia melihatnya. Itu adalah nomor telepon ibunya Edward.
"Halo.." jawabnya berhati-hati
"Clara" panggil wanita itu.
"Iya tante. Ada yang bisa Clara bantu?" tanya Clara berjati-hati.
"Ya, tadi pagi Edward pergi untuk menemui kamu. Hari ini adalah terakhir kalinya kalian bersama. Manfaatkan waktu kalian sebaik mungkin. Pastikan Edward mau menerimanya." ucap wanita itu.
Clara duduk di ranjang kamarnya. Ia memegang dadanya yang terasa sakit. Tidak ada orangtua yang mencampuri urusan anaknya seperti ini, pikir Clara. "Iya Tante." ucap Clara sambil terisak.
"Tante sudah menyiapkan semuanya. Pernikahan Edward dan Sasha yang mungkin akan berlangsung tahun ini." ucapnya berat.
Clara menghapus airmata yang terus meluncur dipipinya. Semua kenangan tentang Edward langsung muncul di kepalanya. Mulai dari pertemuan mereka di pesawat, pertemuan mereka di phuket, game itu, dan terakhir ketika Edward memberikan cincin padanya. "Iya tante." jawab Clara tidak dapat menyembunyikan kesedihannya.
"Sebenarnya Tante tidak berharap sesuatu terjadi seperti ini. Tapi Tante memikirkan nama baik keluarga Tante yang telah dibangun selama puluhan tahun. Tante berharap kamu mendapatkan pasangan yang dapat menerima kamu apa adanya. Kamu juga berhak bahagia. Tapi tidak dengan Edward."
"Terima kasih Clara, karena mau mengerti perasaan Tante." ucap Ami sambil menutup telepon.
Clara menunduk dan mulai menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Pintu terbuka kencang, Bi Rumi masuk dengan tergesa-gesa. Ia langsung duduk disampingnya dan terus bergumam karena khawatir.
"Non, kenapa? Non. kenapa?" tanya Bi Rumi. Hanya itu terus yang Clara dengar. Ia menatap Bi Rumi sedih. "Berakhir Bi, semuanya berakhir."
"Apanya yang berakhir?" tanya Bi Rumi cemas.
Clara tidak menjawabnya. Ia terus menangis hingga ia mulai menyadari satu hal. Ia akan menyelesaikannya hari ini. Iapun bersiap-siap dan membuat Bi Rumi kebingungan.
Edward dan Dave melihat kantor Clara siang ini. Dave belum pernah datang ke kantor Clara sebelumnya. Dan ia merasa takjub. Ia melihat orang-orang berlalu lalang. Kantor ini sangat sibuk. Merekapun berjalan ke lobi.
"Clara ada?" tanya Dave.
Resepsionis itu terlihat salah tingkah. "Maaf sudah janji?" tanyanya.
"Saya kakaknya. Dave." ucap Dave.
Wanita itupun merasa terkejut dan tidak enak. "Baru datang. Baru saja naik ke atas."
"Oke, thank you." jawab Dave.
Merekapun menaiki lift menuju lantai 5. Karena lift itu bening, ia bisa melihat Clara sedang berbincang dengan karyawannya. Merekapun keluar dari lift dan memanggil Clara.
"Clara!" panggil Edward kencang.
Clara membalikkan kepalanya dan melihat Edward dan Dave berdiri didepan lift. Ia tersenyum dan berjalan menghampiri mereka. Ia tidak menyangka Edward akan memeluknya didepan karyawannya. Ia merasakan lukanya disentuh. Ia meringis pelan. Edward melepaskan dengan cepat. "Kenapa? Kamu sakit? Kenapa bahunya?" tanya Edward khawatir.
Clara tersenyum. "Enggak kok, aku salah tidur." jawabnya. Iapun menatap Dave. "Kak, langsung ketemu Daniel aja. Aku udah bilang kok."
Dave tersenyum dan mengangguk. Ia merasa ada yang berbeda dengan Clara. Matanya terlihat bengkak. Ia melihat Edward. Apa Edward tidak menyadarinya?
"Ed, kita keatas yuk. Kamu pasti belum pernah liat rooftop kantor ini. Biar kakak ipar aku kerja, dia juga harus tahu tentang kerjaan disini." ucap Clara sambil memegang tangannya. Edward tersenyum dan melambaikan tangannya pada Dave. Merekapun mulai berjalan ke atas.