Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Rencana honeymoon



"Sayang, sebelum pulang kita ke bar langganan aku dulu yuk." Ajak Edward ketika mereka dalam perjalanan pulang kerumah. Seharian ini mereka terus bersama, dan ia merasa waktunya masih kurang.


"Maksud kamu, aku mau diajakin mabuk? Enggak, besok pagi aku harus pulang karena om Sakti udah minya aku buat pulang besoik pagi."Jawab Clara tegas.


Edward tersenyum malu. Justru karena itulah, rencananya mengajak Clara ke bar adalah membuatnya mabuk dan menggagalkan kepulangannya . Ia masih menginginkan Clara ada didekatnya. Ia harus membuat rencana lain agar ia mau diajak ke bar malam ini. Edward sesekali menatap jam tangannya. Pukul 9 malam. Iapun menelpon seseorang untuk memuluskan rencananya. Ia akan menghubungi Calvin.


"Halo." jawab Calvin berat.


"Kamu dimana?" tanya Edward.


"Aku lagi sama Dave di bar." jawab Calvin.


Edward menutup teleponnya dengan cepat. Ia menatap Clara dengan panik. "Sayang, kita harus ke bar sekarang." ucapnya panik.


Clara terkejut. "Kenapa?"


"Calvin. Dia lagi ada masalah sama Sandra. Kita harus cepet kesana. Calvin mau bunuh diri." ucap Edward panik.


Clara semakin panik. "Kita cepet susul sebelum sesuatu terjadi sama Calvin. Udah lama aku gak denger kabar mereka. Aku pikir mereka baik-baik aja." jawabnya panik.


"Oke." jawab Edward cepat. Ia membalikkan mobilnya dengan cepat. Rencananya berhasil membawa Clara ke bar. Ini kesempatan. Ia tersenyum tanpa sepengetahuan Clara. Mobilnya ia bawa dengan kencang.


Ketika sampai di depan bar, Clara membuka pintu dengan cepat. Ia berlari. tapi untungnya Edward bisa mengejar Clara dengan cepat. Mereka berdua sudah berada didepan pintu ruangan tempat mereka menyewa kamar. Clara gemetar. Ia memainkan kedua tangannya. Sesekali ia menatap Edward untuk membukakan pintu.


Edward menghela nafas perlahan. Ia membuka pintu dan keduanya ada disana sedang meminum sesuatu. Clara masuk terlebih dahulu. Ia bingung melihat Calvin baik-baik saja. Bahkan Dave ada disana. Apakah ia sedang dibohongi kali ini oleh Edward?


"Vin, kamu gak apa-apa?" tanya Clara bingung.


Calvin menatap Clara dan ikut bingung. "Emang aku kenapa? Aku baik-baik aja kok."


Clara menghampiri mereka berdua. Ia terasa sangat bodoh. "Bukannya kamu mau bunuh diri?"


"Bunuh diri? Karena apa?" tanya Calvin bingung. Sedangkan Dave melirik Edward yang sejak tadi diam. Seharusnya jika ia tahu Calvin akan bunuh diri, yang lebih panik seharusnya dirinya, Bukan Clara.


"Katanya kamu mau bunuh diri karena kamu lagi ada masalah sama Kak Sandra."


Calvin tertawa terbahak-bahak. "Kalo aku mati, nanti siapa yang bakal ngejagain Sandra? Kamu pasti udah ditipu Edward." jawabnya sambil tertawa.


Clara membalikkan kepalanya dan menatap Edward marah. "Edward!" teriak Clara. Edward langsung memeluk bahu Clara dan membawanya untuk duduk. Ia bisa melihat kedua sahabatnya tertawa hingga terpingkal-pingkal.


Clara menatap Calvin. Pria itu terlihat biasa saja.Sepertinya pernikahan mereka lancar. pikirnya.


"Gimana kabar Kak Sandra?" tanya Clara pada Calvin.


"Sandra baik-baik aja." jawab Calvin. Tiba-tiba pintu terbuka. Edward masuk dengan dua gelas minuman di tangannya. Ia memberikannya pada Clara salah satunya.


"Maafin aku. Ini untuk merayakan kedatangan kamu kesini. Besok kamu udah pulang. Satu gelas aja. Setelah itu kita pulang." ucap Edward.


Clara mengambil gelas itu dan meminumnya dengan satu kali tegukan. Edward dan kedua sahabatnya menatap Clara tanpa berkedip. Clara memang paling pandai minum alkohol. Dan itu terbukti ketika mereka berada di phuket. Ia bisa meminum bir beberapa pitcher. Tapi Edward yakin ia hanya tinggal menunggu beberapa waktu saja untuk membuat Clara mabuk. Selama menunggu itu, ia dan kedua sahabatnya berbincang.


"Kamu inget gak hadiah yang sempet kamu janjiin buat taruhan?" tanya Calvin.


Dave mengerutkan keningnya. "Taruhan?" tanyanya bingung.


"Iya, taruhan tentang pernikahan kalian. Kalo kalian menikah, aku dapet satu tiket wisata bulan madu di phuket plus akomodasinya." jawab Calvin bersemangat.


Edward mengingatnya dengan jelas. Ia memang menyanggupi hadiah itu. Tidak masalah. Ia akan menanggung semua biaya mereka. "Kapan mau berangkat?" tanya Edward.


Calvin mengeluarkan handphonenya. "Minggu depan. Kebetulan Sandra lagi gak ada kerjaan." jawab nya bersemangat.


"Ed." panggil Dave. Matanya melirik Clara yang kini tidak sadarkan diri. "Aku kasih tau Alena." Ancamnya.


Edward tertawa. Ia mengerti ancaman Dave. "Gila! Ya udah kita pergi tiga pasangan aja. Nanti aku culik Clara. Kamu pastiin Alena aman terbang selama masa kehamilan."


"Pasti." jawab Dave senang. Selama menikah, ia belum pernah membawa Alena pergi kemana pun. Minggu depan saatnya. Ketiga pria yang telah memiliki pasangan hidupnya akan bersenang-senang untuk pertama kalinya. Ia yakin Calvin pun belum pernah membawa Sandra pergi. Apalagi keduanya baru saja berbaikan setelah apa yang terjadi pada mereka. Sepertinya perjalanan ini akan menyenangkan.