
Dave menggenggam erat tangan Alena. Tadi sore neneknya menghubunginya untuk datang ke rumahnya malam ini. Ia sedikit panik. Tidak pernah neneknya mencarinya dan Alena secara bersamaan. Apakah ini tentang pernikahan mereka yang akan berjalan satu bulan lagi?
Alena pun sama, ia khawatir pada kesehatan nenek Dave. Untung saja ia tidak apel hari ini. Ia bisa pulang lebih cepat dari rumah sakit.
Dave melihat ada mobil lain dirumah neneknya. Sepertinya ada tamu? Tapi siapa?
Mereka berdua pun masuk. Di ruang tamu, ia melihat neneknya sedang berbincang dengan orang asing. Dave hanya mengerutkan keningnya.
"Nek.." panggil Dave.
Alena melihat nenek Siska dan seseorang yang sedang duduk didepannya.
"Om Sakti?" tanya Alena.
"Hai Alena. Gimana kabar kamu?" tanya Sakti ramah.
"Baik om." jawab Alena sambil menghampirinya. Ia memeluk pria itu layaknya seorang ayah.
Dave bingung. Ia duduk disamping neneknya. "Kenapa nek?" tanya Dave
"Kamu diem dulu. Biar nenek yang bicara." ucap Siska dengan wajah tenang.
"Alena.." panggil Siska.
"Iya nek."
"Alena tau kan kalau Clara hilang sampai sekarang?" tanya Siska. Dave hanya menatap Alena dengan neneknya dengan tatapan bingung. Ia melihat Alena menunduk.
"Alena tau nek. Setiap hari Alena gak bisa tidur buat mikirin Clara." Isak Alena. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Dave langsung duduk disamping Alena dan memeluknya.
Sakti mulai berbicara. "Om sudah kerahkan tim dan polisi untuk mencari Clara, tapi hasilnya masih nihil. Om gak tau apa Clara masih hidup atau memang sudah meninggal."
"Masih hidup om. Aku yakin." Jawab Alena kesal.
"Om harap itu benar." jawab Sakti.
"Alena juga gak diem om. Alena gak tau wajah Clara seperti apa sekarang. Alena cari informasi ke setiap kantor polisi atau ke setiap rumah sakit selama ini. Tapi hasilnya nihil."
Sakti mengangguk. "Ya, Clara seperti hilang ditelan bumi."
Alena mulai mengelap airmatanya. "Lalu ada apa om jauh-jauh datang kesini?" tanya Alena.
"Papa tau Alena jadi dokter?" tanya Alena nanar.
Sakti mengangguk. "Bahkan papa kamu datang saat kamu wisuda.Tapi dia gak berani samperin kamu dari dekat." jawab Sakti membuat Alena menangis tersedu-sedu di pelukan Dave.
"Maaf kalau saya memotong. Tapi saya menolak dengan tegas." seru Siska. "Keselamatan Alena menjadi prioritas saya. Saya gak setuju Alena harus menggantikan papanya diperusahaan." tambahnya.
Edward sedang berada dirumah orangtua Adriana. Ia sengaja tinggal disana selama satu malam. Pagi sekali ia dan Adriana akan pergi ke hotel untuk melihat sesuatu yang akan dikerjakannya. Ia senang bekerja dalam kesepian. Karena itu akan membuat otaknya lebih banyak bekerja. Ia tahu jika hotel yang akan dikerjakannya adalah sebuah hotel bintang 6 dengan kehadiran tamu yang tidak sedikit. Ini adalah tantangan pertama untuknya. Apalagi ia sudah keluar dari tim Dave.
Ia menatap sekeliling kamar. Entah kenapa Adriana memberikan kamar tamu yang ada disamping kamarnya. Kamar itu luas. Kamar yang ditempatinya tidak pantas untuk kamar tamu karena luasnya kamar itu. Tapi ia merasa kamar itu memiliki bau yang berbeda. Dan ada suasana sedih disana. Ia tidak tahu kamar itu pernah digunakan sebagai apa. Ia berjalan menghampiri tembok dengan beberapa coretan tangan. Ia melihatnya dengan teliti. Ada tulisan nama seseorang. Clara? Siapa Clara? Ia akan bertanya pada Adriana esok pagi.
Keesokan paginya. Ketika Edward keluar kamar, ia terkejut melihat Adriana sudah siap. Ini bahkan masih pukul 5 pagi. Dan ia sudah berdandan untuk pergi ke hotel.
"Kamu udah siap?" tanya Edward.
"Udah dong, aku sengaja mau ikut kamu." jawab Adriana.
"Oke, kita pergi sekarang." Ucap Edward sambil menenteng laptopnya.
Edward tidak pernah melihat hotel dengan keadaan megah seperti hotel didepannya. Ia melihat berkeliling. Menurutnya tidak ada yang harus dirubah. Semuanya telah sempurna. Arsitek dan interior design hotel ini sudah memperhitungkannya dengan baik. Setiap sudut dibuat dengan baik. Lampu dan ornamen-ornamen hotel terlihat modern sesuai dengan zamannya. Iapun menghampiri Adriana.
"Adri, aku pikir gak ada yang perlu dirubah lagi. Semuanya sempurna. Kalo kamu mau yang diperbaiki itu cat nya, bukan interior ataupun tambahan bangunan. Aku gak setuju kalo mama kamu harus merubah bangunan asli hotel ini."
Adriana gugup. Justru itu semua hanya akal-akalan ibunya agar ia dekat dengan Edward. "Nanti aku bilang mama." ucapnya.
Kemudian Edward berjalan menghampiri resepsionis. Ia penasaran dengan tipe kamar yang ada dihotel itu. Ia melihat nama yang sama dengan nama yang ada di coretan kamar tamu tadi malam.
Ia melihat daftar harga hotel itu. Ia tertarik ketika melihat dua tipe kamar. Ia membacanya pelan. tipe Superior by Alena dan tipe Deluxe by Clara.
Ia berbalik untuk melihat Adriana.
"Adri, sini. Aku mau nanya sesuatu." tanya Edward.
"Apa sayang?"
"Kamu liat ini. Nama tipe ini bukan tipe kamar hotel kayak biasanya. Kenapa namanya bukan deluxe atau superior aja?" tanya Edward bingung.
"Apalah arti sebuah nama. Itu cuma nama iseng-isengan aja. Kalo gak gitu, mana ada yang tertarik sama hotel ini. Lagian papa ganti nama ini belum lama kok." jawab Adriana.
Edward hanya mengangguk. Tapi ia masih penasaran. Ada misteri apa di keluarga Adriana?