
Pagi itu terlihat cerah. Clara diantar oleh Alena ke sebuah perusahaan tempat Clara bekerja. Ketika terjadi pertemuan terakhir antara sahabat ayahnya dengan pengacara yang khusus disewa untuknya, mereka telah menyusun rencana dengan sebaik mungkin. Hanya saja Clara harus ikut terlibat dalam rencana itu. Mereka mengabaikan trauma Clara bila bertemu dengan orang banyak. Tapi perusahaan yang Clara datangi seminggu ini untungnya tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang. Walaupun perusahaan itu bukan perusahaan kecil. Hari pertama hingga hari ke lima dapat ia lewati dengan mudah.
Ia ingat ketika pernikahan Sandra terjadi minggu kemarin, ia datang setelah dipaksa oleh kakaknya untuk datang, namun ia beruntung karena tidak menemukan pria itu disana. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia bertemu dengan pria itu. Mengingat perjumpaan mereka terakhir yang memberikan kesan sangat buruk untuknya. Sampai sekarangpun Clara penasaran dengan apa yang dilakukan pria itu padanya.
"Clara, kamu ngerti kan semua rencana ini dibuat agar Desy dan anaknya tahu tentang kondisi kamu? Kita gak bisa langsung dateng kesana trus kasih kabar tentang kamu, itu bahaya. Anak buah Desy banyak. Kakak khawatir.:" tanya Alena sambil menyetir mobilnya.
"Aku gak apa-apa kak. Lagian disini ada Kak Dega yang banyak nolong aku."
"Seenggaknya kalo kamu dipegang Dega, kakak tenang. Nanti kakak jemput pas pulang kerja. Dega baik banget nerima kamu kerja dengan jaminan keamanan dari dia."
Clara tersenyum. iapun merasa demikian. Ia belum pernah bertemu dengan wanita sebaik Dega dan Sandra.
"Kamu betah?"
"Selama gak ada orang aneh, aku betah-betah aja. Tapi kak, kenapa aku harus kerja di perusahaan Kak Dega?" tanya Clara.
"Karena nama perusahaan papa tertera di list perusahaan rekanan perusahaannya Dega. Jadi, kalo kamu bekerja disana ada kemungkinan bertemu dengan pegawai kepercayaan Desy. Jadi lebih baik seperti itu."
Mereka telah sampai didepan lobi perusahaan. Clara menunggu sebentar di mobil. Ia melihat diluar tidak terlalu banyak karyawan yang masuk kedalam lobi. Dan ia melihat mobil Dega baru saja masuk. Clara pun turun dan menghampiri mobil Dega. Wanita itu terlihat cantik dengan pakaian blaser dipadukan rok pendek.
"Kamu dianter?"tanya Dega ketika melihat Clara menghampirinya.
Clara menunjuk mobil Alena yang masih berada di parkiran. Dega melambaikan tangannya pada Alena dan tersenyum.
"Hari ini banyak pekerjaan, Clara. Kamu bantuin beresin arsip sama aku." jawab Dega sambil berjalan ke dalam. Ketika sampai di lift, Clara harus pergi ke WC terlebih dahulu. Ia membiarkan Dega naik lift bersama dengan beberapa karyawan lain.
Edward baru saja turun dari mobilnya. Kakaknya tidak tahu jika ia sudah pindah dari Singapura dan kini menetap di apartemennya. Kalau saja kakaknya tahu ia kembali dan hanya tinggal di apartemen, ia pasti marah besar. Ia berjalan menuju lift. Ia tidak peduli tatapan karyawan padanya. Itu menjadi pemandangan setiap hari ketika ia datang ke kantornya. Tiba-tiba ia memikirkan sesuatu, jika ia sudah kembali ke kantornya, ia akan lebih mudah untuk mengerjai wanita itu. Mengingat kejadian terakhir, sepertinya wanita itu tidak menceritakan pada sahabat-sahabatnya. Mereka masih tetap diam.
Ia melihat sekelilingnya. Rasanya nyaman berada di kantornya sendiri. Iapun berjalan menuju lift. Hanya ada beberapa orang yang menunggu lift terbuka. Ia melihat jam tangannya. Dega sudah ada di atas. Ia akan menemui Dega terlebih dahulu. Ketika lift terbuka, ia masuk bersama beberapa orang lain. Ia tak kuasa menahan keterkejutannya ketika melihat seorang wanita mencoba masuk ke lift saat lift itu mulai menutup. Wanita itu terkejut ketika melihatnya. Begitu juga dirinya sendiri. Tidak ada wajah tertekan seperti terakhir kali mereka bertemu. Yang ada hanyalah wanita cantik dengan pakaian kerja super sexy yang tidak pernah ia temukan pada siapapun. Mungkin baginya pakaian itu biasa saja, tapi bagi kaum pria bisa berpendapat sebaliknya. Ia dapat melihat karyawan pria tidak berkedip ketika melihatnya.
Hari pertama bekerja, ia menemukan mainan yang sangat bagus. Untuk apa ia berada di kantornya? Untuk apa ia memakai pakaian kerja di kantornya? Apakah wanita ini bekerja di kantornya? Siapa yang sudah menerimanya bekerja? Apakah Dave dan Dega ada dibalik semua ini? Atau apakah ia datang ke kantor ini hanya untuk merayunya?
Jantung Clara hampir saja lepas ketika melihat pria itu ada didepannya. Ia merasa senangnya hanya sesaat karena ia pikir pria didepannya sudah tidak akan berada di kantor ini. Tapi sepertinya pikirannya berbeda. Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja memulai pekerjaan dengan semangat. Pria didepannya menatapnya tajam. Ada senyuman sinis dibalik kacamata hitamnya. Lalu bagaimana ia akan bertahan jika pria didepannya senang bermain-main dengannya. Ia menutup matanya perlahan. Ia melihat ayah dan ibunya dalam pikirannya. Demi perusahaan ayahnya ia akan berusaha untuk bertahan.