Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Take Off



Beberapa jam kemudian Clara membuka matanya perlahan. Ia kebingungan. Ia refleks melihat kesamping kirinya. Ia berada ditempat parkir. Ia pun bangun dan melihat Edward disamping kanannha. Pria itu sedang mengetik sesuatu. Iapun membuka seatbelt nya dan memegang tangan Edward.


"Kita dimana Ed? Bandara ?" tanya nya cemas. Ia melihat jam tangannya. Pukul 4 pagi dan mereka berada di bandara saat ini.


"Kamu tidur lama banget. Aku gak berani bangunin." ucap Edward sambil menyimpan handphonenya kedalam saku celana.


"Kita mau kemana? Aku bilang hari ini aku mau ketemu sama orang-orang suruhan kakak kamu. Gimana sih Ed.." ucap Clara panik dan kesal.


"Udah beres semuanya. Kamu gak usah cemas. Turun yuk. Mereka udah nunggu." ucap Edward tenang. Ia membuka pintu mobil dan turun mendahului Clara yang masih bingung dengan semuanya. Iapun ikut turun dari mobil dan dengan cepat menghampiri Edward. Pria itu sedang mengeluarkan tas selempang miliknya dan koper kecil milik dirinya. Ketika ia menutup pintu mobilnya, ia menatap Clara sambil tersenyum. Ia menyimpan tasnya diatas koper Clara. "Semua pekerjaan kamu beres ya sayang. Berkas yang Dega butuhkan bisa dipending sampe 2 minggu ke depan karena sidangnya diundur. Jangan bilang kamu gak tau.." tanya Edward.


Clara menggelengkan kepalanya. "Aku gak tau."


Edward memegang kedua bahu Clara. "Kamu terlalu sibuk makanya gak tau kabar itu. Trus ijin liburan kamu hari ini udah aku minta sama Om Sakti. Dia ngijinin kamu pergi. Terakhir, mereka semua udah nunggu didalem. Kita berangkat ke Phuket naik pesawat jam 5.30 pagi." jelas Edward.


"Phuket?" tanya Clara terkejut.


Edward mengangguk sambil tersenyum. "Aku udah pinjem yatch sama temen aku yang ada disana. Jadi kalo kita kesana siang, kita bisa langsung naik yatch. Kamu pasti suka. Waktu terakhir kita ke Phuket, kita cuma menikmati hadiah keliling pulau aja. Kalo sekarang ceritanya beda." ucap Edward.


Edward membawa tasnya dipundak dan koper ia pegang di tangan kirinya. Tangan kanannya ia gunakan untuk memegang tangan Clara. Walaupun masih terkejut dengan ucapan Edward, Clara mengikutinya masuk kedalam bandara. Tapi ia melepaskan tangannya ketika melihat siapa yang sedang menunggu mereka. Ia berlari menghampiri orang-orang itu.


"Kak!" panggil Clara antusias. Ia berlari menghampirinya.


Alena melambaikan tangannya. Begitu juga dengan wanita disampingnya. "Dia seneng banget." bisik Sandra.


Clara memeluk keduanya dengan senang. "Apa bener kita mau ke Phuket?" tanya nya senang.


Sandra mengangguk. " Bener."


Clara menatap Sandra. "Kak, udah lama kita gak ketemu. Aku udah denger masalah kalian tapi aku seneng kalian udah baikan. Gimana?" tanya Clara.


"Ehem.."


"Kalian emang sepaket. Ngerepotin." jawab Calvin dan diamini oleh Alena. "Iya, mereka berdua kalo anak kecil bisa disebut nakal." seru Alena.


Edward datang dengan membawa tiket di tangannya. "Kita check in sekarang." ucapnya.


Dave yang saat itu sedang tidur, dibangunkan oleh Alena. Ia sedikit kesal. "Kenapa kita gak sewa private jet aja." ucapnya.


"Udah diem Dave, ini acara aku sama Calvin karena dia pemenangnya. Kamu tamu diem aja." seru Edward. Alena dan Clara hanya saling bertatapan. Mereka tidak mengerti sama sekali ucapan ketiga pria itu.


Hanya satu jam menunggu, akhirnya mereka take off menuju Phuket pagi ini. Ini adalah liburan kedua Clara dan Edward. Clara terlihat sangat antusias. Ia terus bersandar pada Edward dan memegang tangannya erat. Ia tidak tahu jika sebuah kejutan telah ia siapkan disana. Liburan ini akan menjadi liburan paling indah bagi mereka. Ia membayangkan bagaimana ia akan melamar Clara untuk kedua kalinya disana. Tidak ada yang tahu tentang rencananya.


"Ed, belum nyampe pun aku cuma mau bilang makasih sama kamu." bisik Clara.


Edward menundukkan wajahnya dan mengecup pipi Clara dengan cepat. "Sama-sama." ucapnya.


"Masih ada kejutan lain?" tanya Clara pelan.


Edward berbisik. "Tunggu aja."


"Apa perlu kita ikutan lagi challenge itu?" goda Clara.


Edward mencubit pipi Clara. "Mulai nakal nih!"


Kedua pasangan disampingnya hanya menatap mereka sambil mengernyitkan dahinya. Dave dan Calvin bukan seseorang yang romantis didepan umum. Berbeda dengan Edward yang biasa romantis kepada siapapun didepan umum. Tapi sejak bertemu dengan Clara kembali, ia tidak terlihat sekalipun menggoda wanita lain. Padahal ketika masih berhubungan dengan Adriana, ia terkadang melakukannya.


Dilain tempat.


Adriana telah siap pagi-pagi sekali untuk pergi menuju sebuah restoran pagi. Dua hari yang lalu ia diterima kerja sebagai pelayan dengan bayaran lumayan. Ia tidak peduli berapa bayaran yang ia dapatkan. Ia hanya ingin segera bertemu dengan orang yang telah membuat ibunya menderita. Bahkan saat inipun ia tidak bisa menengok ibunya. Ia tidak tahu di lapas mana ibunya berada.


Ketika berjalan di jalan, ia melihat sebuah billboard sebuah perusahaan. Layar raksasa itu sedang melakukan siaran berita pagi. Layarnya terhenti ketika ia melihat wajah Clara disana. Pembawa berita itu mengatakan tentang penggabungan dua perusahaan. Tidak aneh karena kakak Clara menantu pemilik hotel. Ia sudah yakin hal itu akan terjadi. Tapi melihat senyum Clara di layar itu, hatinya mendidih. Ia tidak akan melupakan apa yang sudah terjadi pada ibunya. Tunggu beberapa bulan lagi sampai ia bisa menemuinya.