
Sasha menatap beberapa foto menarik yang ada di handphonenya. Malam itu ia tidak menyangka akan menemui mereka di bar. Ia datang kesana untuk melihat apakah benar kekasihnya sedang ada tour diluar kota. Tapi ternyata ia melihat Clara sedang dipapah oleh dua orang pria. Ia dalam keadaan mabuk. Untungnya ia berhasil mengabadikannya lewat kamera handphone. Perhatiannya bukan lagi mencari kekasihnya. Tetapi wanita itu. Jika foto ini dijadikan ancaman untuk Edward, apakah ia akan meninggalkan Clara? Tapi ia takut untuk melakukannya karena takut Edward marah. Ia tidak mengenal kedua pria yang ada di foto itu. Dimanakah Edward? Apa Edward tau apa yang dilakukan kekasihnya? Ia merasa tidak rela harus melihat Edward menikah dengan wanita yang nakal dan suka mabuk-mabukan.
Tiba-tiba pikirannya diganggu oleh teriakan Edward. Ia sampai terkejut ketika mendengarnya. "Sasha!" panggil Edward lagi dari dalam ruangannya.
Sasha menyimpan handphonenya di dalam tas dan bergegas masuk ke ruangan Edward. "Ada apa?"
"Tolong kamu suruh orang buat ambil tiket saya di travel agent yang biasa. Total ada 6 tiket. Awas jangan sampai hilang. Itu penting." ucap Edward tanpa melihatnya. Ia masih mengetik sesuatu yang Sasha tidak tahu.
"Kamu mau pergi kemana?" tanya Sasha.
"Udah, kamu cari orang aja. Gak usah banyak tanya." jawab Edward kesal.
Sasha langsung berlari keluar dengan perasaan dongkol. Ia tiba-tiba sebal. Jika waktunya tiba, ia akan mengirimkan foto itu pada Tante Ami dan mengatakan semuanya pada Edward, pikirnya. Sekarang Ia harus mencari orang untuk mengambil tiket di travel agent langganan Edward. Ia penasaran karena Edward mengatakan ada enam tiket. Untuk siapa enam tiket itu? Tak lama iapun menemukan orang yang bisa mengambil tiket itu, ia hanya mengatakan. "Kasih saya nanti. Jangan langsung ke bos." ucapnya.
Edward melihat komputernya sambil memilih beberapa hotel. Banyak koleganya di Thailand. Ia bisa menggunakan akses itu untuk mendapatkan kamar hotel. Namun ia sengaja memesan sendiri kamar hotel agar ia lebih puas. Beberapa kali ia memilih namun akhirnya ia lebih senang untuk memesan lagi kamarnya di Stay Resort. Stay hotel memiliki sejarah penting untuknya dan Clara. Hotel itu adalah tempatnya menginap beberapa waktu yang lalu. Ia ingat dengan jelas malam itu Clara menangis sambil menyebut nama ayahnya. Ia menyesal karena mungkin saja itu percakapan terakhir antara ia dengan ayahnya. Tapi semuanya sudah berlalu. Ia bertekad untuk membahagiakan Clara saat ini. Banyak kenangan tentang Phuket. Karena di Phuketlah, cerita mereka masih bersambung hingga saat ini. Padahal waktu itu ia terpaksa menerima pekerjaan di bangkok dan tanpa sepengetahuan Dave, ia pergi berlibur di Phuket untuk bersenang-senang dengan wanita disana. Tidak disangka ia harus jatuh cinta pada gadis yang harus kehilangan sesuatu yang berharga karena permainan konyol itu olehnya. Jika mengingat itu, rasanya ia menjadi gila.
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Sasha muncul dengan amplop coklat ditangannya. Edward melihat sekilas pada Sasha. Ia teringat ucapan Clara saat ia pulang. Ia berfikir sejenak sambil menatap wanita didepannya. Secantik apapun Sasha, ia tetap tidak tertarik pada wanita itu.
"Kamu mau ke Phuket, Ed?" tanya Sasha membuyarkan lamunannya.
Edward mengangkat wajahnya. "Kenapa? Mau ikut?" tanya Edward.
Sasha terlihat gugup. "Aku.. aku.." ucapnya.
"Bawa aja pacar kamu. Nanti aku beliin tiketnya." pancing Edward.
"Aku udah putus." jawab Sasha cepat.
"Putus?" tanya Edward. "Kenapa? Bukannya pacar kamu musisi?" tambahnya.
"Kita udah gak cocok." jawabnya.
Edward mengerutkan keningnya. Biasanya wanita lebih sensitif ketika putus cinta. Tapi wanita didepannya ini tidak terlihat seperti itu.
Tiba-tiba ia mendapatkan telepon dari Calvin. Ia mengangkat tangannya dan meminta Sasha untuk keluar dari ruangannya.
"Ya." jawab Edward.
"Ed, kamu udah email tiketnya?" tanya Calvin.
"Aku ambil tiket fisiknya. Nanti kita ketemu di bandara." jawab Edward tenang.
"Ya, sekalian program bikin bayi." kelakar Edward.
"Apaan sih Ed!" seru Sandra dari balik telepon.
Ketika telepon ditutup, ia menerima notifikasi di emailnya dari hotel tempatnya menginap. Ia memesan 5 kamar yang ada dilantai itu. Ia tidak mau privasi mereka diganggu oleh siapapun.
Suara tawa Edward terdengar hingga luar ruangan. Sasha terdiam. Iapun mengeluarkan kembali handphonenya. Sambil menatap wajah Clara yang tidak sadar, ia berfikir. Kapan waktunya tiba? Sampai kapan ia akan menyimpan kebobrokan wanita itu?
"Sha.." panggil seseorang.
Sasha melirik pria yang ada didepannya. ia terkejut. "Om.. maaf aku gak liat om dateng." ucap Sasha sambil berdiri.
"Edward ada?" tanya Andi.
"Ada om."
"Om masuk dulu ke dalam." ucap pria itu.
Andi masuk ketika Edward terlihat serius dengan teleponnya. Ia melihatnya masuk dan melambaikan tangan. Selama Edward menerima panggilan telepon, ia berkeliling ruangan Edward. Dulu ketika ia masih muda. Ruangan ini adalah ruangan bermain Edward jika datang ke kantornya. Namun sekarang ia buat menjadi ruangannya sendiri. Sedangkan ruangannya yang dulu dipakai oleh Dega sebagai ruang kerja pengacara. Tiba-tiba ia tertarik ketika melihat sebuah foto yang dipasang didalam lemari kaca. Ia mendekatinya. Foto antara Edward dengan Clara disimpan dibingkai kaca dan disimpan disana. Edward benar-benar mencintai gadis itu.
"Kenapa pah?" tanya Edward ketika ia menyelesaikan panggilannya.
Andi berbalik dan menunjuk foto itu. "Ini kapan? Kalian berlibur berdua?" tanya nya.
Edward bangun dari duduknya dan menghampiri Andi. Ia menatap foto itu dan tersenyum. "Itu foto kita waktu di Phuket pah. Beberapa bulan yang lalu. Pertama kalinya aku kenal sama Clara."
"Kamu bener-bener serius mau menikahi Clara?" tanya Andi.
"Aku bener-bener serius pah. Please, jangan dipersulit kayak mama." jawab Edward serius.
Andi hanya tersenyum. Iapun duduk di sofa dan menyilangkan kaki. "Mana mungkin papa persulit kalian. Clara anak baik dan sopan. Mungkin ia berani awalnya. Tapi papa suka dengan calon menantu seperti itu. Mungkin mama kamu yang masih harus kamu rayu."
Edward menghampiri ayahnya. "Aku perlu bantuan papa." jawab Edward serius.
"Oke. Papa kesini mau nanya. Sampai dimana pekerjaan kamu?" tanya Andi mengalihkan pembicaraan.
Edward mengambil data yang baru saja ia dapatkan dari Zahna pagi tadi. Setelah itu ia menyerahkannya pada ayahnya. Andi melihat laporan itu dengan serius. Ia hanya menganggukkan kepalanya. Kepercayaannya pada anak bungsunya membuahkan hasil. Ia memang bisa menyelesaikan pekerjaannya tanpa bantuannya. Ia hanya menatap Edward sambil tersenyum puas.