
Edward menunggu seseorang di lobi sebuah mall. Ia menatap jam tangannya. Adriana telat. Sedangkan ia tidak suka dengan orang yang telat. Ia terpikir untuk kembali ke Indonesia setelah sesuatu yang terjadi pada pernikahan Dave. Sore ini ia akan kembali ke Singapura karena ada pekerjaan mendesak. Sebelum pulang, ia sempatkan bertemu dengan Adriana sebentar. Adriana orang baik. Hanya saja ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis itu. Ia tidak pernah sekalipun mau disentuh olehnya. Padahal selama di Singapura, ia tinggal serumah dengannya.
"Ed!" panggil seseorang. Suara seseorang membuyarkan pikirannya dalam sekejap. Ia tahu siapa yang memanggilnya
Edward melihat Adriana sedang berlari ke arahnya. Wajahnya terlihat senang. Ia memakai pakaian bunga-bunga hari ini. Tanpa diminta, Ia langsung memeluk Edward sambil tertawa bahagia.
"Kenapa? Kayaknya lagi seneng banget?" tanya Edward bingung.
"Aku seneng karena mama baru ngasih aku apartemen baru." jawabnya tanpa mau melepaskan pelukannya.
"Trus sekarang mau kemana? Mau ikut aku pulang?"tanya Edward.
Adriana menggelengkan kepalanya. "Aku mau nyari barang buat apartemen aku. Maaf aku gak bisa ikut."
"No problem. Sekarang kamu mau kemana?" tanya Edward.
Adriana merasa sedikit aneh. Biasanya Edward berlaku cuek padanya. Tapi kali ini berbeda. Apa ini cara yang Edward lakukan untuk berpisah dengannya. Adriana menggelengkan kepalanya. Itu tidak boleh terjadi. Ibunya pasti akan marah besar jika ia melepaskan ikan besar peliharaannya.
"Hey.."panggil Edward.
Adriana langsung menatapnya. "Ya?"
"Mau kemana kita?"
"Sebelum kamu pulang, aku pengen beli sepatu. Liat, sepatu aku udah jelek, Dave..beliin aku satu ya" ujar Adriana merajuk.
"Terserah. Perlu aku keluarin kartu buat beli sepatu kamu yang mahal itu?" tanya Edward
"Of course, honey." jawab Adriana sambil mengecup bibir Edward dengan cepat.
Merekapun mulai berjalan menuju beberapa toko yang akan dikunjungi. Berbagai tatapan orang-orang yang iri tertuju pada mereka. Edward dan Adriana tidak pernah peduli karena bukan sekali saja mereka mendapatkan perlakuan seoerti itu.
Orang-orang mungkin iri pada kemesraan mereka, pikir Edward.
Ketika mereka sampai disebuah toko sepatu, Adriana langsung berlari memilih berbagai sepatu yang ia sendiri tidak begitu mengerti. Ia melihat sikap gadis itu. Sebenarnya Adriana orang yang cukup baik. Hanya saja ia pikir ia dan ibunya memiliki obsesi yang begitu tinggi. Ia tidak tahu apakah itu. Apakah menyangkut harta ayah tirinya?
Tiba-tiba sebuah panggilan menghentikan lamunannya. Ia melihat layar handphone. Calvin menghubunginya. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan sahabatnya itu.
"Aku tunggu undangan dari kalian." jawab Edward santai.
"Ed, dimana kamu? Kamu harus tanggungjawab bikin kita berdua jadi tersangka." seru Calvin marah.
"Tanggungjawab? Sorry, gak punya urusan sama kalian." jawab Edward sambil tertawa. Ia melihat Adriana menghampirinya dengan membawa beberapa sepatu ditangannya.
"Kamu gak boleh pergi Ed. Kamu harus beresin dulu masalah yang udah kamu buat disini" jawab Calvin dengan nada kesal.
Edward hanya tertawa. "Tomorrow I'll be back." jawab Edward sambil menutup teleponnya.
"Sahabat aku." jawab Edward tenang.
"Aku denger besok kamu pulang lagi kesini. Buat apa kamu ke sana lagi?"
"Karena ada yang harus aku kerjakan disana malam ini."
Adriana mengangguk mengerti. Ia teringat sedang mencoba beberapa sepatu. "Gimana, Ed? Bagusan mana?"
Edward melihat Adriana mengenakan sepatu itu. "Semuanya bagus."
Adriana menatap Edward. "Aku ambil semua?" tanya Adriana.
Edward tidak perlu menjawabnya. Ia langsung mengeluarkan kartu dari dalam dompetnya dan menyerahkannya ke salah seorang pelayan.
Adriana langsung memeluk Edward. "Thank you, Ed. I love you." bisiknya.
Edward melepaskan pelukan Adriana. *Tidak ada perkataan itu. Tidak ada yang boleh mencintainya selain gadis itu.*pikir Edward.
Firly membawa Clara ke cafe milik Alena agar gadis itu tidak sendirian. Setelah mendengar cerita dari Alena tentang kejadian yang dialami Clara, ia merasa terharu. Gadis secantik Clara harus mengalami kejadian menakutkan seumur hidupnya. Tapi ia tidak boleh diam terus. Ia tetap harus keluar rumah. Dan itulah yang terjadi. Setelah mendesak dengan berbagai cara, Clara mau keluar dengannya namun dengan syarat keselamatan Clara ada ditangan Firly. Tentu saja Firly menyanggupinya. Firly memiliki gelar sabuk hitam taekwondo. Ia tidak takut pada siapapun. Ia pasti menyelamatkan Clara yang merupakan adik sahabatnya sendiri.
Ia melihat tampilan Clara sore ini. Gadis itu menutup semua wajahnya. Topi berwarna hitam dan masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Pakaian yang ia gunakan berbeda jauh dengan pakaian yang biasanya dipakai wanita modern. Ia menghampiri Clara.
"Kamu harus melawan rasa takut kamu, Clara. Aku ada disamping kamu. Kalo ada yang macem-macem, kasih tau aku." ucap Firly ketika ia menaiki mobilnya. Ketika diperjalananpun, ia melihat Clara banyak menunduk. Terkadang ia melihat keluar tapi tidak sering. Ia kembali menunduk.
Ketika sampai di cafe Alena, ia melihat Sandra sedang duduk di salah satu sudut ruangan. Ia terlihat lelah. Firly dan Clara pun menghampiri Sandra. Mereka langsung berbincang banyak hal. Sandra mendapatkan telepon. Tapi kemudian ia serahkan pada Clara.
"Alena." ucap Sandra.
Clara mengangkat telepon itu. "Halo." jawabnya pelan.
"Sayang, kamu baik-baik aja kan?"tanya Alena cemas.
"Aku baik-baik aja kak."jawab Clara.
"Kakak mungkin pulang lusa. Kamu tunggu kakak pulang. Kakak cemas sama kamu, Clara."ucap Alena.
"Kakak gak usah cemas. Aku baik-baik aja selama ada Kak Firly sama aku." jawab Clara.
Terdengar oleh Clara, Alena tertawa mendengar nama Firly. "Firly memang bisa diandalkan, Clara."
Clara menyadari satu hal dari kakaknya. Kakaknya mempunyai beberapa sahabat yang dapat diandalkan. Ia tidak akan pernah kesepian seperti dirinya. Jika diingat, ia sendiri tidak memiliki sahabat dekat. Clara kesepian selama ini. Banyak yang mendekatinya hanya karena uang. Mereka berteman dengannya hanya karena uang ayahnya sangat banyak.