
Edward menunggu Calvin untuk menemuinya di bar tempat mereka biasa bertemu. Mereka berdua kehilangan Dave. Tidak ada kabar dari sahabatnya itu selama beberapa hari. Rumah nenek Siska setiap ia datangi untuk melihat Clara terlihat kosong. Hanya pria berpakaian hitam-hitam yang terlihat disana. Ia merasa frustasi karena tidak bisa melihat Clara. Ia meneguk minumannya perlahan. Pintu diketuk pelan. Ia melihat seorang wanita masuk.
"Hai, Ed. Udah lama kamu gak kesini. Aku kangen." ucap wanita itu.
Edward tersenyum. Ia pikir lumayan untuk menemaninya minum. Tidak ada maksud lain. Ia mengisi gelas kosong. "Minum." ucapnya sambil memberikan gelas itu.
Wanita itu tanpa malu langsung duduk disampingnya. Ia menerima gelas itu dan meminumnya. Selama Calvin belum datang, ia banyak mengobrol.
Calvin tiba-tiba muncul dibalik pintu. "Clara bakal nangis liat kamu kayak gini." ucapnya serius.
Edward langsung menarik lengan wanita itu untuk berdiri. "Pergi.. pergi.. aku udah gak perlu kamu lagi." ucapnya cepat.
Calvin menghampiri sahabatnya. "Kalian udah ngapain?"
"Gak ngapa-ngapain. Kita lagi minum. Dia nemenin aku."
Calvin berdecak. "Emang jiwa playboy kamu susah ilang Ed. Katanya mau ngejar Clara. Tapi aku nemuin kamu sama perempuan lain."
"Gak percaya kita cuma ngobrol?" seru Edward.
Calvin menggeleng. Ia mengambil gelas Edward dan meminumnya.
"Dave gak bisa dihubungi. Apa kita datengin rumah nenek Siska?" tanya Calvin tiba-tiba.
"Aku udah ke rumahnya berkali-kali tapi rumahnya kosong. Mungkin mereka lagi berlibur." jawab Edward.
Calvin tertawa. "Berkali-kali?"
Edward mengangguk. "Alena belum ijinin aku ketemu Ara."
Tiba-tiba handphone Calvin bergetar. Ia melihat Sandra menghubunginya. Edward hanya tersenyum. "Udah jadi suami beneran nih? Liat telepon aja langsung kaget gitu."
"Satpam dirumah galak Ed. Aku pulang dulu." ucap Calvin cepat.
Ketika Calvin keluar, Edward mendapatkan telepon dari Dave.
"Akhirnya orang yang ditungguin nelpon." jawab Edward.
"Gak usah banyak ngomong. Cepet kesini, rumah sakit tempat Alena kerja. Tadi siang Clara dibius orang gak dikenal."
Edward langsung berdiri. "What?"
Tanpa menunggu lama, ia langsung berlari ke mobilnya. Dibius? Siapa yang ngebius Clara? Adriana? Desy?
Ia langsung menghubungi Adriana.
"Halo Ed." jawab Adriana senang.
"Jangan macem-macem sama Clara, Adri. Aku gak akan biarin kamu lepas gitu aja kalo sampe ada sesuatu sama Clara. Itu ancaman aku." ucap Edward marah.
"Aku gak ngerti." jawab Adriana bingung.
"Jangan bilang gak ngerti! Aku tau ini kelakuan kalian berdua!" teriak Edward marah. Ia langsung menutup teleponnya dengan cepat dan membantingnya ke kursi di sampingnya.
Ketika sampai dirumah sakit, ia langsung berlari menuju kamar yang sudah Dave katakan. Ia melihat Dave berada diluar kamar.
"Gimana?" tanya Edward sambil memegang lengan Dave. Ia panik.
"Tenang." jawab Dave.
"Aku gak bisa tenang kalo nyangkut Ara. Gimana?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Belum sadar. Obat biusnya kuat. Tapi dia sekarang normal. Cuma nunggu sadar." jawab Dave. "Aku bawa dulu Alena keluar. Dia baru sembuh. Kamu bisa jaga Clara sebentar."
Dave pun masuk kedalam. Sedangkan Edward menunggu diluar. Hanya berselang sepuluh menit Dave dan Alena keluar. Ia melihat Alena masih pucat.
"Kamu sakit apa Al?" tanya Edward.
"Nanti aku cerita." jawab Dave. Alena tidak menjawab pertanyaan Edward. Ia hanya menatap Edward dengan malas. Ia mengatakan sesuatu dengan pelan. "Titip Clara."
"With pleasure." jawab Edward.
Ketika mereka sudah pergi, ia langsung masuk kedalam.
Edward melihat Clara seperti sedang tertidur. Ia duduk dikursi yang berada di samping ranjang. Perlahan ia membelai rambut wanita didepannya. Ia benar-benar menyayangi wanita itu.
"Aku janji bakal bales semua yang udah sakitin kamu. Bangun Ara sayang." ucapnya pelan.
Tidak ada tanda-tanda Clara akan bangun.
"Kamu kalo tidur gini nambah cantik. Kamu maish mau denger aku ngomong gini kan? Makanya bangun." godanya.
Karena tidak ada reaksi apapun, ia bangun dari duduknya dan berjalan ke luar. Ia menghampiri perawat yang sedang berjaga disana.
"Suster, kapan pacar saya sadar?" tanyanya.
Suster didepannya bingung. Ia kedatangan pria yang tiba-tiba berdiri didepannya untuk menanyakan keadaan pacarnya.
"Pacarnya siapa pa? Kamar apa?" tanya suster itu bingung.
"Clara. Ini yang kamarnya ada disebrang kalian." jawab Edward.
"Ditunggu saja pa, mungkin gak lama lagi sadar." ucap suster itu sambil tersenyum.
"Tapi dia harus dirawat berapa lama?"
"Kalau sudah sadar, bisa langsung pulang. Menurut dokter yang memeriksa tadi siang, keadaan ibu Clara normal. Hanya saja obat bius yang tercium ibu Clara begitu keras. Tapi ibu Clara bisa dipastikan baik-baik saja."
"Oke, saya tunggu sampai sadar. Kalo dia gak sadar-sadar, saya tuntut kalian." ucap Edward sambil berjalan kembali ke kamar Clara.
Suster itu berbisik pada sesama suster lainnya. "Beruntung banget punya pacar kayak orang itu. Padahal mereka pacaran, gimana kalo nikah.."
"Iya. Jadi dia itu adik ipar Dokter Alena?"
"Bisa jadi."
"Suami dokter Alena ganteng, adik iparnya juga sama. Beruntungnya mereka.."
"Huss.. kalo ketauan kepala suster kita dimarahin."
Mereka mengangguk serentak. "Kita hanya bisa memandang."
"husss.. Jangan berisik lagi."
Edward masih melihat Clara. Ia sesekali duduk di sofa kemudian duduk di kursi samping ranjang. Ia tidak tenang.
"Clara, aku bosen. Bangun dong." seru Edward.
"Aku gak minta kamu jagain aku." ucap Clara pelan.
Edward berbalik dan melihat Clara sudah membuka matanya. Ia sudah sadar. Perasaan bahagia tidak bisa ia sembunyikan. Ia langsung menghampiri Clara yang masih berbaring. Ia langsung memegang tangannya dengan erat. "Akhirnya kamu sadar, sayangku." ucapnya bahagia.
Clara mengerutkan kening. "Sayangku?"tanya Clara pelan.
Ia mencoba bangun dari tidurnya dan duduk menyandar. Ketika ia sadar tadi, ia melihat seorang pria sedang berjalan mondar mandir tidak sabar. Ia pikir Dave yang menunggunya, tapi itu tidak mungkin. Pria itu jauh lebih tinggi dari kakak iparnya. Ketika ia bergumam, Clara tidak bisa mendengar. Tapi ia bisa mengetahui dengan jelas saat pria itu memintanya bangun.