
"Gimana Clara?"tanya Dega ketika ia masuk ke kamar Clara. Clara terlihat belum ada tanda-tanda sadar dari pingsannya.
Alena menoleh ke belakang. Ia melihat Dega datang sendirian.
"Adik kamu gila, Kak. Tega banget dia teriak-teriak didepan karyawannya kayak gitu. Aku gak terima." ucap Alena dengan nada kesal.
Dega duduk disamping Alena. "Maafin Edward. Dia gak sadar atas apa yang dia ucapkan hari ini. Kamu boleh gak percaya, tapi dia tadi bener-bener kalut waktu tau adik kamu pingsan."
"Aku gak akan maafin dia hari ini. Aku kesel banget. Aku gak pernah marah, tapi liat perlakuan dia, aku marah."
"Oke, itu terserah kamu Al. Aku minta kamu mulai hari ini tingkatkan kewaspadaan kamu. Kita gak pernah tau ternyata musuh kita sangat dekat." ucap Dega sambil berdiri.
Alena hanya mengangguk mengerti.
Dega turun ke bawah untuk menemui Dave. Ia harus berbicara banyak hari ini. Ia melihat Edward yang sedang menunduk.
"Alena marah sama kamu, Ed. Kamu keterlaluan."ucap Dega.
Edward mengangkat wajahnya. Ia mengabaikan ucapan kakaknya. Ia langsung berjalan menaiki tangga untuk melihat Clara. Ia tidak peduli bagaimana ia akan mendapatkan perlakuan dari Alena. Ia hanya ingin melihat Clara saat ini.
Alena mendengar langkah kaki dibelakangnya. Ia menoleh dan langsung marah ketika melihat siapa yang ada dibelakangnya. Tatapan Edward hanya tertuju pada Clara. Ia melangkah menghampirinya. Alena dengan cepat menarik lengan Edward.
"Mau apa kamu kesini? Kamu udah nyakitin Clara!" seru Alena marah.
Tanpa mengatakan apa-apa, Edward melepaskan tangan Alena dengan mudahnya. Ia terus melangkah mendekati Clara.
"Ed, aku gak akan biarin kamu dekatin Clara!" seru Alena marah.
Hal yang lebih menakutkan hanya ada hari ini. Edward menatapnya tajam. Alena tidak pernah melihat Edward seperti itu sebelumnya. Edward menarik lengannya keluar kamar dan menutup pintu dengan cepat. Ia langsung menguncinya dan membiarkan Alena berada diluar. Alena tidak bisa tinggal diam. Ia berlari kebawah untuk meminta bantuan.
"Ara, aku gak peduli siapa nama kamu. Aku cuma tau nama kamu Ara." bisik Edward yang berada disampingnya. Ia memegang tangan Clara tanpa berniat melepaskannya. "Maafin aku, Ara. Aku keterlaluan. Aku jahat sama kamu. Sumpah, itu diluar kehendak aku. Aku tetep cinta sama kamu." bisik Edward sambil menunduk. Ia terus menggenggam tangan Clara. Ia cemas melihat kondisi Clara saat ini. Dan semua adalah kesalahannya.
Ketika pintu bisa dibuka, ia merasakan pakaiannya ditarik oleh seseorang. Dave menariknya dengan keras dan membawanya keluar. Ia meronta meminta dilepaskan.
"Dave, jangan pisahin aku." teriak Edward kencang.
"Keluar kamu, Ed. Kamu memang sahabat aku, tapi orang yang sakit itu adalah adik aku. Dia udah cukup lama tersiksa. Jangan buat dia tersiksa lagi. Pergi dari sini." ucap Dave tegas.
"Aku gak akan sakitin dia lagi. Aku janji. Aku udah tau semuanya. Aku..." ucap Edward tertahan.
"Nanti kalo Clara siuman, aku kasih kabar. Sekarang kamu pergi sebelum nenek aku kesini. Bisa berantakan nanti.." bisik Dave.
Edward berjalan lemas keluar dari rumah Dave. Ia melangkah menuju mobilnya dan mulai membawanya pergi untuk mengelilingi kota. Ia tidak tahu harus kemana.
Desy menggigit kuku jarinya karena cemas. Dihadapannya pria-pria berpakaian hitam-hitam sudah disiapkan untuk mencelakai kedua bersaudara itu. Hanya mereka yang dapat mennganggu semua obsesinya. Semua kabar mengenai Clara dapat dengan mudah ia dapatkan. Dimana ia tinggal dan siapa yang ada dibalik semua ini. Ia tidak akan tinggal diam.
Ia mulai mengeluarkan beberapa pack uang keatas meja.
"Habisi seperti layaknya kecelakaan. Dimulai dari dokter itu." ucap Desy tajam.
"Siap bu, kami lakukan secepatnya." ucap mereka.
Ketika beberapa orang itu keluar, Adriana keluar dari kamarnya. Ia menghampiri ibunya yang sedang duduk di ruang tamu.
"Ma, aku takut." bisik Adriana.
"Kamu tenang aja sayang, semuanya akan berjalan seperti semula." jawab Desy tajam.
Adriana hanya diam dan berbalik ke kamarnya. Seandainya beberapa tahun yang lalu ia tidak mengikuti perkataan ibunya, ia tidak akan dibayangi ketakutan hingga saat ini. Yang paling ia takutkan adalah penjara. Apa yang harus ia lakukan? Lalu bagaimana dengan Edward? Apakah Edward ada hubungannya dengan Clara? Iapun mulai menghubungi Edward. Namun setelah nada kelima, pria itu tidak mengangkatnya. Iapun terdiam tapi ia tidak akan menyerah. Ia akan melakukan apapun demi mendapatkan Edward.