Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Titipan Dega



Edward bangun ketika ada serangan padanya. Suara wanita kencang yang sangat memekakkan telinga membuatnya melemparkan selimutnya. Edward kesal karena kakaknya telah membangunkan tidurnya. Padahal ia sedang bermimpi


"Aduh,, aduh,, kenapa gak pake baju? Gak masuk angin nanti" tanya Dega sambil mengambil selimut untuk menutupi tubuh Edward. Ia tidak memakai kaos yang menutupi dadanya.


Edward menatap Dega sambil menyipitkan matanya. "Apa sih, ga? Gak tau aku lagi tidur enak." ucap Edward kesal.


Dega duduk disampingnya. "Titip anakku. Aku mau keluar kota dulu satu hari. Baru besok balik."


"Hah? Anak kamu yang nakal itu?" tanya Edward terkejut.


Dega mencubit pipi Edward. "Sama aja kelakuannya sama kamu."


"Bapaknya kemana? Kenapa gak sama suami kamu aja." protes Edward sambil melepaskan tangan Dega.


"Bapaknya ada keperluan penting. Dia baru pulang nanti malem. Makanya aku titip kamu." jelas Dega.


Edward menatap malas. "Aku juga banyak kerjaan. Aku harus kerumah seseorang." ucapnya.


"Clara?" tanya Dega tajam.


Edward merasa kakaknya terlalu pintar. Ia bisa membaca pikirannya. "Aku yakin gak akan diijinin sama nenek Siska. Kamu sabar aja kalo mau ketemu Clara." ucap Dega bijak.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lebar. Seorang anak kecil berusia 5 tahun masuk kedalam kamarnya dengan wambut acak-acakan. Ia menatap Edward sambil tersenyum. "Om.." panggil pria kecil itu. Ia terlihat sangat menggemaskan dengan hanya memakai celana pendek dan tanpa memakai keatasan. Mirip sekali dengannya.


Sulit untuk menolak permintaan Dega jika yang ia titip adalah mini version dirinya. Ia sangat ingat ketika Dega hamil, Mereka berdua sempat bertengkar hebat. Dega sangat membencinya saat itu. Tidak disangka anaknya sangat mirip dengannya. Keturunan orangtuanya sangat kuat. Dibuktikan dengan kehadiran anak itu.


Clara terbangun ketika ia mendengar suara Siska diluar. Ia menghampiri pintu dan membukanya perlahan.


"Iya nek."


"Beres sarapan, kita langsung ke rumah sakit ngeliat Alena." ucap wanita tua itu.


"Iya nek. Sebentar aku siap-siap dulu." ucap Clara cepat. Ia langsung berlari ke kamar mandi untuk bersiap-siap.


Ketika mereka sudah dijalan, Clara mulai berbicara. "Nek."


"Kenapa?" tanya Siska sambil melihat handphonenya.


"Clara mau pulang. Secepatnya Clara mau ketemu Om Sakti." ucap Clara sambil menunduk.


Siska menyimpan handphonenya. Ia menatap Clara serius.


"Untuk apa? Biarkan mereka yang bekerja."


Clara menggelengkan kepalanya. "Clara gak bisa diem aja liat orang yang Clara sayangi celaka. Clara gak mau itu terjadi lagi. Clara udah kuat. Clara siap dengan segala resikonya. Demi papa sama mama dan demi Kak Alena, Clara siap berjuang mengambil lagi harta papa yang wanita itu ambil." ucapnya penuh emosi.


Siska menutup matanya. "Nanti kita bicarakan sama kakak kamu di rumah sakit."


Ketika mereka sampai, ruangan Alena telah dipindahkan. Mereka berdua harus mencari di beberapa tempat. Siska tidak mau mengganggu Dave yang saat itu sedang bersama Alena. Ketika mereka menemukan ruangan Alena, Clara langsung berlari dan ia menemukan Alena sedang berbaring dengan Dave disampingnya. Clara menangis melihat Alena pucat seperti itu. Dan bayinya sudah tidak ada. Ia langsung memeluk Alena.


"Maafin aku, Kak. Maafin aku." isak Clara.


Alena mengelus rambut Clara. "Jangan minta maaf, Clara. Kakak yang gak hati-hati." bisiknya.


Clara menatap Alena. "Gak, aku tau kalo kecelakaan kakak ada yang ngatur. Aku yakin itu ulah Desy."


"Kak, tolong ijinin aku buat pulang." ucap Clara serius.


"Pulang kemana?" tanya Dave.


"Yang pasti bukan ke rumah. Clara mau ke kantor Om Sakti."


"Bahaya, Clara. Kakak takut kamu kenapa-kenapa."


"Kakak percaya sama aku. Aku udah gak takut lagi kak. Aku mau habisi Desy sampai mereka masuk penjara." seru Clara bersemangat.


Alena menatap Siska. "Gimana nek?"


"Kalo kamu ngijinin, nenek tinggal sewa orang buat jaga Clara." jawab Siska tenang. "Memang baru nenek sadari, Clara harus bisa menyelesaikannya dengan dukungan kita." jelas Siska.


Tiba-tiba pintu didobrak kencang. Firly datang sambil menangis. Ia melewati Dave dan Siska hanya untuk memeluk Alena. Ia menangis.


"Aku gak apa-apa, Firly." bisik Alena sambil tersenyum.


"Kamu kehilangan bayi kamu." Isak Firly.


"Aku ikhlas. Mungkin Tuhan memiliki rencana lain, Firly. Kamu dateng sendiri?" tanya Alena.


Firly mengangguk.


Siska menatap Dave. "Dimana sahabat-sahabat kamu?"


"Dave gak cerita sama mereka. Nanti aja. Yang penting Alena selamat dulu." ucap Dave. Ketika itu, ia mendapatkan telepon dari suruhannya. Ia yakin ada kabar baik. Iapun keluar untuk menerima telepon.


"Halo."


"Dave, kita udah dapet pelakunya. Kamu datang langsung ke kantor."


"Oke, thanks bro." Ucap Dave sambil pergi meninggalkan Alena.


Sebuah mobil berhenti didepan rumah Siska. Edward sudah berada didepan rumah Siska untuk menunggu Clara keluar seperti kemarin malam. Ia melihat penjagaannya semakin ketat.


"Om, kita dimana?" tanya pria kecil itu.


"Boy, kamu tau kita ada dimana? Kita ada di rumah wanita yang paling Om suka." jawab Edward senang.


Pria kecil itu melihat rumah didepannya sambil mengerutkan keningnya. Tidak ada yang menarik.


"Kita pulang aja, Om. Aku mau pulang."rengeknya,.


"Nanti dulu, Om belum ngeliat tante kamu." ucapnya sambil serius melihat rumah Siska.


"Aku mau pulang." tangis anak itu.


Edward menatap pria kecil itu dengan gemas. Pria ini yang akan merusak misinya untuk melihat Clara. Ia kesal karena tangisan anak itu bertambah besar.


"Iya, iya kita pulang. Jangan nangis lagi. Nanti orang pikir Om pukulin kamu."seru Edward.


Merekapun mulai memutarkan mobil dan membawa mobilnya pulang. Usahanya kali ini telah gagal. Ia akan melakukannya lagi besok tanpa gangguan dari anak kecil disebelahnya.