
Clara bangun ketika merasakan nafas berat seseorang di rambutnya. Ia membuka matanya perlahan dan membutuhkan waktu untuk menyadari apa yang terjadi padanya. Ia melihat didepannya Edward sedang memeluknya dalam tidur.
Edward? pekiknya. Jam berapa ini?
Ia langsung melepaskan diri dari Edward dan berlari menuju jendela. Ia membuka gordennya dan ia tahu jika ia bangun kesiangan pagi ini. Ia masih berada di rumah nenek Siska. Ia melihat jam dinding menunjukkan pukul 11 siang. Tadi malam ia hanya diberikan satu gelas alkohol oleh Edward dan ia langsung tidak sadarkan diri. Clara geram tdak tertahankan. Ia melihat Edward yang masih tertidur. Ia berlari dengan cepat dan memukul wajah Edward dengan bantalnya.
"Kamu jahat Ed! Aku mau meeting siang ini. Kenapa aku malah tidur sama kamu?" teriak Clara marah. Meeting siang ini penting karena bersama beberapa pemegang saham. Clara ambruk di lantai dan menangis. "Kamu jahat!"
Edward membuka matanya perlahan. Ia menyipitkan matanya dan tersenyum. Ia bangun dan menghampiri Clara. "Aku gak ngapa-ngapain kamu kok. Semalem kamu gak sadar karena mabuk. Masa minum satu gelas aja langsung mabuk. Waktu di Phuket kamu minum lebih dari dua pitcher padahal." godanya. Ia langsung membetulkan rambut Clara yang acak-acakan.
"Itu beda Ed! Siang ini aku ada meeting. Meeting ini penting." jawab Clara kesal.
Edward bangun dari duduknya dan menarik lengan Clara sehingga membuatnya terduduk disampingnya. Ia memeluk Clara erat. "Aku juga mabuk. Semalem Dave yang bawa kita kesini. Kamu pulang sore aja. Meeting nanti kamu bisa pake video call."
Clara melepaskan pelukannya. "Kamu pasti udah rencanain semuanya. Aku gak bisa kamu bohongin." ucapnya geram.
Tiba-tiba pintu diketuk. Clara langsung melepaskan diri. Ia duduk menjauh dari Edward. Pintu pun terbuka. Alena masuk sambil membawa air hangat. "Aku tadi denger dari luar. Kalian berdua sama-sama mabuk waktu kesini. Dasar, kalian berdua ini nakal. Alkohol itu gak baik buat kesehatan. Clara, kalo kamu nanti menikah jangan pernah sekalipun minum alkohol lagi. Dan kamu Ed, jangan bawa Clara ke bar lagi. Cukup tadi malam terakhir." protes Alena.
"Aku gak sengaja, Al." ucap Edward berbohong. Tapi ia senang karena ia mendapatkan pukulan bantal dari Clara pagi ini.
Alena menatap Clara. Ia merapikan rambutnya "Kamu berantakan banget. Cepet mandi sana! Kakak udah siapin video call buat kamu meeting sejam lagi di kantor nya Dave. Laptopnya udah terhubung. Untung Om Sakti tadi telepon kalo meeting nya bisa lewat video call. Kakak tunggu di sana." ucap Alena sambil berjalan kembali ke luar.
Clara terdiam. Begitu pula dengan Edward. Alena baik sekali, ia bahkan tidak marah padanya. Ia mengingat semalam. Calvin menyuruhnya untuk terus minum. Ia melihat Clara.
"Sayang" panggil Edward.
"Apa?" tanya Clara sambil melamun.
"Cepet mandi. Kakak kamu udah nungguin kamu." jawab Edward.
"Oh" pekik Clara sambil berlari ke kamar mandi. Edward hanya tertawa melihat tingkah konyol kekasihnya. Kejadian seperti ini pernah beberapa kali ia rasakan.
Siska melihat ipadnya untuk mengawasi penjualan kamar hotel miliknya. Ia menatapnya dengan serius dan tidak menyadari Edward ada disampingnya.
"Edward? gimana keadaan kamu?" tanya Siska cemas.
"Ya, meeting itu penting karena rencana penggabungan nama dua hotel. Clara pasti tegang. Tapi nenek minta Alena untuk mendampingi." jawab Siska.
"Penggabungan nama?" tanya Edward bingung.
"Kamu belum dikasih tau Clara?" tanya Siska. Edward menggelengkan kepalanya.
"Jadi gini. Alena sempat berunding dengan Clara masalah penggabungan hotel milik nenek dengan hotel milik mereka. Sebenarnya hotel ini sudah nenek serahkan pada Dave. Tapi Dave terlalu sibuk dengan perusahaannya. Jadi, nenek setuju saja. lagipula kalian berencana untuk menikah kan? Kalau kantor Clara ada disini, ini akan menjadi mudah. Tapi asal kamu tau, proses ini membutuhkan waktu." jelas Siska.
Edward tersenyum bahagia. "Aku seneng nek. Cita-cita aku buat menikahi Clara menjadi kenyataan."
Siska tersenyum. "Nenek senang karena kamu yang ada disamping Clara. Jangan sakiti anak itu. Ia sudah banyak terluka."
***********************************************
Edward mengendarai mobil Clara hingga ke kantornya. Waktu terlalu cepat berlalu. Ia hanya fokus ke depan. Sedangkan Clara sibuk dengan handphonenya. Ia terdengar beberapa kali mendapatkan telepon dari kantornya. Tapi mendengarkan penjelasan nenek Siska tadi, ia senang. Clara belum mengatakan hal itu padanya. Mungkin ia akan memberikan surprise padanya.
Mobil sampai didepan kantor Edward. Ia turun dari mobil dan berjalan menuju pintu sampingnya. Clara turun dari mobil. Ia berjalan ke pintu sampingnya untuk mengendarainya. Edward memegang tangannya erat.
"Sayang.." panggilnya.
Clara berbalik. "Kenapa?"
Edward memainkan tangan Clara. "Aku tunggu kamu buat pindah disini." ucapnya.
Clara tersenyum. "Gak akan lama lagi." ucapnya. Iapun masuk kedalam mobil.
Edward menunduk dan mengecup Clara. "Hati-hati dijalan. Sering-sering telepon aku. Kalo capek, istirahat dulu. Aku gak mau kamu sakit." bisiknya.
Clara tersenyum. "Kamu juga hati-hati. Jangan sampai masuk perangkap Sasha." bisik Clara.
"Gak akan." jawab Edward sambil mencubit pipi Clara. Iapun menutup pintu dan melambaikan tangannya ketika mobil itu mulai jalan dan meninggalkannya. Ia penasaran. Bagaimana reaksinya saat minggu depan ia akan diculik olehnya?