Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Penculikan dimulai



Clara baru saja mendapatkan telepon dari Edward saat ia sedang menandatangani kontrak dengan salah satu manajemen keuangan yang mengerjakan laporan keuangan milik perusahaannya. Sejak dipimpin oleh Desy selama enam bulan, laporan keuangan perusahaan berantakan. Setiap usaha dilaporkan mengalami kerugian. Mendengar itu saja membuatnya pusing. Bulan depan pun ia mulai sibuk karena penggabungan dua hotel. Dan itu akan mengeluarkan tenaga ekstra untuknya.


Clara melihat jam tangannya. Ia langsung pulang ke villa karena Edward sudah menunggunya. Ia sempat bingung ketika Edward mengatakan untuk membawanya pergi malam ini. Dan ini masih hari kamis. Esok pun ia masih harus bertemu dengan tim pengacara Dega untuk memberikan bukti-bukti terkait Desy. Rasanya Edward terlalu cepat datang hari ini.


Kemarin sore Om Sakti menghubunginya soal liburan yang iapun tidak mengerti. Iapun menjelaskan jika bulan-bulan berikutnya akan menjadi bulan yang melelahkan baginya. Om Sakti sendiri masih menjadi pembimbing Clara dalam setiap pengambilan keputusan. Ia masih setia memberikan perhatiannya padanya dan kakaknya. Lalu mengenai liburan itu, apakah ada hubungannya dengan kedatangan Edward hari ini? Edward bahkan tidak mengatakan sebelumnya mengenai liburan ini.


"Belum diberesin?" tanya Edward terkejut ketika bertanya pada Bi Rumi. Ketika tiba tadi, suasana villa nampak biasa saja. Tapi ia terkejut saat Bi Rumi mengatakan Clara belum menyiapkan pakaiannya.


"Belum. Tiap hari Non Clara pulang tengah malem. Mungkin gak ada waktu buat beres-beres." jawab wanita tua itu.


"Ya udah bi, beresin beberapa pakaian Clara. Intinya kita mau berlibur ke pantai. Bibi bawain secukupnya aja. Kita udah gak punya waktu lagi." ucap Edward sambil melihat jam tangannya.


Bi Rumi langsung berlari ke kamar Clara dan mengeluarkan satu buah koper kecil lemari pakaiannya. Edward mengawasi wanita itu. Ia mulai memilih beberapa pakaian Clara. Tidak ada pegawai seperti wanita tua itu. Ia setia melayani Clara dibandingkan keluarganya sendiri. Ia pantas mendapatkan lebih dari Clara, pikirnya.


Terdengar suara mobil masuk. Edward langsung berjalan keluar untuk melihat apakah Clara yang datang. Mobil berwarna merah metalik itu sudah terparkir di garasi. Clara turun dari mobil dengan wajah kebingungan. Edward tersenyum. Iapun menghampiri Clara dan memeluknya. Ia membawanya masuk kedalam.


"Kamu istirahat dulu bentar, baru kita pergi." ucap Edward.


"Kemarin om sakti bilang soal liburan. Emang liburan apa? Kita mau pergi kemana?" tanya Clara bingung.


Edward membawa Clara duduk di sofa. Ia berdiri untuk mengambil air minum dan memberikannya pada Clara. "Kamu capek kan? minum dulu." ucapnya.


Clara meminum air putih itu sambil melihat gelasnya. "Kamu gak ngasih obat tidur kan?" lirik Clara.


Edward tertawa. "Kamu udah gak usah dikasih obat tidur, sayang." goda Edward.


Clara menghela nafas. Ia tidak tahu apa rencana pria didepannya. Ia selalu memberinya surprise. Suara langkah cepat seseorang membuatnya memalingkan wajah. Ia melihat Bi Rumi keluar dari kamarnya sambil membawa salah satu kopernya. Ia berdiri dan semakin bingung.


Edward tidak menghiraukannya. Ia menghampiri Bi Rumi dan berbisik. "Paspor udah ada?"


Bi Rumi hanya mengangguk sambil melirik Clara.


Edward membawa koper Clara ke mobilnya. Ia memasukkannya dengan cepat dan kembali menghampiri Clara. Ia duduk disampingnya. "Kita pergi sekarang." ucapnya sambil tersenyum.


"Kita mau kemana Ed?" tanya Clara.


"Nanti juga kamu tau, sayang. Kita pergi sekarang." jawabnya.


"Malem-malem gini kita mau kemana? Besok aku ada janji sama orang Ed. Aku gak bisa pergi hari ini." elak Clara.


"Dilarang menolak." ucap Edward sambil memegang tangannya dengan kuat.


Clara bisa melepaskan diri dan kembali duduk di sofa. "Aku gak mau pergi kalo kamu gak bilang kemana." ucapnya kesal.


Tanpa basa basi, Edward langsung mengangkat tubuh Clara dan membawanya ke mobil. "Jangan menolak, please. Ini hadiah dari aku. Karena aku yakin kamu gak akan pernah lupain hari ini." ucapnya sambil tersenyum.


Clara mengernyitkan dahinya. "Dasar kepedean." ucapnya dengan nada malas.


Mobil pun mulai dijalankan. Mereka langsung menuju bandara yang bahkan harus ditempuh lebih lama dibanding ke rumah Alena. Tapi Edward tidak peduli. Masih ada waktu 8 jam hingga check in bandara. Ia melirik Clara yang sedang cemberut. Ia tidak bisa menahan jari-jarinya untuk mencubit pipi Clara. "Jangan marah. Kita mau bersenang-senang. Kamu tidur aja dulu. Tujuan kita masih lama." ucapnya.


Clara bangun dan memutar lagu-lagu yang tidak akan membuat Edward mengantuk selama ia tidur nanti. Seminggu ini ia kurang tidur. Iapun mulai memejamkan matanya. Hanya menunggu 5 menit saja ia sudah tertidur. Edward terus bersiul mengikuti irama lagu yang diputar. Walaupun malam ia tidak merasa mengantuk. Semua orang excited untuk liburan kali ini kecuali Clara. Hanya ia yang tidak tahu kemana ia akan pergi dan ia juga tidak tahu jika keempat orang itu juga pergi dengannya. Drama penculikan Clara malam ini berhasil. Jika ia tidak memaksanya tadi, ia tidak akan bisa dibawa malam ini.