Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Ancaman Ami



Edward membawa mobilnya kencang untuk sampai ke rumahnya. Ia merasa bersalah ketika berpisah dengan Clara di bandara. Clara memutuskan langsung pulang ke rumahnya menggunakan kereta api.


Mobil direm dengan cepat hingga terdengar suara berdecit kencang. Ia membanting pintu mobilnya dan masuk kedalam rumah. Ia melihat ibunya baru turun dari atas.


“Ma, kenapa mama memutuskan kayak gitu?” tanya Edward kesal.


“Kamu berani sama mama? Gara-gara wanita nakal itu kan?” tanya Ami marah.


“Wanita nakal siapa ma? Clara gak nakal.” protes Edward.


“Tonton berita hari ini!” Ucap Ami sambil memberikan handphonenya pada Edward. “Mama masih terima penyesalan kamu. Mama maafkan kamu kalo kamu menikahi Sasha segera.” ucapnya sambil berjalan meninggalkan edward.


Edward membuka video itu. Ia melihat seorang wanita tanpa pakaian melekat di tubuhnya. Wanita itu hanya memakai bikini dan ia gunakan untuk menggoda pria didepannya. Disekelilingnya hanya ada laki-laki. Dan sepertinya sedang diadakan bachelor party. Ia mengenal wanita itu. Tapi sepertinya itu dilakukan sebelum mereka berkenalan. Ia mengerutkan keningnya. Siapa orang yang menyebarkan foto-foto ini?


Ia menghampiri ibunya. “Ma, aku gak peduli. Ini masa lalu Clara. Aku yakin ada yang berniat jahat sama Clara. Aku pergi dulu!” ucapnya cepat.


“Stop Ed! Kamu pergi dari sini, kamu gak akan pernah melihat mama lagi!” Ancam Ami.


Clara masih dalam perjalanan pulang. Ia masih didalam kereta. Ia kebingungan mengingat siapa yang mengambil fotonya saat itu. Ketika acara itu berlangsung, ia tidak mengenal siapapun kecuali pelayan bar. Apakah pelayan bar yang melakukannya? Tapi jika foto itu menyebar di media, ia yakin ada orang lain.


Beberapa saat kemudian handphonenya bergetar. Edward menghubunginya.


“Hey..” ucap Clara pelan.


“Are you okay?” tanya Edward hati-hati.


“Yes. Gimana mama kamu?” tanya Clara.


“Mama? Kamu peduli sama mama? Orang yang banyak nyakitin kamu?” tanya Edward serius.


“It’s Oke, Ed. Mama kamu melakukan itu dengan alasan. Aku peduli sama mama kamu. Tolong jangan kecewakan mama kamu.” ucap Clara.


“Aku udah liat videonya. Waktu di Phuket, Om Sakti ngabarin berita itu kan?” ucap Edward. Ia merasa gugup ketika mengatakannya.


Clara tersenyum. “Long time ago, Ed. Sebelum aku kenal sama kamu.” jelas Clara.


“Are you sad?”


“Enggak. Buat apa? Aku bukan artis. Aku gak peduli dengan berita itu.” jawab Clara kencang. Jantungnya berdebar dengan kencang ketika mengatakannya.


“Kayaknya perjalanan kita bakal rumit. Tapi, kamu sabar. Kita bisa melewatinya.” ucap Edward bersemangat.


Edward tertawa hambar. “Masa mama mau aku menikahi Sasha yang jelas-jelas aku gak suka.”


“Itu bagus Ed. Kalian cocok kok.” jawab Clara.


“Apa maksud kamu? Semalem aku ngelamar kamu buat jadi istri aku. Kenapa sekarang kamu malah mendukung mama?” tanya Edward marah.


“Kamu harus berbakti sama mama kamu..”


“Clara! Aku marah sama kamu!” Seru Edward sambil menutup teleponnya.


Clara tersenyum hambar. Hatinya sakit. Ia berjalan ke kamar mandi dan mulai menangis. Semuanya sia-sia. Apa yang akan diharapkan oleh orangtua Edward dari dirinya? Ia hancur. Hidupnya dari awal sudah salah. Ia tidak pantas dilahirkan karena hidupnya terus menyedihkan. Sampai kapan ia akan bertahan?


Ketika sampai di villa, ia melihat Bi Rumi menghampirinya dengan tergesa-gesa. Ia menatapnya sedih.


“Bi.. kenapa harus terjadi lagi?” isak Clara sambil ambruk dilantai. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Bi Rumi memeluk Clara dengan erat. “Sabar non. Semuanya pasti akan normal. Nama baik non Clara akan kembali lagi. Ada bibi yang selalu menjadi supporter nomor satu.” ucapnya sedih.


***************************


Sakti tiba di vila malam hari. Ia langsung berangkat ketika tahu Clara sudah pulang. Beberapa orang ia bawa ke villa untuk berjaga-jaga. Saat ini pemberitaan artis sedang sepi. Jika diperhatikan, Clara bukanlah artis. Namun namanya memang sedang melambung karena usianya yang muda telah membuatnya menjadi seorang CEO.


Ia membuka pintu kamar Clara pelan. Terlihat Clara sedang berbaring. Ia menghampirinya. “Clara.”panggil pria itu.


Clara bangun dari tidurnya dan membuka selimut dengan cepat. “Om..” ucapnya.


Walaupun tersenyum, Sakti bisa melihat kedua mata Clara bengkak. Ia seperti sudah menangis.  “Gimana kabar kamu? Kamu baik-baik aja?” tanyanya.


Clara tersenyum. “Beginilah Om. Aku terserang demam. Mungkin kecapean.”


“Barusan Alena telepon. Dia khawatir sama kamu. Katanya sejak sore handphone kamu mati.” ucap Sakti.


“Terlalu banyak telepon, Om. Aku pusing.” jawab Clara. “Kasih tau Kak Alena kalo aku baik-baik aja.”


“Om udah kasih tau.”


“Om udah tau siapa yang nyebarin foto-foto itu?” tanya Clara cemas.


“Om masih belum tau. Tapi Om sudah bekerjasama dengan polisi. Ada kemungkinan kasus ini mungkin dilakukan dengan alasan pemerasan. Beberapa hari ini, di kantor kamu udah dipasang CCTV khusus. Takutnya sewaktu-waktu ada yang datang ke kantor kamu.”