
Clara terkejut ketika melihat Edi sudah berada diluar rumahnya.
"Kemana aja kamu Ari?" tanya Edi marah. Ia terlihat lebih menyeramkan dari sebelumnya. Jika bukan karena sakitnya, ia sudah pergi meninggalkan rumah dan desa ini.
Clara berjalan menghampiri Edi. "Ternyata kalian orang jahat. Kalian berdua mau jual aku buat jadi wanita penghibur kan?" tanya Clara marah. Ia berkata dengan penuh emosional.
"Memangnya kamu bisa tinggal disini gratis?" jawab Edi marah. Ia menarik lengan Clara namun ia bisa lepas.
Clara berlari tapi langkahnya bisa ditahan oleh Edi. Pria itu tinggi, sehingga langkahnya begitu panjang. Ia menjenggut rambut panjang Clara dan menyeret tubuhnya hingga Clara berteriak kesakitan. Pria itu membawanya kedalam kamar. Tanpa hati, ia langsung menampar pipi Clara dan meninju perutnya. Clara terjatuh ke lantai dengan keras. "Jangan macam-macam sama kami. Atau kamu mati!" ucap Edi sambil menutup pintu dan menguncinya dari luar.
Clara terduduk dilantai. Ia merasakan kesakitan diperutnya. Nasibnya sangat tidak baik. Ia bisa lepas dari kandang macan tapi dengan bodohnya ia pmasuk ke lubang penuh buaya pemakan daging. Mengapa harus seperti ini? Ia menekuk lututnya. Ia pikir, Edi akan menunggunya sehat sehingga ia bisa pergi dari rumahnya. Ia menangis tanpa suara. Jika ia tidak bisa kabur, ia tidak dapat menemui kakak dan merebut perusahaan ayahnya. Ia kebingungan.
Calvin dan Dave sedang mempelajari proposal barunya ketika pintu ruangannya terbuka lebar. Edward masuk kedalam ruangan sambil menggandeng seorang wanita cantik. Dave mengerutkan keningnya.
"Kalian gak kangen sama aku?" goda Edward.
Dave dan Calvin menatap sahabatnya. Pria itu menghilang setelah pindah. Ia bahkan melepaskan semua proyek yang dilakukan oleh mereka bertiga.
"Kemana aja Ed? Aku pikir kamu udah mati.." jawab Dave sambil melihat wanita disampingnya. Itu adalah humor biasa bagi mereka.
"Kayaknya kamu lebih senang tinggal di luar negeri. Keliatan banget, pulang ke sini bawa perempuan. Kamu dari mana?" tanya Calvin. Ia sesekali menatap wanita disamping Edward. Bahkan baru bertemu pun, ia sudah merasa tidak suka.
"Aku baru pulang dari luar kota tadi siang. Gimana kabar kalian? Oh ya, kenalin tunangan aku. Adriana." ucap Edward tenang.
Dave dan Calvin saling bertatapan. "Tunangan?Kenapa kita gak dikasih tau?"seru Dave.
Adriana menatap keduanya. Ia memotong ucapan Dave. "Halo, saya Adriana. Tunangan Edward." ucap Adriana sambil tersenyum.
"Kalian tunangan gak bilang-bilang sama kita?" tanya Calvin kecewa. Edward hanya terkekeh tanpa melakukan pembelaan.
"Emang perlu ya?" tanya Adriana tiba-tiba. "Gini loh, kalian itu hanya teman. Bukan keluarga. Kalian gak perlu tau kapan kami tunangan dan kapan kami menikah.." jawab Adriana sombong.
Dave mengerutkan keningnya. "Wow, sopan sekali ya anda!" seru Dave kesal.
Calvin menahan Dave dengan tangannya. "Nona Adriana, siapapun anda, anda harus menempatkan posisi dimana anda berada. Please, sopan pada kami. Kalau anda sopan, tentu saja kita berdua bakal lebih sopan."
Adriana melepaskan tangannya di lengan Edward. "Why? Aku pemilik perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata terbesar di negeri ini." jawabnya sombong.
Dave menatap Edward yang sedang tersenyum. "Ed, please keluar dari ruangan ini sebelum aku marah sama kamu." ucap Dave.
"Please.." ucap Calvin.
"Edward berubah." ucap Calvin.
"Ya, dia bukan temen kita lagi." jawab Dave kesal.
Pintu ruangan Dave terbuka kembali. Ia pikir Edward tapi ternyata Alena yang masuk.
"Al.. kamu dateng?" tanya Calvin.
"Aku baru beres praktek. Kenapa ? Kok kayaknya tegang banget?" tanya Alena. Ia berjalan menghampiri Dave. Dave masih terdiam. Ia tahu Dave sedang kesal. Iapun memegang wajah Dave dengan kedua tangannya. "Sakit?"
Dave menggeleng.
Calvin melihat Dave sambil tersenyum. "Orang mau nikah bebas mau ngapain aja" ucapnya.
"Ada apa sih?" tanya Alena bingung.
"Barusan Edward kesini sama perempuan? Kamu liat?" tanya Calvin.
"Aku tadi liat waktu ada di lift. Aku gak liat perempuannya. Emang siapa? Pacar baru Edward?" tanya Alena.
"Bukan, tunangan.". jawab Dave.
"Tunangan? Kapan?"
Calvin dan Dave sama-sama mengangkat kedua bahunya.
"Kenapa gak bilang-bilang?"
"Justru itu kita kecewa. Udah keluar dari team, pindah ke Singapura, tunangan diem-diem, punya tunangan sombong, jujur kita kecewa. Persahabatan selama bertahun-tahun hancur gara-gara satu perempuan Bangkok." jelas Dave kesal.
"Aku pikir perempuan itu warga kita juga." ucap Calvin.
"Siapa? Kok aku gak ngerti." jawab Alena bingung.
"Edward jadi seperti ini gara-gara perempuan yang kita pun gak tau gimana bentuknya. Patah hati oke, tapi gak perlu merugikan temen-temennya." ujar Dave.
Alena hanya diam. Ia merasa ada yang aneh. Tiba-tiba ia merasakan kerinduan yang sangat dalam. Tapi siapa perempuan itu? Baru berbicara sebentar entang perempuan itu saja, ia merasa jantungnya berdebar kencang.