
"Siapa nama kamu?" tanya Clara ketika ia berada di mobil. Ia siap hari ini. Ia tidak tahu bagaimana nanti ia akan bersikap. Ia zero pengetahuan tentang perusahaan. Jika seperti ini jadinya, ia menyesal kenapa ia tidak melanjutkan sekolah menengahnya dan membantu ayahnya di perusahaan. Jika dibandingkan Adriana, ia jauh tertinggal. Adriana merupakan wanita berwawasan. Sebelum ia tinggal dengannya, Adriana sekolah hingga lulus perguruan tinggi di bidang manajemen. Ia berfikir sejenak sebelum menyalakan mobil Edward yang ia pinjam.
"Tommy." jawab pria itu gugup. Clara tidak mengenal pria itu sebelumnya. Usianya tidak tua. Ia paling berkisar di usia 30 tahunan. Ia yakin kenapa ayahnya memilih pria muda untuk ditempatkan sebagai chief accounting. Pria disampingnya jelas berwawasan.
"Tommy, jujur saya gak tau menahu tentang perusahaan. Saya blank. Saya gak ngerti kenapa mereka memutuskan untuk menjual saham mereka. Kamu bisa menjelaskan lagi?" tanya Clara bingung.
"Intinya kepercayaan. Mereka mulai kurang percaya terhadap manajemen yang dipegang oleh Ibu Desy. Terlebih dari kasus kuitansi dan faktur fiktif itu." jelas pria disampingnya.
"Berapa dana yang dikeluarkan Desy dari hasil fiktif itu?" tanya Clara.
"20 milyar."
Clara hampir saja menginjak rem mobilnya karena terkejut. "20 Milyar?"tanya Clara terkejut.
"Ibu Desy selalu bawa bodyguard ketika datang ke kantor. Kami tidak bisa menolak. Apalagi Ibu Desy adalah istri Pa Aditya."ucap Tommy.
"Bener-bener nenek lampir itu. Liatin aja." geram Clara kesal. Ia mulai melajukan mobilnya menuju tujuan pertama.
Dilain tempat.
Desy sedang berada diruang kerja suaminya yang ada dirumahnya ketika pembantu mengetuk pintu. Seorang pembantu masuk membawa amplop berwarna coklat. Ia menyerahkan amplop itu kepadanya dan berjalan keluar. Desy melihat amplop yang dengan kop surat dari kepolisian. Ia mengerutkan keningnya. Ia tidak pernah berurusan dengan kepolisian selama ini. Ia membuka perlahan dan mulai membacanya.
Ia terbelalak. Matanya mulai membesar tak percaya. Ia dipanggil oleh kepolisian sebagai tersangka pembunuhan berencana Aditya. Tangannya bergetar hebat. Ia menjatuhkan surat itu dimejanya. Tersangka? Siapa yang melaporkannya? Apakah Sakti? Atau anak itu? Ia terduduk dan mulai merasa ketakutan. Ia tidak pernah sekalipun datang ke kantor polisi. Apa yang harus ia lakukan? Tidak ada yang berada di pihaknya.
*Adriana? Ya\, Adriana ada di pihaknya. Jika ia masuk penjara\, Adriana pun akan masuk. Ia tidak akan sendirian.*Pikirnya. Iapun mulai menghubungi Adriana. Beberapa kali nada sambung tapi tidak pernah diangkat. Ia harus mencarinya. Tiba-tiba ia mendapatkan telepon dari nomor luar negeri.
"Halo.." jawab Desy dengan tangan bergetar.
"We lose, Des. Kita kalah. Uang kita hangus." ucap seseorang yang ia tahu pasti ia adalah salah satu temannya yang kini berada di macau untuk berjudi. Ia menyerahkan uang pada pria itu untuk memasukkan uangnya ke dalam mesin permainan. Nadanya terdengar frustasi. Ia rela meninggalkan semuanya untuk bertaruh di macau. Hanya desy yang tidak ikut karena ia harus mengurus semua masalah disini.
Desy tidak menjawabnya. Ia melepaskan handphonenya hingga jatuh di lantai. Ia lemas dan terduduk di kursi. Uang yang ia harapkan dapat mengubah nasibnya telah hilang. Ia menunduk dan memegang kedua tangannya yang bergetar. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Saham? Ya, saham harapan terakhir. Aku harus pergi menemui mereka untuk menjual saham itu besok pagi. Lalu, ia akan kabur ke luar negeri. Tanpa siapapun. Jika Adriana menyesal, ia akan mengajaknya.
Ia mulai bersiap-siap untuk segera pergi. "Den, keluarin mobil." teriak Desy. Ia bergegas pergi.
"Tommy, kita harus cepet ke kantor." ucap Clara. Ia seperti dikejar oleh waktu. Disaat ia sedang menuju pemegang saham pertama, ia berfikir untuk mengumpulkan semua pemegang saham di kantor ayahnya hari ini. Ia tidak peduli dengan pakaian apa yang ia pakai hari ini. Ia harus bergegas. Ia sesekali melihat pakaian yang ia pakai. Ia masih memakai dress hitamnya yang ia pakai tadi malam.
"Tommy, kamu siapin datanya. Aku pelajari dulu data yang ada." ucap Clara cepat. Ia langsung masuk ke ruangan ayahnya. Tommy mengangguk dan berlari dengan cepat ke ruangannya. Baru saja Tommy mengatakan sesuatu pada karyawan lain tentang Clara, mereka semua langsung sibuk membantu.
Clara menghubungi seseorang.
"Halo.." jawab Alena.
"Kak.." ucap Clara. Ia hampir menangis.
"Kenapa sayang? Kamu dimana? Jangan nangis. Ada apa? Cerita sama kakak." jawab Alena panik.
"Aku takut kak. Aku belum pernah ketemu sama pemegang saham perusahaan papa. Semua masalah yang dilakukan Desy harus diselesaikan hari ini. Aku gak mau usaha yang dirintis papa dari awal akan habis sama Desy. Nenek lampir itu." ucap Clara.
"Clara sayang, kakak percaya kamu bisa. Tarik nafas pelan-pelan. Jangan lupa berdoa dan yakin kalo papa ada disamping kamu. Papa bakal bantuin kamu sayang. Kamu pasti bisa." ucap Alena menyemangati Clara.
Clara menghapus airmatanya. "Makasih kak."
"Kakak tunggu berita selanjutnya ya sayang. Kamu pasti bisa." ucap Alena. Jika bukan karena ia harus bedrest total, ia pasti sudah ada disana untuk mendampingi Clara.
Setelah ditutup, pintu diketuk pelan. Tommy masuk membawa berkas-berkas yang harus ia lihat sebelum ia berikan presentasikan beberapa saat lagi. Ia masih menunggu orang-orang itu datang. Ia hanya mendengar Tommy menjelaskan sesuatu dengan cepat dan ia mulai mengerti.
Terdengar ketukan pintu dengan kencang. Ia melihat seorang wanita muda datang untuk memberitahu kedatangan orang-orang yang sedang ditunggunya.
"Ya, saya ke ruang meeting sekarang." ucap Clara cepat. Tommy keluar terlebih dahulu. Iapun mulai bersiap-siap. Ia membuka laci meja dan menemukan dasi milik ayahnya yang disimpan rapi di meja kerjanya. Clara membawa salah satunya dan mengalungkan dasi itu dilehernya. Ia buat menjadi syal. Ia menutup matanya. "Pa, papa pasti ada disini. Bantu Ara ya pah." ucapnya pelan sambil memegang dasi di lehernya. Iapun mulai berjalan ke ruang meeting dengan tegap walau hatinya terasa tegang. Ini pertama kalinya ia melakukan ini.
Ia membuka pintu ruang meeting dan menatap kelima orang yang didampingi oleh asistennya masing-masing. Mereka menatap Clara dengan tatapan bingung.
"Selamat sore. Perkenalkan, nama saya Clara. Saya adalah anak bungsu dari Aditya. Berhubung kakak saya berhalangan hadir, saya yang memanggil bapak-bapak kesini. Tujuan saya kesini adalah untuk mencoba memberikan kesempatan kepada bapak-bapak untuk berfikir kembali untuk menjual saham perusahaan ini." Ucap Clara tenang. Beberapa orang terkejut mendengar nama Clara. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat anak asli Aditya secara langsung. Beberapa mereka mulai bertanya tentang keaslian Clara. Beruntungnya Clara bisa menjelaskan dengan tenang dan dengan kehadiran Om Sakti semuanya dapat dengan mudah ia lakukan.
Sudah empat perusahaan Desy datangi tapi ia tidak dapat menemukan direktur mereka di perusahaannya masing-masing. Ia hampir kehilangan akal. Tiba-tiba ia berfikir, jangan-jangan..... Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari ke mobilnya. Bagaimana jika terjadi sesuatu di perusahaan?
CLARA!!!!! Teriaknya sambil memukul stir mobilnya.