
Clara baru saja menyelesaikan tele conference dengan beberapa klien di waktu bersamaan ketika ia mendapatkan video call dari Dega.
"Halo, kak. Ada perkembangan baru apa?"
"Clara, ibu tiri kamu udah ditangkap tadi siang. Sekarang Desy sedang dibawa ke kantor polisi tempat kita melapor." ucap Dega senang.
Clara tersenyum puas. " Finally ya kak." ucapnya.
"Kamu mau ikut aku ke kantor polisi? Kebetulan aku lagi dijalan." Ujar Dega.
Clara menggelengkan kepalanya. "Enggak kak. Udah cukup buat aku. Aku udah gak mau ketemu lagi sama dia."
"Tapi nanti kamu bisa dijadikan saksi kalau bukti-bukti kurang." ucap Dega.
"Aku serahkan semua sama kakak." jawab Clara.
Setelah semua yang sudah Desy lakukan untuknya, akhirnya ia mendapatkan balasannya. Ia melihat laptopnya. Mulai hari ini ia bisa fokus untuk bekerja. Tidak ada Desy dan anaknya. Tiba-tiba ia teringat jika Adriana tidak disebutkan oleh pengacaranya. Bagaimana dengan Adriana sekarang? Wanita itu juga sama jahatnya dengan ibunya. Hanya saja ia tidak terlalu frontal. Ia ingat bagaimana ia menarik perhatian ayahnya karena kepintarannya. Ia bahkan bisa lulus kuliah dengan predikat cumlaude. Jika dibandingkan dirinya yang hanya sekolah hingga sekolah menengah atas namun itupun tidak selesai. Ia akan bertanya pada Dega nanti ketika mereka bertemu setelah Dega pulang dari kepolisian.
Pintu ruangannya diketuk. Tommy masuk dengan beberapa dokumen di tangannya. Ia terlihat lebih segar. Bukan hanya dia. Tapi semua karyawan disini terlihat lebih santai bekerja. Mereka mengatakannya ketika berada di lift. Mereka tidak menyadari ia berada di belakangnya dan mendengarkan semua curahan hati pegawainya.
Tommy menyerahkan dokumen itu. Beberapa warna map membuatnya mengerti. Ia menyukai pekerjaan Tommy. Pria itu mempermudah pekerjaannya.
"Jadi yang mana yang harus saya pelajari?" tanya Clara.
"Map warna merah bisa dilihat penjualan kamar hotel selama satu tahun. Ada penurunan penjualan kamar yang signifikan." jawab Tommy.
Clara membuka map itu dan membacanya. "Penurunannya hampir 30%? Kenapa?" tanya Clara bingung.
"Hotel kita kurang menjual dari segi fasilitas. Beberapa tamu sudah kita tanya pendapatnya. Menurut mereka fasilitas kamar kita sudah kuno." jawab Tommy. "Saya juga sempat tanya sama manajer disana. Rata-rata tamu mengatakan hal serupa." tambahnya.
Ia ingat Edward pernah bercerita tentang proyeknya di hotel ayahnya. "Bukannya udah direnovasi?"
"Yang direnovasi itu wilayah luar kamar. Seperti lobi, restoran, kolam renang, dan bangunan luar. Kalau kamar masih tetap sama."
"Itu data tentang pengeluaran selama setahun hotel dan resort yang ada di Singapura." jawab Tommy.
"Oke, nanti saya pelajari." jawab Clara.
Seperginya Tommy, ia berfikir kembali tentang Adriana. Bagaimana Adriana kini? Apakah dia baik-baik saja? Apakah Adriana juga kabur? Iapun menghubungi kembali Dega.
"Kak, kalo Adriana gimana statusnya?" tanya Clara ketika telepon baru saja diangkat.
"Kita gak melaporkan tentang Adriana. Karena tidak ada bukti yang mengarah dia melakukan pembunuhan berencana pada papa kamu. Selama di perusahaan pun ia tidak terlibat banyak karena emm.." ucap Dega tertahan.
Clara mengerutkan keningnya. "Kenapa? Kenapa gak banyak terlibat? Bukannya dia yang minta Edward ngurus proyek hotel papa?"
"Jangan marah ya Ra." ucapnya seketika.
Clara terdiam sejenak. "Apa ada hubungannya sama Edward?" tanyanya tajam.
"Ya. Sebelum kamu hilang, dia gak ikut-ikutan mengurus perusahaan. Setelah kamu hilang pun atau pasnya setelah ia ketemu Edward. Mereka tinggal berdua di Singapura." jelas Dega.
Clara menutup matanya. Ia merasa hatinya bergejolak. Itu memang sudah terjadi beberapa bulan yang lalu, tapi rasanya ia tidak percaya Edward dengan mudahnya memperlakukan wanita dengan membuatnya tinggal dengannya disana.
Iapun berdiri setelah menutup teleponnya. Ia akan menemui Om Sakti untuk membicarakan tentang ibu tirinya. Ia tidak mau mengingat kejadian tentang Edward dan Adriana tinggal di sana bersama.
Edward menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Nanti malam ia akan menyusul Clara. Ia begitu merindukannya. Ia akan menghubunginya setelah mengecek beberapa pekerjaannya hari ini. Ia mencoba menghubunginya terlebih dahulu. Mendengar suaranya saja sudah cukup untuknya. Iapun mengambil handphonenya. Ia mencoba menghubunginya. Tidak diangkat setelah ia menghubunginya beberapa saat. Ia telepon kembali namun tetap tidak diangkat. Ia mengerutkan keningnya. Baiklah, ia akan menyusulnya nanti malam tanpa kekasihnya tahu.
Iapun kembali bekerja. Beberapa proposal dari para interior designer sudah ada didepan mejanya. Dengan pengalamannya, ia bisa mengetahui dimana letak kesalahannya. Ia membuka satu persatu dan membacanya. Terdengar pintu ruangannya diketuk. Zahna masuk dengan beberapa dokumen yang ia minta tadi pagi.
"Ini laporan keuangan yang saya ambil dari tim akunting pa.." ujar Zahna.
"Simpen disitu. Nanti malam saya mau keluar kota. Besok pagi kamu ambil dimeja saya trus kasihkan lagi ke tiap tim."
Wanita itu mengangguk dan berjalan keluar dengan cepat.