Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Planning



Desy baru saja masuk kedalam rumah setelah ia mengikuti arisan sosialita di salah satu hotel ternama. Beberapa kali ia diajak oleh teman-temannya sejak dahulu. Hanya saja, Aditya tidak pernah memberikan uang banyak untuknya. Selama ini uangnya selalu diberikan pada anak S****N itu. Tapi berhubung anak itu sudah mati dan tidak ada yang menemukan jasadnya, ia bisa menikmati kekayaan Aditya hanya dengan anaknya. Ia tidak peduli pada pengacara aditya. Selama Clara tidak dapat ditemukan, ia yang akan mengatur keuangan keluarganya. Langkahnya terhenti ketika ia melihat Adriana tersenyum seorang diri. Karena merasa aneh, iapun menghampirinya. Ia melihat Adriana sedang menatap beberapa sepatu yang ia pikir masih baru.


"Sepatunya lucu sampe senyum-senyum sendiri" ucap Desy


Adriana menoleh dan melihat ibunya. Ia tersenyum malu. "Aku baru dibeliin sepatu sama Edward." ucapnya senang.


"Ada peningkatan? Adri, mama harap kamu gak lepas dari edward itu. Selama mama belum bisa menarik harta Aditya secara perlahan, kamu harus menikah dengan satu diantara ketiga orang itu."tekan Desy.


"Aku tau ma. Aku pasti ikutin omongan mama. Aku rela meninggalkan semuanya demi mama."jawab Adriana serius.


"Trus kenapa kamu tersenyum sendiri?"


"Aku jatuh cinta sama edward, ma." jawab Adriana.


Desy langsung menyilangkan tangannya. Ia tersenyum puas.


Sandra mengetuk pintu rumah Firly dengan kencang. Ia memanggil Clara dari luar. Ia harus terlambat datang ke rumah Firly karena banyak hal mendesak yang harus ia lakukan dirumah tadi. Firly memintanya untuk menemani Clara selama ia pergi. Ketika diluar tadi, ia tidak melihat mobil Firly.


"Clara! Ini Sandra." teriak Sandra. Ia melihat rumah itu sepi seperti tanpa berpenghuni. Ia pun mengetuk kembali dengan kencang.


Tak lama pintu terbuka. Clara yang membuka pintu. Ia terlihat tidak bersemangat.


"Clara, kita pergi yuk."ajak Sandra. Ia masuk tanpa dipersilahkan. Clara mengikutinya dari belakang.


"Aku gak mau kak. Aku lebih baik dirumah." jawab Clara.


"Kamu gak boleh dirumah terus. Kita pergi jalan-jalan. Kita cari baju yang cocok buat kamu." ucap Sandra. Ia sedikit memaksa pada Clara.


"Aku pergi tapi pakai baju yang aku pilih sendiri." jawab Clara.


"Oke." ucap Sandra senang.


"Akhirnya kembali untuk waktu yang sangat lama. Ngomong-ngomong, berapa lama kamu tinggal disini?" tanya Calvin.


"Aku gak tau. Aku lagi seneng disini. Banyak pemandangan indah." jawab Edward.


"Pemandangan siapa? Jangan-jangan kamu tertarik sama teman Alena yang baru pulang dari Jepang itu. Siapa namanya? Clara?" tanya Calvin


Namanya Ara, bukan Clara. Mau aja dibohongin sama racun itu. Lagian ngapain Alena temenan sama orang yang gak jelas itu.


"Bisa jadi." jawab Edward tenang.


"Ngomongin Clara, kayaknya dia misterius. Dia lebih banyak diem. Kamu inget waktu di pesta pernikahan Alena? Dia gak pernah berbaur sama orang lain. Aku gak ngerti. Apa dia kayak gitu cuma ke laki-laki aja? Buktinya hari ini dia lagi jalan sama Sandra. Aneh kan? Atau jangan-jangan sebenernya dia itu lxxbi?"


"Kalo gitu kita bawa ke bar. Aku juga penasaran." ucap Edward bersemangat.


Calvin menatap Edward. "Apa planning kamu?"


Edward menggelengkan kepalanya. "Nothing."


Itu adalah kebohongan yang pertama tahun ini pada sahabatnya. Planning? tentu saja ia telah memiliki planning. Membuat gadis itu menyesal karena telah mengenalnya. Ia tidak perlu waktu lama untuk melancarkan aksinya. Sejak melihatnya di pernikahan Alena, rencana itu langsung tiba didalam kepalanya.


"Aku sama Sandra baru kena skandal gara-gara kamu." ucap calvin.


"Aku cuma bantuin kamu kok. Atau Sandra buat aku aja. Aku gak akan nolak."


Calvin langsung melotot. "Enak aja. Jangan samain Sandra sama perempuan-perempuan yang biasa kamu booking."


"Membela nih sekarang? Aku tau kamu masih cinta sama Sandra. Jangan ngelak lagi."Ucap Edward sambil berjalan keluar dari ruangannya. Ia membutuhkan udara bebas dan sebatang rokok.