Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Penawaran



"Mau apa kalian kesini?" Tanya Clara marah.


"Mau apa? Berita di televisi itu, sepertinya cukup untuk mengatakan maksud kita apa datang kesini." jawab wanita itu percaya diri.


"Darimana kalian dapat foto-foto itu?"


Wanita itu tertawa. "Enggak sulit buat kita. Kita itu satu perkumpulan yang terorganisir. Hampir seluruh bar yang ada di kota ini adalah kekuasaan kita." ucapnya percaya diri.


Clara menatap wanita itu. Ia terlihat pintar. Clara menatap kedua pria disampingnya. "Saya cuma mau ngomong sama ibu ini aja. Kalian bisa keluar sekarang." ucap Clara tajam. Ia tidak menyangka seorang pria desa yang ia tahu adalah seorang preman yang diorganisir untuk mendapatkan mangsa. Ia pikir mereka bodoh.


Kedua pria itu keluar setelah diberikan arahan oleh wanita itu. Sekarang tinggal mereka berdua. Clara berdiri dari duduknya dan menghampirinya untuk duduk di sofa. "Mau kamu apa? Berapa?"


"Saya suka kalo kamu langsung to the point." ucapnya bersemangat.


"Asal nama baik saya kembali, dan tarik semua berita mengenai saya." ucap Clara tegas.


"Itu bisa diatur. Sekarang kita ngobrol harga." ucap wanita itu.


"Berapa yang kamu minta?" tanya Clara cepat.


Wanita itu mengangkat kelima jarinya. Ia tersenyum pada Clara.


"5 milyar?" tanya Clara.


"No.. no.. 50 milyar dalam bentuk uang pecahan 100." ucap wanita itu.


"50 milyar? Saya dapat uang dari mana? Itu terlalu banyak!" teriak Clara. Ia mengatakan itu untuk membuat CCTV dapat merekam suaranya dengan jelas.


Wanita itu tertawa. "Perusahaan yang mempunyai beberapa resort di luar negeri dan hotel didalam negeri aneh kalo ngomong 50 milyar itu banyak." ucapnya.


Clara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kemana?" tanya Clara kemudian


"Nanti saya kirim alamatnya. Jangan bawa orang lain kecuali kamu sendiri. Kalau enggak, kamu tau sendiri kalo orang saya banyak.." ancam wanita itu.


"Oke." jawab Clara.


Sudah tiga hari kantornya dikepung media. Beberapa kali ia mengatakan jika ia bukanlah publik figur. Ia bukanlah artis ataupun aktris. Ia tidak terlibat sebuah drama atau sinetron. Ia bukan penyanyi ataupun MC. Tapi karena pemberitaan artis sepi akhir-akhir ini, namanya terus di blow up media. Ruang geraknya tidak sebebas dulu.


Ketika sampai di kantor Sakti, disana sudah terlihat beberapa tamu dengan baju seragam kepolisian. Ia melihat didalam ruangan pria itu terdapat alat sadap canggih yang pernah ia lihat di televisi.


"Om." panggil Clara.


Sakti dan beberapa orang polisi menoleh padanya.


"Clara, kenalkan. Ini polisi yang saat ini sedang memeriksa kasus kamu." ucap Sakti.


"Kasus yang mana om?" tanya Clara bingung. Kasusnya saat ini ada dua yang berhubungan dengan kepolisian. Pertama Desy, dan kedua adalah ketiga orang itu.


"Wanita yang kamu temui barusan adalah mucikari terkenal selebritis. Pelanggannya kebanyakan pejabat. Ia biasanya mengambil anak-anak dibawah umur di tempat kami dulu ditemukan. Bapak-bapak polisi ini sudah mengenal mereka. Kedua pria itu residivis atas kasus penjualan manusia." jelas Sakti.


Clara duduk diantara ke empat orang itu. "Pantas, mereka terkenal. Mereka berkuasa disemua bar."


"Wanita itu beberapa kali lolos dari pantauan kami. Beberapa kali ia terlibat kasus perdagangan gadis dibawah umur, tapi ia tidak pernah diadili." ucap salah seorang polisi.


Clara mengangguk mengerti. "Jadi rencana kita gimana pa? jujur saya takut. Saya gak pernah terlibat hal seperti ini."


"Ibu Clara tenang saja. Kediaman dan kantor ibu sudah kami awasi. Ibu hanya menunggu aba-aba dari kami " ucap mereka.


Alena melihat televisi yang masih menyiarkan berita tentang Clara. Ia menatap Dave yang baru saja tiba. Ia menutup pintu kamar dan menghampirinya.


"Gimana? Masih kabar tentang Clara?" tanya Dave.


"Aku cemas sama Clara. Aku juga cemas sama Edward. Kenapa Clara harus mengalami kejadian seperti ini?" tanya Alena sedih.


"Aku juga cemas sama mereka. Kita tau itu foto lama. Nenek gak bisa berbuat banyak. Kita percayakan aja sama Om Sakti." jawab Dave sambil memegang tangan Alena.


Alena menonton televisi kembali. Ia menggelengkan kepalanya. Setiap foto yang ditayangkan membuatnya menggelengkan kepalanya. Clara benar-benar diluar kendali ketika dengan ayahnya. Ia tidak menyalahkan ayahnya. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mau mencari keberadaan ayah dan adiknya saat itu. Jika saja ia bertemu dengan Clara lebih cepat, ia bisa meminimalisasi apa yang sudah terjadi.