Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Panik



Desy mendapatkan panggilan dari Adriana ketika ia sedang melakukan rapat direksi. Di hadapannya Sakti sedang menatapnya dengan serius. Ia tidak menyangkan jika Sakti bisa meyakinkan beberapa orang direksi untuk mengusirnya dari perusahaan suaminya. Tidak ada yang bisa menghentikan jalannya untuk mendapatkan perusahaan. Mengapa Sakti begitu ngotot menginginkan perusahaan ini? Apakah anak dari suaminya yang lain? Tapi setahunya anak itu tidak pernah muncul sekalipun  ketika ayahnya meninggal.


Panggilan dari Adriana terus mengganggunya. Iapun berdiri dan menerima telepon di luar. Ia menutup pintu ruang rapat.


"Ada apa sih Adri? Mama sedang rapat." jawab Desy pelan.


Terdengar nada panik Adriana. "Ma, ma, Clara masih hidup."


Desy terkejut luar biasa. Kakinya seakan tidak sanggup menopang tubuhnya. Ia mundur ke belakang dan menyandar di tembok. "Kamu liat dimana?' tanyanya nanar.


"Di kantor Edward ma, dia kerja jadi pegawai Edward."


"Kamu tenang dulu sayang, kamu dimana sekarang?"tanya Desy mencoba menenangkan diri.


"Aku dijalan mau pulang. Mungkin nyampe 2 jam lagi. Aku takut ma, gimana kalo Clara datang buat balas dendam sama kita? Aku takut di penjara." isak Adriana.


"Enggak akan Adri, kamu tenang. Nanti kalo beres meeting, mama langsung pulang." jawab Desy.


Sakti sedang menjelaskan kerugian yang dialami beberapa perusahaan dan ada aliran uang yang patut dicurigai. Ia memberikan bukti-bukti selama Desy tidak ada.


"Kita harus mencari anak dari Aditya asli. Karena investor akan menarik diri jika anak Aditya tidak muncul." ucap Sakti.


"Bukannya Clara sudah meninggal? Desy pernah mengatakannya."


Sakti dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Enggak. Clara dan kakaknya Alena akan kembali." jawab Sakti puas.


Tiba-tiba pintu terbuka, Desy datang dengan wajah pucatnya. Sakti hanya tersenyum ringan. Ia sudah tahu apa yang terjadi. Mungkin Clara sudah muncul dan itu membuat Desy panik.


"Bisa kamu jelaskan, aliran uang dengan pembelian ini?" tanya salah seorang direksi.


Desy mengambil kertas itu dengan tangan bergetar. Ia melihat isi kertas itu. Ternyata hanya sebuah bon kosong dengan nominal uang miliaran. Kenapa ia begitu bodoh?


"Saya bisa jelaskan. Kasih saya waktu 3 hari." jawab Desy dengan terbata-bata. Ia mengambil gelas berisi air putih untuk menghilangkan ketegangannya.


Alena terus menggenggam tangan Clara. Sudah dua jam Clara tidak sadar. Ia ketakutan. Ia memang seorang dokter, tapi melihat saudaranya seperti ini, ia bingung. Semua peralatan medis sudah ia gunakan. Ia akan menunggu sampai Clara sadar.


"Jadi perempuan yang bikin Edward kacau waktu itu ternyata Clara? Dan Clara adalah adik Alena? Kenapa mesti kebetulan?" tanya Calvin bingung.


Dave mengangguk. Ia sesekali berdiri untuk melihat situasi Alena. Alena begitu panik sampai belum makan sejak tadi. Ia khawatir pada kesehatannya.


"Dan ternyata Adriana itu adalah orang yang udah bikin Clara menderita. Kamu sadar gak sih semua kebetulan ini? Kita gak pernah sadar kalo perusahaan mamanya Adriana adalah perusahaan papanya Alena?"


"Aku gak akan diem. Kalo ada satu helai rambut Alena yang lepas gara-gara mereka, aku gak akan tinggal diem."


Tiba-tiba pintu terbuka dengan kencang. Dega masuk diikuti Edward. Wajah Edward terlihat tegang.


"Gimana Clara?"


"Belum sadar. Ada Alena diatas." jawab Dave. Ia menatap Edward.


Dega berjalan ke kamar Clara sedangkan Edward duduk. Padahal ia ingin melihat Clara secara langsung.


"Ed.." panggil Dave.


Edward menatap Dave. "Aku yang salah karena tadi aku marah-marah sama Clara."


"Ed, dimana kamu kenal Adriana?" tanya Dave.


"Dia datang ke kantor karena dia pakai perusahaan aku buat renov hotel papanya." jawab Edward. "Kenapa gak ada yang kasih tau aku, sebenernya ada apa? Kenapa cuma aku yang gak tau? Siapa Clara sama Adriana? Apa hubungannya?" Ia merasa frustasi mendapat kenyataan jika ialah yang terakhir mengetahui kejadian yang menimpa Clara.


"Clara itu adiknya Alena. Dan Adriana itu kakak tiri Clara. Jelas?" tanya Dave.


"Aku mau tau semuanya" jawab Calvin kesal.


"Oke, jadi waktu papanya baru meninggal, Clara bisa dibilang dihilangkan sama Desy atau mamanya pacar kamu itu karena ingin menguasai kekayaan papanya. Menurut Sakti, pengacara keluarga Clara, ada kemungkinan kematian papanya juga ada hubungannya sama Desy."


"Dihilangkan?"tanya Edward bingung.


"Ya, dibuang dalam keadaan tidak sadar. Kalo kamu tau gimana cara aku dan Alena temuin dia, kamu menyesal udah jahat sama Clara. Dia ditemukan hampir tanpa nyawa. Seluruh tubuhnya banyak siksaan. Wajahnya sampai hampir gak dikenali. Dan itu sudah kurang lebih 3 bulan dia menghilang." jelas Dave.


"Pantesan aku sewa detektif hasilnya nihil." jawab Edward.


"Kamu sewa detektif?"tanya Calvin terkejut. Ia tidak tahu Edward melakukannya.


"Ya, aku frustasi ditinggalin Clara waktu di Phuket. Aku pikir dia memang sengaja tinggalin aku."


"Menurut Sakti, dia jemput Clara di phuket karena saat itu papanya kritis. Ketika sampai dirumah sakit, ia gak sempat melihat papanya. Itu kemungkinan dia tinggalin kamu." jelas Dave.


"Uh, bener-bener kasian. Dia terlalu berat menjalani hidup." ucap Calvin.


Edward menatap nanar kedua sahabatnya. Tidak pernah ada rasa penyesalan terbesar dalam hidupnya kecuali hari ini. Ia menunduk dan memegang kepalanya. Ia menyesal. Benar-benar menyesal. Seandainya ia tahu apa yang terjadi pada Clara saat itu, ia pasti terus ada disampingnya. Ia tidak mungkin membiarkan Clara disakiti oleh siapapun. Edward menutup wajahnya. Ia menangis membayangkan Clara berjuang sendiri ketika ia dihilangkan oleh kedua orang itu. Betapa jahatnya mereka. Edward mengepalkan tangannya karena marah.